Thursday, March 17, 2016

YADNYA SESA - MESAIBAN atau NGEJOT DAN DOA atau MANTRANYA

Ngejot (Yadnya Sesa Setelah selesai masak di dapur)
Tujuannya mesaiban yaitu sebagai wujud syukur atas apa yang di berikan Hyang Widhi kepada kita.
Di Dapur
Di Tempat Beras

Doa : Om Sri Dewya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai penguasa Amertha, hamba bersujud pada-Mu.
Di Kompor / Tungku
Doa : Om Sang Hyang Tri Agni Ya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Agni, sebagai penguasa penerang dalam kegelapan, sebagai sumber energi bagi kehidupan, hamba bersujud pada-Mu.
Di Tempat Air
Doa : Om Gangga Dewya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Dewi Gangga, hamba bersujud pada-Mu.
Di Pelangkiran
Doa : Om Om Dewa Datta Ya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Purusa Predana, sebagai sumber dari kehidupan, hamba bersujud pada-Mu.
Di Sumur
Doa : Om Ung Wisnu Ya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Wisnu, penguasa Air kehidupan, hamba bersujud pada-Mu.
Di Merajan
- Kemulan
Doa : Om Ang, Ung, Mang Paduka Guru Ya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Wijaksara Ang-Ung-Mang atau Tri Guru, hamba bersujud pada-Mu.
-Taksu
Doa : Om Ang, Ung, Mang Paduka Guru Ya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Wijaksara Ang-Ung-Mang atau Tri Guru, hamba bersujud pada-Mu.
-Sri Sedana
Doa : Om Kuwera Dewa Ya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Sang Hyang Kuwera, sebagai penguasa kekayaan, hamba bersujud pada-Mu
-Tugu Capah
Doa : Om Sang Hyang Durga Maya Ya Namah
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Durgamaya sebagai saktinya Siwa, penguasa atau dari Butha Kala, hamba bersujud kepada-Mu.
-Penglurah
Doa : Om Anglurah Agung Bhagawan Penyarikan Ya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Anglurah sebagai perantara bagi Sang Anembah dengan Sang Kasembah, hamba bersujud kepada-Mu.
-Tugu Penunggun Karang
Doa : Om Ang, Ung, Mang Paduka Guru Ya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Wijaksara Ang-Ung-Mang atau Tri Guru, hamba bersujud pada-Mu.
-Pengijeng
Doa : Om Sang Hyang Indra Blaka Ya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud sebagai penguasa alam, hamba bersujud pada-Mu.
-Pengadang-adang
Doa : Om Sang Maha Kala, Nandikala Boktya Namah
Arti : Ya Tuhan, Nandi Kala sebagai penjaga pintu masuk, hamba menghaturkan persembahan semoga berkenan.
-Pintu Masuk
Doa : Om Sang Hana Dora Kala Ya Namah
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Dorakala, hamba bersujud kepada-Mu.
-Tempat Ari-Ari
Doa : Ih, Anta, Preta, Bhuta, Kala Dengen, Ya Namah
Arti : Ya Anta, Preta. Butha, Kala Dengen hamba bersujud pada-Mu.
Suksme ..kiranglangkung ampure..domogi bermanfaat...rahayu.

Wednesday, February 24, 2016

Desa Penglipuran-Bali Termasuk 3 Desa Paling Bersih di Dunia

nyamenusanet.blogspot.com - Sebenarnya setiap orang pasti juga pengen tinggal di lingkungan yang bersih dan bebas sampah. Tapi sayangnya sebagian orang masih susah untuk diajak disiplin dalam menjaga kebersihan. Masih saja banyak yang suka buang sampah di sembarang tempat.

Masalah kebersihan itu memang bukan cuma menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tapi juga setiap orang yang tinggal di daerah tersebut. Dengan kerjasama dan tanggung jawab yang baik dari masyarakat serta pemerintah, maka desa yang bersih bebas sampah sebenarnya bisa tercipta. Seperti beberapa desa berikut ini.

Desa Giethoorn
Desa Giethoorn terletak di Overijssel, Belanda. Desa ini bebas kendaraan bermotor dan bahkan bisa dibilang nyaris tanpa jalan raya. Yang ada hanyalah kanal-kanal dan jalanan kecil untuk pejalan kaki. Di desa ini, akses transportasi yang utama adalah sebuah kanal sepanjang 4 kilometer.

Desa Giethoorn [Image Source]

Desa Giethoorn dihuni oleh kurang lebih 2.620 orang. Lingkungannya yang bersih, asri dan rindang membuat banyak wisatawan berkunjung ke desa ini. Bahkan, Giethoorn mendapatkan julukan sebagai ‘Venesia dari Belanda’ dan menjadi salah satu tempat wisata terpopuler di Belanda.

Desa Mawlynnong
India tidak selamanya kotor dan penuh polusi seperti yang sering digambarkan. Buktinya, desa Mawlynnong Meghalaya justru berhasil mendapatkan predikat sebagai desa paling bersih di dunia. Tanaman dan bunga-bunga tumbuh subur dan bersih di sekitar desa serta tidak tampah sampah mengotori jalan-jalan di desa.

Desa Mawlynnong [Image Source]

Tempat sampah yang terbuat dari bambu tersedia di setiap sudut jalan. Selain itu ada peringatan berukuran besar yang melarang masyarakat untuk membuang sampah sembarangan. Para relawan dan warga juga rajin menyapu jalan secara rutin sehingga desa berpenduduk 500 orang itu selalu bersih.

Ternyata, budaya hidup bersih sudah diterapkan sejak 130 tahun silam di desa tersebut ketika wabah kolera melanda. Seorang pendeta mengatakan pada nenek moyang para warga bahwa menjaga kebersihan badan, makanan, rumah, dan lingkungan bisa melindungi diri mereka dari kolera. Sejak itulah mereka benar-benar menjaga kebersihan dan bahkan melarang wisatawan datang ke wilayah mereka. Barulah pada tahun 2003 larangan tersebut dihapus.

Desa Penglipuran
Kebanyakan tempat indah dan cantik di Indonesia, kalau sudah jadi tempat wisata biasanya akan berubah jadi kotor gara-gara pengunjung yang tidak bisa menjaga kebersihan. Tapi, berbeda dengan desa Penglipuran yang ada di Bali. Desa kecil ini menjadi tempat favorit para wisatawan karena tempatnya yang bersih, indah, dan kehidupan tradisional yang terjaga.

Desa Penglipuran [Image Source]

Ada sekitar 200 rumah bergaya tradisional di desa Penglipuran yang berderet rapi di jalanan menanjak. Jalanan dibuat dari batu alam dan banyak tumbuh bunga warna-warni di sekitar desa tersebut. Motor dan mobil juga dilarang masuk ke dalam wilayah desa sehingga Penglipuran bebas dari asap knalpot.

Sebenarnya yang mendapatkan manfaat dari lingkungan yang bersih adalah diri kita sendiri. Namun kebanyakan orang sulit sekali menerapkan disiplin untuk menjaga kebersihan ini dan tidak mau repot membuang sampah di tempat yang sudah ditentukan. Padahal dengan lingkungan yang bersih, masyarakat juga bisa hidup dengan lebih sehat. Jadi, kenapa masih banyak alasan untuk tidak menjaga kebersihan?

Mau jalan-jalan ke Desa Penglipuran? agar simple gunakan jasa kami Menyewakan Sepeda Motor Metic area Denpasar. Sms atau Telp --> deal harga --> motor kami antar --> selamat jalan-jalan. have a nice time for holiday in bali coy.

Sumber : http://boombastis.com/desa-paling-bersih/61003

Sunday, January 24, 2016

Makna dan Jenis Kulkul di bali Sebagai Alat Komunikasi Tradisional

Kulkul Bali
Nyamenusanet.blogspot.com - Kulkul adalah alat komunikasi tradisional masyarakat Bali, berupa alat bunyian yang umumnya terbuat dari kayu atau bambu, dan benda peninggalan para leluhur. Di setiap organisasi tradisional di Bali, terdapat setidaknya sebuah kulkul. Selain di Bali, Kulkul yang lazimnya disebut dengan kentongan, terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia. Untuk itu, kulkul dijadikan alat komunikasi tradisional oleh masyarakat Indonesia.

Pada zaman Jawa-Hindu, kulkul disebut ’Slit-drum’ yaitu berupa tabuhan dengan lubang memanjang yang terbuat dari bahan perunggu. Pada masyarakat Bali, istilah kulkul ditemukan dalam syair Jawa-Hindu Sufamala. Beberapa lontar Bali, juga menyebutkan keberadaan kulkul seperti Awig-awig Desa Sarwaada, MarkaNdeya Purana, dan Diwa Karma. Keempat naskah kuno Bali ini, mengungkapkan pentingnya kayu, yang bermakna pikiran dalam kehidupan manusia, yang biasa disebut dengan kulkul. Kayu adalah bahan dasar dari kulkul yang erat hubungannya dengan manusia. Pada masa pemerintahan Belanda di Indonesia, kulkul lebih dikenal dengan nama ’Tongtong’.

Untuk menyebutkan suatu keadaan, umat Hindu Bali menggunakan istilah "ala ayuning dewasa" artinya dewasa yang baik dan dewasa yang kurang baik. Kedua hal ini sulit dipisahkan bahkan selalu berdampingan. Demikian pula dalam pembuatan sebuah kulkul dari kayu biasa menjadi sebuah alat bunyian bernilai sakral dan keramat, harus mengalami pemrosesan yang cukup panjang. Dimulai dari mencari bahan, menebang kayu sampai kepada proses pembuatannya harus melalui serentetan upacara. Para pembuat kulkul harus melakukan tahap-tahap upacara guna mencari dewasa yang baik dan menghindari dewasa yang kurang baik, dari awal hingga akhir pembuatan kulkul. Sampai kepada tahap melepaskan sebuah kulkul juga harus melalui sebuah upacara. Apabila tahapan upacara sudah dilaksanakan maka kulkul telah memiliki kekuatan magis dan dianggap sebagai benda suci serta keramat.

Bagi masyarakat Bali, kulkul mempunyai nilai yang sakral. Nilai sakral sebuah kulkul ini didukung sepenuhnya oleh agama Hindu Bali yang diyakini masyarakat Bali secara umum. Nilai sakral tersebut terutama berada pada kulkul yang tersimpan di Pura-pura besar di Bali yang dianggap sebagai wujud nyata beryadnya sehingga apabila terjadi penyimpangan dalam penggunaannya maka segera upacara penyucian dilakukan. Oleh karena itu kulkul diletakkan pada sebuah bangunan yang disebut ’Bale Kulkul’, tepatnya digantungkan pada sudut depan pekarangan pura atau banjar.

Secara teknis, kulkul terbuat dari seruas bambu berukuran cukup besar, yang mana kedua belah buku ruasnya dilubangi, dan sepanjang badan bambu itu dibuat lubang memanjang. Adakalanya kulkul dibuat dengan dua alur lubang yang sejajar, satu lubang besar, dan satu lubang yang lebih kecil. Ada pula yang terbuat dari dari potongan kayu, panjangnya kira-kira satu sampai dua meter, dikorek pula sepanjang badannya untuk membuat lubang memanjang, dan bagian dalamnya dibuat menggerongong. Kedua ujungnya ditutup atau tertutup oleh karena pengorekan bagian dalam kayu tersebut dijaga agar tidak sampai menembus kedua bagian ujungnya.

Kulkul mempunyai fungsi yang berkaitan erat dengan kegiatan banjar. Berikut merupakan beberapa fungsi dari kulkul:

Tanda Pertemuan Rutin
Masyarakat Bali biasanya melakukan pertemuan rutin sebulan sekali pada setiap banjar. Menjelang hari pertemuan, terlebih dahulu kulkul dipukul dengan sebuah alat pemukul dari kayu. Suara kulkul akan terdengar sampai ke pelosok banjar. Suara tersebut merupakan panggilan kepada warga untuk segera berkumpul di tempat yang sudah disepakati bersama.

Tanda Pengerahan Tenaga Kerja
Selain sebagai tanda pertemuan, bunyi kulkul juga mengandung arti untuk pengerahan tenaga kerja. Pengerahan tenaga kerja tersebut ada yang sudah direncanakan, dan ada pula yang sifatnya mendadak. Bentuk pengerahan tenaga kerja yang sudah direncanakan contohnya gotong royong membersihkan desa, mempersiapkan upacara di pura bagi masyarakat Bali, dan mencuci barang-barang suci. Pengerahan warga diawali dengan terdengarnya suara kulkul. Segera, setelah warga berkumpul, mereka secara bersama-sama melakukan aktivitas membersihkan desa. Sedangkan contoh pengerahan tenaga kerja yang sifatnya mendadak, umumnya seperti menanggulangi kejadian yang tiba-tiba menimpa banjar. Kejadian itu dapat berupa kebakaran, banjir, orang mengamuk, dan pencuri. Bunyi kulkul terdengar cepat dan panjang sekaligus sebagai isyarat supaya warga segera datang atau berjaga-jaga karena ada bahaya mengancam.

Tanda Gejala Alam
Di samping sebagai tanda pertemuan rutin dan pengerahan tenaga kerja, kulkul seringkali digunakan ketika terjadi gejala alam seperti gerhana bulan yang akan disambut oleh seluruh banjar. Masyarakat Bali berkeyakinan bahwa gerhana bulan terjadi karena bulan dimangsa oleh Kalarau. Bunyi kulkul yang menggema di seluruh Bali akan menghilangkan konsentrasi Kalarau, sehingga ia akan melepaskan bulan kembali.

Ada empat jenis kulkul yang dikenal oleh masyarakat Bali yaitu Kulkul Dewa, Kulkul Bhuta, Kulkul Manusia, dan Kulkul Hiasan.

Kulkul Dewa
Kulkul Dewa adalah kulkul yang digunakan saat upacara Dewa Yadnya. Kulkul Dewa dibunyikan ketika memanggil para dewa. Ritme yang dibunyikan sangat lambat dengan dua nada yaitu ‘tung.... tit.... tung.... tit.... tung.... tit’ dan seterusnya.

Kulkul Bhuta
Kulkul Bhuta adalah kulkul yang digunakan saat upacara Bhuta Yadnya. Kulkul Bhuta dibunyikan apabila akan memanggil para Bhuta Kala guna menetralisir alam semesta sehingga keadaan alam menjadi aman dan tenteram.

Kulkul Manusa
Kulkul Manusa adalah kulkul yang digunakan untuk kegiatan manusia, baik itu rutin maupun mendadak. Kulkul Manusa terbagi atas tiga jenis yaitu Kulkul Tempekan, Kulkul Sekeha-sekeha, dan Kulkul Siskamling. Bunyi ritme kulkul manusa untuk kegiatan yang rutin ialah lambat dan pendek, sedangkan pada kegiatan mandadak, terdengar cepat dan panjang.

Kulkul Hiasan
Diberi nama kulkul hiasan karena kulkul ini diberi hiasan-hiasan untuk menambah keindahannya. Biasanya kulkul ini sering dijadikan oleh-oleh atau buah tangan. Para wisatawan yang datang ke pulau Bali menganggap kulkul sebagai sebuah barang antik.

Hampir seluruh kegiatan yang dilakukan masyarakat Bali mengikutsertakan kulkul. Bahkan, dalam upacara pemanggilan para Dewa, dimulai dengan membunyikan alat ini. Kulkul juga hampir selalu hadir dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Bali. Dalam acara pagelaran atau pertunjukan seni, mulai dari pertunjukkan Gamelan Anyar, Tektekan, sampai pada seni Karawitan, semuanya menggunakan kulkul sebagai pelengkap dari pertunjukan tersebut. Selanjutnya, kulkul juga digunakan dalam upacara-upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Bali. Salah satu upacara adat tersebut seperti upacara mesabatan biu atau yang dikenal pula dengan perang pisang, yaitu upacara untuk menunjukkan seorang pemuda telah memasuki usia akil balig dan telah menjadi dewasa. Selain itu, kulkul kerap kali digunakan dalam tradisi-tradisi masyarakat Bali, contohnya dalam tradisi ngoncang. Tradisi ngoncang merupakan tradisi memukul kulkul (kentongan) bambu keliling desa. Tujuan dari ritual 'ngoncang' adalah memanggil para leluhur yang telah diaben. Tradisi ngoncang ini merupakan tradisi turun-temurun yang dilakukan oleh para krama desa. Tradisi ini memakai sarana kentongan atau kulkul bambu dan dipukul sesuai irama yang telah diatur oleh anggota sekaa ngoncang. Belakangan, kulkul juga selalu hadir dalam setiap pembukaan atau peresmian acara, dan digunakan sebagai simbol bahwa acara tersebut telah resmi dibuka.

Jadi, sebuah kulkul dapat dikatakan bukan saja merupakan alat tradisional, melainkan suatu media komunikasi tradisional yang menjembatani komunikasi masyarakat Bali, baik antara manusia dengan Dewa, manusia dengan penguasa alam, maupun manusia dengan sesamanya. Selain itu, kulkul juga diyakini mampu membentuk rasa persatuan dan kesatuan di dalam kehidupan masyarakat Bali. Dengan demikian, peranan kulkul sebagai media komunikasi tradisional masyarakat Bali sangatlah besar. Kulkul berperan untuk menyampaikan simbol-simbol atau kode-kode yang dapat dimaknai secara langsung seperti ritme pukulan maupun nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya, seperti rasa persatuan dan kesatuan, kepada seluruh masyarakat Bali.
 
Sumber : http://beritabali.com/read/2011/07/11/201107020012/Kulkul-Alat-Komunikasi-Tradisional-Masyarakat-Bali.html

Tau Ga sih: Sejarah Pantai Pandawa dan Penampilannya Tahun 1978

Nyamenusanet.blogspot.com - Tau gak sih, Sebelum dikenal banyak orang seperti saat ini, Pantai Pandawa merupakan pantai tersembunyi, sehingga dijuluki "Secret Beach" atau pantai rahasia. Tidak ada yang membayangkan Secret Beach akan terpopules seperti saat ini dengan nama Pantai Pandawa.

Pantai Pandawa, terletah di Desa Kutuh, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Dibutuhkan waktu 30 perjalanan dari Denpasar Kota dengan Sepeda Motor dan 45 menit dengan kendaraan roda empat.

Tahun 1970 an, tak banyak orang yang tahu tentang keberadaan pantai ini. Hanya sebagian peselancar dan warga setempat yang datang ke sana.

Hal itu terjadi karena posisi pantai ini tersembunyi di balik tebing-tebing kapur raksasa. Warga setempat menjulukinya "Secret Beach". 

Karena punya potensi wisata besar, akhirnya pemerintah setempat pada tahun 2012, secara resmi membuka pantai itu untuk umum. Ada lima patung keluarga Pandawa dan satu patung ibu Pandawa, Dewi Kunti, yang berdiri di tebing di sisi kiri dari arah pintu masuk.

Ini Foto Sejarah Pantai Pandawa atau dulu di sebut Screat Beach :
sumber foto :sejarahbali.com/Pantai Pandawa 1978/Ketut Suyasa
 

Makna Setiap Bagian Yang Terkandung Dalam Canang Sari dan Sejarahnya di Bali

Canang Sari - Bali
Nyamenusanet.blogspot.com - Canang Sari merupakan upakāra (perlengkapan) keagamaan umat Hindu di Bali untuk persembahan tiap harinya. Persembahan ini dapat ditemui di berbagai Pura, tempat sembahyang kecil di rumah-umah, dan di jalan-jalan sebagai bagian dari sebuah persembahan yang lebih besar lagi. Dikutip dari berbagai bersumber menyebutkan bahwa canang sari merupakan ciptaan dari Mpu Sangkulputih yang menjadi sulinggih menggantikan Danghyang Rsi Markandeya di Pura Besakih.

Canang sari ini dalam persembahyangan penganut Hindu Bali adalah kuantitas terkecil namun inti (kanista=inti). Kenapa disebut terkecil namun inti, karena dalam setiap banten atau yadnya apa pun selalu berisi Canang Sari. Canang berasal dari kata “Can” yang berarti indah, sedangkan “Nang” berarti tujuan atau maksud (bhs. Kawi/Jawa Kuno), Sari berarti inti atau sumber. Dengan demikian Canang Sari bermakna untuk memohon kekuatan Widya kehadapan Sang Hyang Widhi beserta Prabhawa (manifestasi) Nya secara skala maupun niskala.

Unsur-unsur dari canang sari pun mempunyai makna dan simbolisme yaitu sebagai berikut:

1. Ceper, merupakan sebuah alas dari canang yang memiliki bentuk segi empat dan melambangkan angga-sarira (badan). Keempat sisi ceper melambangkan pembentuk angga-sarira, yaitu Panca Maha Bhuta, Panca Tan Mantra, Panca Buddhindriya, dan Panca Karmendriya. Canang yang dialasi ceper merupakan simbol Ardha Candra, sedangkan yang dialasi oleh tamas kecil merupakan simbol dari Windhu.

2. Beras (Wija/Pija), merupakan sebuah lambang Sang Hyang Ātma atau yang membuat badan mejadi hidup, melambangkan benih di awal kehidupan yang bersumber dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Ātma.

3. Porosan, biasanya terbuat dari daun sirih, kapur, dan jambe (gambir) yang melambangkan Tri-Premana, yang terdiri dari Bayu (perbuatan), Sabda (perkataan), dan Idep (pikiran).Ketiganya membuat tubuh yang bernyawa dapat melakukan aktivitas. Porosan juga melambangkan Trimurti, yaitu Siwa (kapur), Wisnu (sirih), dan Brahma (gambir). Porosan mempunyai makna bahwa setiap umat harus mempunyai hati (poros) penuh cinta dan welas asih serta rasa syukur yang mendalam kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

4. Jajan,Tebu & Pisang, ketiga itu merupakan simbol dari Tedong Ongkara yang melambangkan kekuatan Upetti, Stiti, dan Pralinan dalam kehidupan di alam semesta.

5. Sampian Uras / Duras, melambangkan roda kehidupan dengan astaa iswaryanya (“delapan karakteristik’) yang menyertai setiap kehidupan umat manusia.

6. Bunga, merupakan salah satu bagian yang membuat canang terlihat lebih menarik. Dan setiap warna dan peletakan bunga pada canang mempunyai makna atau melambangkan sesuatu.
  • Bunga berwarna Putih disusun di Timur sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Iswara.
  • Bunga berwarna Merah disusun di Selatan sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Brahma.
  • Bunga berwarna Kuning disusun di Barat sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Mahadewa.
  • Bunga berwarna Biru atau Hijau disusun di Utara sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Wisnu.
  • Kembang Rampai disusun ditengah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Panca Dewata.
7. Kembang Rampai, memiliki makna sebagai lambang kebijaksanaan. Bermacam-macam bungai ada yang harum dan ada yang tidak berbau, melambangkan kehidupan manusia tidak selamanya senang atau susah. Untuk itulah, dalam menata kehidupan, manusia hendaknya memiliki kebijaksanaan.

8. Lepa/ Boreh Miyik, merupakan lambang sebagai sikap dan perilaku yang baik. Perilaku menentukan penilaian masyarakat terhadap baik atau buruknya seseorang.

9. Minyak Wangi, melambangkan ketenangan jiwa atau pengendalian diri. Dalam menata kehidupan, manusia hendaknya hendaknya menjalankannya dengan ketenangan jiwa dan pengendalian diri yang baik.

Sumber : http://inputbali.com/sejarah-bali/sejarah-dan-makna-canang-sari-di-bali

Larangan Atau Pantangan Suami Pada Saat Istri Hamil Menurut Lontar Hindu-Bali

Nyamenusanet.blogspot.com - Setiap tempat selalu mempunyai tradisi atau kepercayaan tentang sebuah pantangan-pantangan. Khususnya dalam kepercayaan Hindu di Bali, jika istri sedang hamil ada beberapa pantangan bagi suami yang tidak boleh dilakukan. Berikut pantangan bagi para suami yang saat ini istrinya sedang hamil khususnya menurut Hindu di Bali.

Pantangan Hamil Secara Umum Pada umumnya pantangan yang tidak boleh dilakukan bagi suami yaitu :
1. Menjelekkan, menghina, merendahkan orang lain
2. Menyiksa binatang
3. Makan atau minum berlebihan apalagi sampai mabuk
4. Berjudi
5. Pantangan Hamil Dalam Kanda Pat Rare

Dalam ajaran Kanda Pat Rare juga dijelaskan pantangan yang tidak boleh dilakukan bagi suami yaitu : 1. Tidak membangunkan istri yang sedang tidur.
2. Tidak melangkahi (ngungkulin) istri yang sedang tidur
3. Pada saat istri yang sedang hamil itu lagi makan, dilarang anglawatin (membayangi dengan bayangan badan) terhadap nasi atau makanan yang sedang dimakannya.
Dalam ajaran kanda pat rare diyakini bahwa, perkembangan bayi berkaitan dengan penstanaan para dewa di tubuh bayi, demikian juga para leluhur mulai berhubungan dengan bayi anda. Sehingga untuk menghormati beliau yang sedang berhubungan dengan pembentukan bayi dalam kandungan, hendaknya suami menghormatinya dengan cara tidak melangkahi ataupun membangunkannya dengan mengkejutkan pada saat istri anda tidur.
Pantangan Hamil Dalam Lontar Eka Pertama

Dalam Lontar Eka Pertama juga dijelaskan hendaknya seorang suami melakukan swadharma agar menurunkan anak yang baik (dharma putra), yaitu tidak diperkenankan: 1. Membangun rumah
2. Memotong rambut
3. Menyelenggarakan pengangkatan anak
4. Membuat pagar rumah atau pagar ladang
5. Memperistri wanita lain
6. Selingkuh

Larangan-larangan berlaku bagi suami tersebut, konon merupakan petuah dari Bhatara Brahma yang disampaikan kepada Bhagawan Bergu.

Sedangkan yang sebaiknya dilakukan oleh para suami ketika istri sedang hamil menurut Bhuwana Kosa, Wrhaspati Tattwa, dan Mahabharata, adalah sebagai berikut : 1. Membuat perasaan istri tenang/ damai/ aman/ terlindungi
2. Melakukan derma (Drwya Yadnya – dana punia)
3. Rajin sembahyang, bersamadhi, bermeditasi
4. Membaca Mahabharata
5. Pada usia kehamilan 7 bulan, adakan upacara megedong-gedongan (kalau mungkin/ bisa) Kalau tidak, sembahyang biasa ditujukan kepada Bhatara Guru (Sanghyang Widhi) mohon keselamatan bayi dan ibunya.
6. Mengendalikan panca indria, bila mampu berpuasa setiap bulan purnama dan tilem.
Disamping itu, pada saat istri hamil, bila ia sedang makan, hendaknya jangan diajak bicara, apalagi diberi kata-kata kotor, kasar, keras yang membuatnya tersinggung dan sakit hati. Karena, Sang Hyang Urip sedang bersemayam pada orang yang sedang makan.

Itulah sebabnya kemudian muncul mitos yang mengatakan, tidak boleh membunuh orang yang sedang makan, walaupun dia seorang penjahat atau musuh sekalipun. Maka dari itu, bagi suami-istri agar semua pikiran, perkataan dan perbuatan, diarahkan pada ajaran-ajaran kebajikan (dharma), agar terhindar dari malapetaka, baik bagi mereka berdua, maupun anak yang dikandungnya.

Larangan Untuk Wanita Yang Hamil Jika dalam tradisi agama Hindu di Bali pada umumnya untuk wanita yang sedang mengandung tidak diperbolehkan untuk melakukan upacara mepandes atau potong gigi

Dasar acuannya: Lontar Catur Cuntaka. Penjelasan:

1. Mepandes adalah suatu upacara yang menyebabkan diri cuntaka.
Lamanya cuntaka, saat dia naik ke bale petatahan, selama metatah, dan sampai selesai, diakhiri dengan mabeakala. Setelah mabeakala barulah cuntakanya hilang. Prosesi itu memakan waktu antara 1-2 jam. Walaupun masa cuntaka itu singkat, tetap saja Ibu itu kena cuntaka.

2. Bayi atau jabang bayi yang ada dalam kandungan adalah roh suci yang patut dihormati, dipuja atas perkenan Sanghyang Widhi yang “mengijinkan” roh itu menjelma kembali menjadi manusia (walaupun masih berupa janin).

Jadi Ibu yang mengandung bayi yang suci, patut dihindarkan dari penyebab-penyebab cuntaka. Tidak hanya potong gigi saja, tetapi juga semua jenis cuntaka, misalnya: ngelayat orang mati, mengunjungi penganten (pawiwahan), memegang orang-orang sakit (sakit gede – lepra, aids dll).

Jadi demi keselamatan Ibu dan Bayi, sebaiknya upacara potong gigi itu ditunda sampai bayinya lahir dan sudah berusia lebih dari 3 bulan.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat. Jika terdapat penjelasan yang kurang lengkap atau kurang tepat. Mohon dikoreksi bersama.Suksma…


Sumber : http://inputbali.com/budaya-bali/pantangan-bagi-suami-yang-istrinya-hamil-menurut-hindu-bali

Saturday, December 19, 2015

Apa Saja Perubahan Orang Bali Akhir-Akhir ini??? Ini 10 Ulasan Dasarnya!

nyamenusanet.blogspot.com - Arus perubahan tidak bisa dihindari. Seperti masyarakat di daerah lain, Bali juga mengalami perubahan, dan itu terjadi sudah sejak dahulu. Hanya saja, perubahan masyarakat Bali beberapa tahun belakangan ini tergolong drastis.

Dahulu, Bali tergolong pulau agraris dimana sebagian besar masyarakatnya bertani dan berkebun. Lalu berubah menjadi pariwisata. Beberapa tahun belakangan ini, tidak lagi sekedar pariwisata, sudah bergeser menjadi multi-profesi dan multi-aktivitas.

Ada 2 faktor utama yang mendorong terjadinya perubahan drastis di Bali, belakangan ini, yaitu:
  • Pengaruh global; dan  
  • Pengaruh nasional

Di kancah dunia, Bali tergolong salah satu tujuan wisata favorit, sejak dahulu. Disamping keindahan panorama dan kelestarian budayanya, Bali juga terkenal dengan masyarakatnya yang rata-rata kreatif dan memiliki talenta seni—mulai dari seni tari, seni tabuh, lukis, pahat (ukir dan patung) hingga seni tattoo tubuh. Lengkap.



Saat ini, sudah banyak wisatawan yang tidak sekedar tertarik untuk menikmati indahnya Danau Batur atau melihat-lihat Gallery di Ubud, melainkan juga ingin menikmati kedamaian, bermukim dan menetap di Bali, sembari mengubah kreativitas masyarakat Bali—yang dahulunya hanya sebatas berkesenian—menjadi aktivitas bisnis.

Hubungan masyarakat Bali dengan masyarakat global saat ini tidak lagi sekedar ‘guide-dan-turis’ atau ‘seniman-dan-penikmat seni’, melainkan sudah berubah menjadi hubungan antara ‘bawahan-dan-atasan’ atau ‘pedagang-dan-pelanggan’ atau ‘pebisnis-dan-partner bisnis’. Tak sedikit juga yang berupa hubungan ‘pasien-dan-dokter’ atau ‘fotografer-dan-model’ atau ‘murid-dan-guru’, bahkan ‘tetangga-dan-tetangga ekspatriat’.

Perubahan frekwensi dan intensitas hubungan antara masyarakat Bali dan masyarakat global (baca: orang asing) yang kian meningkat, tidak sekedar melahirkan orang bule yang ‘ke-Bali-Balian’—dalam jumlah relative sedikit, melainkan juga melahirkan orang Bali ‘ke-bule-bule-an’ yang justru lebih banyak.

Sebagai bagian dari Indonesia, Bali juga mendapat pengaruh dari perubahan-perubahan yang terjadi di tingkat nasional—teknologi, komunikasi, ekonomi, politik hingga budaya. Perubahan dari era pemerintahan Soeharto (orde baru) ke era pemerintahan pasca-Soeharto (reformasi) misalnya, membawa pengaruh kuat bagi kehidupan sosial dan politik di Bali, yang pada akhirnya mendorong terjadinya perubahan dalam berbagai aspek.

Begitu banyak perubahan dalam masyarakat Bali belakangan ini. Ada perubahan yang menurut sebagian orang bisa jadi positive, ada juga yang negative. Ada perubahan yang menurut sebagian orang bisa jadi baik, ada juga yang tidak baik.

Pop Bali merangkum perubahan-perubahan tersebut, per 2013 ini, menjadi sepuluh perubahan yang paling drastis sehingga sangat terasa, dan layak untuk dicatat.

Inilah “10 Perubahan Paling Drastis Dalam Masyarakat Bali Per 2013”

1. Perubahan Mata Pencaharian


Sebelum era 70an, mata pencaharian masyarakat Bali lebih banyak sebagai petani dan sebagian kecilnya pedagang. Di era 80an, mata pencaharian mulai bergeser ke pegawai pariwisata (pegawai hotel, travel, guide, sopir travel, dlsb) dan pengerajin.

Belakangan ini, berbagai macam profesi di jalani oleh masyarakat Bali; mulai dari pedagang HP hingga pedagang narkoba, mulai dari pengusaha hotel hingga pengusaha café remang-remang, mulai dari calo tanah sampai calo perkara, mulai dari moderator talk show sampai key speaker seminar, mulai dari tukang parkir sampai tukang tagih (debt-collector).

Silahkan periksa status pekerjaan yang tercantum di KTP, berapa orang yang masih mencantumkan “petani”? Hanya ada di desa-desa sana, itupun mungkin jumlahnya sudah sangat sedikit.

2. Perubahan Aktivitas dan Etos Kerja


Dalam era dimana sebagian besar masyarakat berstatus petani, etos kerja masyarakat Bali mungkin terlihat lamban dan cenderung santai. Tentu saja, karena aktivitas bertani memang tidak bisa diburu-buru, semua memakai hitungan masa (misalnya: padi baru bisa dipanen setelah berusia 3 bulan, tidak bisa dipercepat).

Banyaknya waktu luang inilah yang membuat masyarakat Bali, di era itu, selalu punya waktu untuk aktivitas-aktivitas berkesenian dan melestarikan budaya (misalnya: mekekawin, megeguritan, megenjekan, megambel, menari, main arja, ngerindik, meniup seruling, membaca lontar, dlsb). Sehingga bagi orang di luar Bali, etos kerja masayarakt Bali pada saat itu dianggap santai.

Etos kerja masyarakat Bali saat ini sudah berubah drastis, menjadi super sibuk, “time-is-money” kata mereka. Perubahan ini tentu terjadi akibat perubahan mata pencaharian yang begitu drastis dan ledakan angkatan kerja yang mengakibatkan kempetisi menjadi begitu ketat. Libur sehari untuk menengok upacara keluarga misalnya, jatah antrean nyupir di halaman hotel sudah diambil-alih orang lain. Tutup kantor sekali, pelanggan sudah marah-marah.

Sehingga, hampir sudah tidak ada waktu lagi untuk ‘menyama-braya’. Melihat orang bertegur sapa di jalanan, saat ini, adalah kejadian langka, ajaib, atau malah dipandang aneh (“terlalu basa-basi, lebian tutur,” kata mereka), kecuali di desa-desa yang jauh di kaki bukit sana.

3. Perubahan Nama


Mungkin bisa diperdebatkan. Tetapi ini fakta bahwa perubahan penggunaan nama di kalangan masyarakat Bali, dewasa ini, tergolong drastis.

Generasi yang lahir sebelum tahun 70an masih banyak yang menggunakan nama yang menurut masyarakat di luar Bali, unik. Disebut unik karena benar-benar hanya ada di Bali. Misalnya: I Wayan Konten, I Made Simpen, I Gede Dokar, Ni Luh Pujut, Anak Agung Gede Raka, I Putu Danu, AA Putu Keramas, Ni Nyoman Ceraki.

Di Era 70-80, penamaan anak sudah mulai bergeser ke nasional, meniru nama artis ibu kota atau tokoh publik: I Gede Doni (aktor Doni Damara), I Kadek Toni (artis Toni Koeswoyo), Anak Agung Jhoni (aktor Jhoni Indo), Ida Ayu Mariana (artis Dina Mariana), I Putu Deni, I Kadek Edi, Putu Gede Budianto, dan lain sebagainya.

Sekarang, perubahan penamaan anak sangat drastis. Ada 2 trend yang paling menonjol menurut Pop Bali, yaitu:
nama yang mengarah ke ‘kebarat-baratan’ (mereka menyebutnya “international name”); atau
nama yang ‘ke-india-indiaan‘ (konon “kembali ke Hindu murni yang berpusat di India”)

Yang mungkin menjadi aneh bagi masyarakat di luar Bali—terutama yang pernah tinggal lama di Bali—adalah adanya kecenderungan untuk tidak menggunakan “I” atau “Ni” di depan nama, sehingga namanya menjadi: Made Joddie Sijatmika, Luh Cyntia Nugraha, Ayu Michelle Arianta, Putu Ambrose Kusuma, atau Nyoman Sri Siva Kemala Devi, Ida Bagus Krishna Aditama, Anak Agung Istri Vedayanti Uttari.

Yang tak kalah menariknya, dahulu banyak orang tua yang dipanggil dengan menggunakan nama si kecil (anaknya), misalnya: I Gede Batur yang punya anak perempuan Ni Ronji dipanggil “Pan Ronji”, dan istrinya dipanggil “Men Ronji”.

Sekarang kebalikannya; nama Ayah atau keluarga besar (biasanya yang paling terkenal) yang dijadikan nama belakang oleh si anak, atau nama suami yang dijadikan nama belakang oleh si Istri—layaknya ‘family name’ dalam budaya barat. Misalnya: Ayu Michelle Arianta di atas adalah puterinya yang terhormat bapak anggota dewan I Putu Arianta, SSos, MM. Dahulu Bali tidak mengenal istilah “nama keluarga (besar)”, sekarang kenal.

Ciri khas nama orang Bali, kini, nyaris tak berbekas kecuali Putu, Wayan, Made, Nyoman, Nengah, dan Ketut yang masih digunakan, itupun tanpa “I” atau “Ni” di depannya. Konon, menurut pendapat sebagian orang, “supaya kelak si anak siap menyongsong era globalisasi.” Semoga.

4. Perubahan Bahasa


Sepuluh tahun lalu kita masih sering mendengar percakapan, di warung-warung atau terminal, yang menggunakan bahasa Bali murni tanpa dicampur dengan bahas lain. Saat ini, sulit ditemukan. Satu-satunya wilayah dimana bahasa Bali cukup sering digunakan hanya di desa-desa, itupun sudah bercampur-campur, sejak siaran sinetron TV nasional mulai merambah hingga ke pelosok-pelosok. Sebagian besar masyarakat Bali sudah lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia.

Beruntung karena sampai saat ini sekolah masih mengajarkan bahasa Bali, meskipun dalam porsi waktu yang sangat minimal.

Disamping masalah efektifitas (berbahasa Bali konon “ribet”), banyak juga yang beralasan bahwa menggunakan bahasa Indonesia bisa meminimalkan kesalahan dalam menggunakan bahasa ‘sor-madia-singgih’.

5. Perubahan Busana


Dahulu, yang namanya ‘kamen’ (kain) adalah pakaian sehari-hari. Saat ini kamen hanya digunakan dalam acar-acara tertentu seperti: persembahyangan atau upacara dan upakara adat. Selebihnya, pria dan wanita Bali sudah seperti layaknya pria dan wanita modern—memakai celana panjang atau pendek.

Dahulu, pakaian adat Bali menggunakan pakem tertentu, setiap detail pakaian mengandung makna simbolis. Sekarang, pakaian pengantin pria Bali misalnya, sudah sulit dibedakan dengan pakaian adat Sumtera yang menggunakan ‘Baju Bodo’ atau boleronya Aziz Gagap di acara OVJ. Sudah jauh dari pakem aslinya.

Perubahan ini, tentu tak lepas dari proses industrilisasi secara umum—dimana makin cepat perubahan, makin pendek siklus, makin tinggi permintaan, makin banyak yang bisa diproduksi, makin banyak uang mengalir ke dalam rekening.

6. Perubahan Makanan dan Minuman


Selera makan orang Bali juga sudah banyak mengalami perubahan. Makanan khas Bali biasanya pedas, banyak merica dan rempah. Sekarang sudah tidak ada bedanya dengan masakan jawa atau padang, cenderung manis atau sedang. Itupun belum cukup bagi masyarakat Bali saat ini; dagang bakso dan soto selalu lebih ramai dibandingkan dagang nasi lawar atau siobak Buleleng. Ini jelas representasi dari pergeseran selera makanan.

Yang namanya ‘berem’, sudah langka. Selera minum orang Bali saat ini adalah beer atau wine. Dahulu orang Bali tak kenal yang namanya ‘kebab turki’ atau ‘sashimi’. Sekarang, gerai makanan cepat saji seperti ini telah menjamur dan selalu dipadati oleh masyarakat Bali.

7. Perubahan Gaya Hidup dan Pergaulan


Mata pencaharian dan profesi yang berubah juga berakibat pada perubahan gaya hidup. Aktivitas dan kehidupan masyarakat Bali di jaman dahulu yang lebih banyak berada di sekitar desa dan balai banjar kini sudah jauh bergeser.

Atu Aji, Gung Aji dan Pak De yang dahulu selalu punya waktu untuk mekekawin di balai Banjar, kini sudah lebih sering nongkrong di “Kudeta” atau “Blue Eyes”—untuk entertain relasi bisnis. Pak Wayan, Pak Made dan Pak Ketut yang dahulu sering main Arja sekarang sudah sibuk seminar ini-itu dan sosialiasi ini-itu, untuk menggalang simpati, suara dan dukungan pileg dan pilkada.

Atu Biyang dan Bik I Luh yang dahulu sering terlihat ‘nyait tamas’, kini lebih sering pergi ke pusat-pusat perbelanjaan, butiq atau SPA. Gus Tu, Gung De dan Yan Ajus yang dahulu rajin megambel sekarang sudah lebih sering track-trackan di lapangan Renon atau balapa mobil gelap di Bypass Ngurah Rai ala film “Fast and Furious”.

8. Perubahan Orientasi dan Pola Pikir


Ledakan pertumbuhan penduduk ditambah transmigran dari luar pulau, membuat kompetisi hidup di Bali menjadi semakin ketat. Diantara masalah-masalah hidup lainnya, survivalitas kini telah menjadi perioritas utama. Masyarakat Balipun tidak terkecuali.

Orang Bali dahulu, yang dikagumi oleh orang barat, menempatkan norma di atas segalanya, apa-apa menggunakan ukuran normatif, mereka memegang prinsip “lek” (malu, nggak enak), bahkan untuk mengambil sesuatu yang menjadi haknya sekalipun. Itu sebabnya orang asing senang dan percaya sepenuhnya dengan orang Bali. Bukan karena orang asingnya pelit atau memanfaatkan sifat pemalunya orang Bali jaman dahulu, melainkan karena sangat menghargai pola pikir dan orientasi orang Bali yang jauh dari ketamakan.

Orang Bali yang sekarang, cenderung pragmatis; kalau sudah urusan uang/harta tak ada istilah “lek”. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana para pedagang acung, di daerah wisata, yang kerap setengah memaksa turis untuk membeli barang dagangannya. Ada juga kasus dimana orang Bali yang dipercaya mengelola perusahaan oleh orang asing, mengambil-alih perusahaan tersebut karena namanya dipakai di dalam akte perusahaan. Contoh lainnya adalah penjualan barang-barang pusaka warisan leluhur, pencurian ‘pretima’, dan lain sebagainya.

Ada pergeseran pola pikir dan orientasi yang sangat drastis di Bali. Yang namanya ‘saling asah-asih-dan-asuh’, saat ini, hanya bisa di temukan di lontar-lontar atau acara ‘dharma wacana’ (kotbah), sulit kita temukan dalam pelaksanaan sehari-hari.

Ajakan “Lan dum pada mebedik” (=meskipun sedikit ayo kita bagi bersama) sudah kian jarang terdengar. Individualitis mendominasi kebersamaan. Keuntungan diri sendiri dan kelompok adalah segalanya. ‘Pang kuala untung’ (=yang penting untung), ‘pang kuala maan pis’ (yang penting dapat uang), ‘pang kuala menang’ (=yang penting menang), akhirnya ‘pang kuala misi kenehe’ (=yang penting segala ambisi keturutan).

Apa-apa yang penting untung. Apa-apa yang penting uang. Ketidaksanggupan ‘ngayah’ (gotong royong) misalnya, sekarang sudah bisa diganti dengan ‘dosa’ dalam bentuk uang, yang penting ‘nu maan susuk’ (=masih dapat selisih antara penghasilan dengan bayar denda). Kesibukan berupacara dan berupakara, saat ini, tidak harus mengundang banjar, sudah bisa digantikan oleh event organizer dan catering—yang penting punya uang.

Entah disadari atau tidak, kekaguman dan kepercayaan orang asing terhadap kesederhanaan pola pikir dan orientasi orang Bali saat ini, sudah jauh merosot dibandingkan dahulu. Dahulu, banyak orang asing yang mengadopsi orang Bali untuk dijadikan anak atau saudara, bahka sampai mewariskan harta bendanya. Sekarang? Jarang atau mungkin memang sudah tidak pernah ada lagi.

9. Perubahan Etika


Seiring dengan gaya hidup, orientasi, dan pola pikir, etikapun mengalami perubahan yang cukup drastis—baik dari ucapan maupun perilaku.

Figur seorang ‘guru’ (rupaka, pengajian dan wisesa) dahulu adalah sosok yang sangat dihormati di Bali, di dengarkan wejangan dan arahannya, dimanapun berada. Saat ini, sudah nyaris tanpa batas.

Guru Rupaka (ayah dan ibu) hanya terhormat bila mampu membelikan berbagai fasilitas yang diinginkan oleh anak. Guru Pengajian (guru sekolah) hanya disegani di lingkungan sekolah, di luar sekolah sudah tidak dianggap siapa-siapa. Guru Wisesa (pemerintah) hanya dihormati saat masih pegang stempel institusi—menjabat. Begitu tidak berkuasa, sudah tidak dihormati lagi.

Tentu degradasi etika ini bukan salah generasi muda semata. Bagaimanapun juga mereka banyak mencontoh perilaku sang guru. Anak-anak menjadi tidak mendengar ucapan orang tua karena acapkali ucapan ayah dan ibu tidak bisa dipegang, plin-plan dan membuat pengecualian-pengecualian untuk kenyamanan diri sendiri. Kebutuhan akan kehangatan orang tua digantikan dengan benda mati. Otonan sudah digantikan dengan hadiah pesta ulang tahun di cafe, mobil dan ticket berlibur.

Murid menjadi tak segan di luar sekolah karena para guru menempatkan anak didik bukan sebagai anak asuh, melainkan sebagai pelanggan yang membayar uang sekolah dalam jumlah tinggi.

10. Perubahan Agama


Bukan hanya bagian luar, perubahan drastis juga terjadi hingga ke bagian dalam, yaitu: agama.

Di kalangan orang Bali sendiri banyak yang mengkhawatirkan kemungkinan perubahan status Bali sebagai “pulau seribu Pura” sebentar lagi tinggal kenangan.

Ada 2 perubahan, dalam hal agama yang dianut oleh orang Bali, yang menonjol belakangan ini, yaitu:
Pertama, munculnya perbedaan sekte-sekte diantara penganut Hindu sendiri, yang kian tajam belakangan ini. Dahulu nyaris tak ada perbedaan sekte-sekte, yang ada hanya “Hindu Bali”. Kesadaran masyarakat Bali untuk konon “kembali ke Hindu murni” yang berpusat di India, justru menimbulkan sekte-sekte. Bahkan konon ada yang sampai tidak ‘mesebelan’ (berdukacita) ketika ada anggota keluarga beda sekte meninggal.
Kedua, adanya konversi orang Bali yang semula penganut Hindu ke non-Hindu yang juga massif terjadi di Bali. Konversi yang paling menonjol adalah dari Hindu ke Katolik dan Kristen. Konversi dari Hindu ke Islam pun belakangan ini juga kian meningkat—terutama melalui proses pernikahan.

Dahulu, bagi mereka yang ada di luar Bali, setiap orang yang menggunakan nama I Putu, I Gusti, Anak Agung, atau Ida Bagus, Ni Luh, Gusti Ayu, Agung Ayu, sudah pasti penganut Hindu. Saat ini? Belum tentu. Bali yang sekarang sudah sangat kompleks. Untuk melihat apa agama yang dianut oleh orang Bali masa kini, tidak cukup hanya mengetahui namanya, masih perlu melihat hal-hal lain, misalnya: apakah lengannya mengenakan benang ‘Tri Datu’ (gelang benang berwarna ‘merah-hitam-putih’)? Apakah pernah menggunakan ‘bija’ (bijih beras) di dahinya?

Itulah sepuluh perubahan paling drastis, dalam masyarakat Bali per 2013 ini, yang berhasil dirangkum dan dicatat oleh Pop Bali. Apakah itu perubahan positive atau negative? Apakah perlu dikoreksi atau tidak? Pop Bali hanya bisa membeberkan, anda pembaca (khususnya masyarakat Bali sendiri)-lah yang berhak menilai.

Sumber : http://popbali.com/10-perubahan-paling-drastis-dalam-masyarakat-bali-per-2013/

Tuesday, December 15, 2015

Dimana Jasa Raharja Dapat Uang Bayar Asuransi Kecelakaan?

www.nyamenusanet.blogspot.com - Pernah mendengar SWDKLLJ ??? coba bro2 semua perhatikan STNK kendaraan. Ketika kita membayar pajak kendaraan secara tidak langsung kita akan dikenai biaya SWDKLLJ. Trus SWDKLLJ itu apa ??? fungsinya buat apa ???



Yup, SWDKLLJ merupakan kepanjangan dari Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan. Nah dengan membayar SWDKLLJ setiap bayar pajak kendaraan, secara tidak langsung diri kita terdaftar ikut asuransi yang dikelola oleh perusahaan BUMN yang bernama Jasa Raharja (bukan Jaja Miharja loh hehehe…). Besarnya tarif SWDKLLJ tergantung dari jenis kendaraan. Untuk motor berkapasitas mesin 50 cc s.d. 250 cc akan dikenai tarif Rp35rb. Sedangkan untuk jenis sedan, jip dsb sebesar Rp143rb.

Manfaat yang diperoleh dari SWDKLLJ adalah kita mendapat perlindungan asuransi jika terjadi kecelakaan lalu lintas. Besarnya santunan yang diberikan oleh Jasa Raharja berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan RI No 36/PMK.010/2008 dan 37/PMK.010/2008 tanggal 26 Februari 2008 yakni :

- Meninggal Dunia, sebesar Rp25 juta
- Cacat Tetap (Maksimal), sebesar Rp25 juta
- Biaya Rawat (Maksimal), sebesar Rp10 juta
- Biaya Penguburan, sebesar Rp2 juta

Bagaimana cara memperoleh santunan ???

1. Menghubungi kantor Jasa Raharja terdekat.
2. Mengisi formulir pengajuan dengan melampirkan (laporan kecelakaan dari pihak kepolisian ato pihak berwenang, surat keterangan kesehatan dari dokter yang merawat/RS, KTP/identitas korban/ahli waris korban).
3. Jika korban luka2 maka dilampirkan kuitansi biaya perawatan & pengobatan yang asli sedangkan jika meninggal dunia maka diperlukan Kartu Keluarga ato Surat Nikah.
4. Hak santunan menjadi gugur jika pengajuan lebih dari 6 bulan sejak terjadinya musibah ato tidak dilakukan penagihan dalam waktu 3 bulan sejak hak santunan disetujui oleh Jasa Raharja.

Oh ya, santunan ini diberikan tidak hanya kepada seseorang / pengemudi tetapi juga berlaku kepada para penumpang yang ikut menjadi korban kecelakaan.

Jadi jangan telat

Friday, November 27, 2015

Tips Hebat Wisata Keliling Bali

Nyamenusanet.blogspot.com - Harus diakui, Bali dalam dua tahun belakangan ini sudah sangat komersial. Semua kebutuhan dan perlengkapan liburan di Bali bisa dibilang selangit harganya. Maklum, Bali memang sudah destinasi wisata dunia. Baik wisata perorangan maupun jenis wisata lainnya seperti MICE atau bisnis. Bahkan Bali sudah masuk destinasi favorit untuk menggelar acara pernikahan, baik bagi orang Indonesia dan luar negeri.

Di satu sisi, kita patut bangga memiliki pulau dewata nan menawan ini. Di satu sisi orang Indonesia sendiri agak kesulitan untuk menikmati Pulau Bali. Alasan keuangan adalah yang utama. Tiket pesawat dan transportasi sudah mahal, sulit menemukan tiket pesawat yang ramah dengan kantong. Tiket promo pun kadang masih dirasa mahal.

Tapi jangan berkecil hati. Masih banyak cara untuk menekan bujet saat liburan di Bali. Walau banyak uang tersedot ke harga tiket, kita masih bisa menekan bujet di kebutuhan lainnya. Menekan bujet ini tidak harus mengurangi kenikmatan liburan juga kok.

Berikut beberapa tips dari KompasTravel saat liburan ke Bali, terutama kota Denpasar dan sekitarnya.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Wisatawan di Pantai Seminyak, Bali, Minggu (6/4/2014).

Sewa motor Paling mahal dan sulit untuk jalan-jalan di Bali adalah transportasi. Bus umum belum ramah dengan para turis atau tamu. Taksi untuk jarak dalam kota pun mahal sekali dibanding kota Jakarta. Dari kawasan pantai Sanur ke pantai Kuta saja misalnya, bisa sampai Rp 200.000 sekali jalan. Apalagi mau keliling kota atau jalan antar kota. Bisa sampai sejuta lebih perhari. Belum lagi ketersediaannya tidak selalu ada di beberapa tempat tertentu.

Bus umum yang mudah adalah Sarbagita, semacam bus trans dalam kota Denpasar. Bus Sarbagita adalah opsi yang bagus dan menarik, murah juga. Namun bus ini tidak bisa mencapai ke kawasan wisata yang jauh atau pedalaman.

Sewa motor adalah pilihan yang paling tepat. Harga murah, rata rata Rp 100.000 - Rp 200.000 perhari dengan sistem lepas kunci atau membawa sendiri dengan jaminan KTP atau lainnya. Kadang kalau beruntung atau di kawasan non komersial bisa mendapat harga sewa motor lebih miring lagi, sekitar Rp 50.000 s.d 75.000 per hari. Ini info Sewa motor Murah di Bali.

Bagi yang jalan rombongan bisa sewa mobil. Agak jarang menemukan sewa mobil dengan sistem lepas kunci. Biasanya harus sewa sopir sekalian tapi belakangan makin banyak juga sewa mobil dengan sistem sewa kunci ini. Jatuhnya bisa murah kalau patungan.

KOMPAS/AYU SULISTYOWATI 

Ratusan wisatawan domestik dan asing menikmati pesona sekitar Pura Tanah Lot, Kabupaten Tabanan, Bali, awal Juni 2012. Obyek ini menjadi salah satu unggulan Pulau Dewata setelah Pantai Kuta di Kabupaten Badung karena letaknya juga berdekatan. Rona tenggelamnya matahari menjadi pemandangan tak terlupakan di Tanah Lot.

Hotel murah bukan berarti gaya backpacker Dulu hotel murah pasti diartikan gaya backpacker. Tinggal di dorm, kecil, berantakan, dan lain lain. Sekarang sudah tidak zaman. Hotel murah tidak harus hotel backpacker. Di Bali, hotel macam ini banyak di kawasan pantai Kuta. Kawasan pantai Sanur juga sudah mulai banyak hotel murah.

Dengan harga Rp 150.000 – Rp 300.000 sudah bisa dapat kamar dengan ber-AC dan terpenting adalah bersih. Tipsnya adalah rajin-rajinlah mencari informasi dan rekomendasi, pasti dapat. Banyak pelancong yang berani tanpa pemesanan, berputar-putar di kawasan Kuta dan bisa menemukan hotel murah.

Destinasi wisata gratis dan murah Berwisata itu tidak harus ke tempat yang mahal dan mewah. Kalau mau yang gratisan juga ada dan mudah. Yang pasti, pantai di Bali itu gratis. Keindahan pantai Bali itu tidak membosankan, bahkan ngangenin kalau kata orang. Selalu membuat kita ingin balik lagi, apalagi suasana senja. Romantis.

Banyak yang mengatakan Kuta membosankan, berubah ramai dan kotor, kebanyakan bule-nya atau umpatan lainnya. Faktanya, Kuta tetap pantai eksotis favorit banyak wisatawan. Rasanya belum ke Bali kalau belum ke Kuta.

Pura Besakih dan Tanah Lot misalnya, tiketnya masih di kisaran harga Rp 10.000 – Rp 20.000. Hanya beberapa yang mahal seperti Taman Safari atau taman Burung Bali yang tiketnya di atas Rp 100.000.


KOMPAS.COM/SRI LESTARI Nasi megibung, makanan khas Bali, berisi aneka lauk pauk dan sayuran.

Makan di kedai atau warung
Tips terakhir adalah makanlah di kedai atau warung biasa. Kedai macam ini banyak mudah ditemui di pinggir jalan. Hindari makan di kawasan wisata, biasanya mahal. Satu menu bisa sampai Rp 50.000 bahkan lebih.

Jalan saja sedikit keluar kawasan wisata, biasa ada kedai murah. Kalau makan di kedai biasanya sekitar Rp 20.000 – Rp 30.000. Kalau menu biasa saja juga bisa antara Rp 15.000 – Rp 20.000

Sumber : http://travel.kompas.com/read/2015/04/30/085616127/Tips.Hemat.Liburan.di.Bali.

Monday, November 16, 2015

Empat Obyek Wisata Nusa Penida yang Mulai Tersohor

nyamenusanet.blogspot.com - Di kawsan wisata Pulau Nusa Penida, Anda dapat menemukan pantai yang indah dan tempat lainnya yang masih murni yang berkonservasi untuk melindungi beberapa tanaman, burung, sekaligus penyu. Ketika menyelam di Pulau Nusa Penida, Anda akan cenderung melihat pelagis besar, seperti Manta Ray (Manta Birostris) di beberapa lokasi dan Mola Mola (Sunfish Kelautan). Jika lucky, Anda dapat melihat hiu paus disini.
Berikut adalah tempat plesiran di Nusa Penida:

1. Pasih Uug


image source: flickr.com

Pasih Uug berada di daerah Banjar Sompang, Desa Sakti tepatnya di Nusa Penida sebelah barat. Untuk menuju lokasi ini, harus mau melewati jalan setapak yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda. Akses jalan menuju salah satu objek liburan di Nusa Penida ini masih tergolong sulit dan susah karena belum semua jalan sudah diaspal.

2. Mata Air Temeling


image source: nusapenidamedia.com

Tempat liburan di Nusa Penida ini bertempat di Desa Batu Madeg. Untuk tiba di lokasi ini harus berjalan kaki sekitar 1 jam karena lokasi wisata ini berada di bawah tebing, harus melalui hutan yang dipenuhi dengan semak untuk bisa menuju mata air. Dari penuturan masyarakat setempat, tempat ini juga bernama Natural Swimming Tembeling. Di tempat ini diperbolehkan untuk berenang di Mata Air dan disarankan untuk berhati-hati karena ada sebuah kabar yang mengatakan bahwa mata air ini tidak mempunyai dasar.

3. Pantai Penida


image source: kunyar.wordpress.com

Pantai yang menjadi lokasi wisata favorit di Nusa Penida ini berlokasi di Desa Sakti, di kawasan Banjar, Penida. Disini punya pemandangan yang indah dengan pasir putihnya, ada juga sebuah pulau kecil di tengahnya yang diapit oleh dua bukit hijau, tempat ini sangat tepat untuk menghilangkan rasa penat dari kesibukan sehari-hari.

4. Pantai Atuh


image source: fototara.com

Objek wisata di Nusa Penida yang satu ini bernama Pantai Atuh yang berlokasi di daerah Banjar Pelilit, Desa Pejukutan, Bali. Untuk menuju Pantai Atuh harus dengan berjalan kaki kurang lebih 45 menit dengan menyusuri tegalan serta tebing bukit yang curam tetapi punya panorama yang indah. Pantai Atuh merupakan pantai yang dianugerahkan oleh Dewata kepada siapapun yang datang ke Bali. Pantai ini punya pasir putih yang indah dan sangat lembut sehingga pengunjung betah berada disini. Memang membutuhkan sedikit usaha untuk mencapai lokasi ini, tapi panorama dan keindahan Atuh yang jauh mempesona dapat membayar rasa lelah setelah berjalan jauh.

Sumber :  http://plesiryuk.com/objek-wisata-di-nusa-penida/wisata-alam-favorit-di-nusa-penida-bali