Monday, April 4, 2016

Kenapa Kematian Tidak Boleh Di Tangisi?

nyamenusanet.blogspot.com - Diakui atau tidak, banyak orang takut akan datangnya kematian. Lalu banyak orang yang bersedih karena kematian keluarga atau kenalan dekatnya. Yang takut menghadapi kematian karena merasa begitu banyak persoalan yang harus dia selesaikan jika belum mati. Sebaliknya yang ditinggal mati merasa kehilangan orang yang selama ini sangat dekat dan tentu semuanya hanya tinggal kenangan. Kenyataan yang sangat menyedihkan.

Di zaman Kali Yuga ini, menurut kitab Manawa Dharmasastra, kenyataan seperti itulah yang dijumpai, orang-orang yang bersedih dan mungkin pula menangis jika ada keluarganya yang meninggal dunia. Semuanya karena adanya keterikatan dalam kehidupan ini, padahal kita tahu bahwa hidup di dunia ini tak abadi. Semua mengalami ketidak-abadian.

Apakah salah jika kita bersedih karena kehilangan? Kitab Bhagavadgita II.14 menyatakan “Setiap hubungan kita dengan berbagai obyek (duniawi), menimbulkan dingin dan panas, kesenangan dan penderitaan. Semua ini datang dan pergi, dan tidak abadi. Hadapilah semua ini sebagai sesuatu fakta”.

Ngaben
Atman sendiri sebenarnya tidak terpengaruh oleh semua obyek duniawi ini, yang terpengaruh dan merasakannya adalah raga yang ditumpangi Atman. Raga inilah yang merasakan dingin dan panas, kesenangan dan penderitaan. Semua ini harus kita maklumi dan kita jalani sebagai sesuatu yang datang dan pergi. Kita harus bersikap tidak terikat kepada semua ilusi ini tetapi juga tidak menutup mata, bahkan harus kita hadapi dan rasakan semua itu sebagai dedikasi kita kepadaNya. Badan kita ini sebenarnya hanyalah sebuah alat yang dipakai sebagai sarana untuk mencari kebahagiaan yang sejati itu. Jika sudah waktunya untuk mengganti badan yang sudah usang, maka akan diganti dengan yang baru, sama seperti orang yang memakai baju baru mengganti baju lamanya yang sudah usang dan kotor dengan baju yang lebih bersih dan wangi.

Dalam kitab Sarasamuscaya juga dijelaskan tentang hakikat badan kasar atau stula sarira ini. “Tidak ada yang namanya pertemuan langgeng. Suatu saat bertemu, suatu saat tidak bertemu. Betapa tidak langgengnya itu. Pertemuan Anda dengan badan wadag anda inipun tidak langgeng pada hakikatnya. Tak usah pula menyebutkan yang lain-lainnya sebagai contoh, sedangkan dengan tangan, kaki dan anggota badan kita sendiri pun pada akhirnya akan berpisah pula.”

Maka tidak sepatutnya kita bersedih, karena kematian hanyalah sebuah siklus kehidupan yang wajib dilewati oleh setip manusia. Yang paling penting, bagaimana cara kita sebagai manusia agar tidak lagi memakai baju baru berulang-ulang. Namun cukup dengan badan yang halus itu, kita bisa mencapai yang namanya ketenangan abadi menyatu dengan Tuhan atau istilah yang populer saat ini Amor Ring Acintya.

Bagaimana melepaskan kesedihan dan keterikatan itu? Kitab Sarasamuscaya ada menyebutkan, semua kesedihan karena lekatnya keterikatan itu tidak usah dijadikan pikiran. Semakin itu dijadikan pikiran maka kesedihan tak akan pernah hilang. Kita tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan, karena semua itu hanya akan menimbulkan penderitaan. Dalam Bhagavadgita II.11 disebutkan, “Dikau bersedih hati untuk mereka yang seharusnya tidak perlu dikau risaukan, tetapi dikau bertutur seakan dikau amat bijaksana. Seseorang yang bijaksana tak pernah bersedih baik untuk yang hidup maupun untuk yang telah tiada.”
Wejangan Sri Kresna ini intinya adalah kesedihan itu berdasarkan kebodohan, karena hidup dan mati adalah permainan Hyang Maha Kuasa, padahal Atman kita tak akan pernah mati. Seseorang yang bijaksana akan terus berjalan dalam hidup ini dengan penuh dedikasi akan tugas-tugasnyanya tanpa peduli akan ilusi yang beraneka-ragam bentuknya yang selalu mencoba mencengkeram kita dengan berbagai cara yang baik maupun yang buruk, baik dengan jalan kekerasan maupun kasih-sayang. Di dunia ini tidak ada jalan mundur, yang ada hanyalah berjalan terus, apakah kita mau atau tidak.

Pada Bhagavatgita sloka II.15 dijelaskan: “Seseorang yang tenang dalam kesenangan dan penderitaan --tidak terusik oleh kedua-duanya -- ia hidup dalam suatu kehidupan yang tak pernah mati, hidup kekal abadi.” Jadi intinya adalah selama manusia masih bernafas di dunia ini, maka kematian itu akan selalu membututinya. Karena kematian merupakan salah satu hukum yang tidak bisa dihindari, apa lagi untuk dibeli, maka keterikatan itu harusnya dikurangi. (*)

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan pesan