Sunday, May 22, 2016

Efek Positif dan Negatif Mengkonsumsi Tape Singkong

nyamenusanet.blogspot.com - Tape adalah salah satu jenis olahan makanan asli khas Indonesia. Beberapa daerah yang terkenal dengan olahan tape adalah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan beberapa daerah lain. Tape merupakan makanan fermentasi yang dibuat dari makanan yang mengandung karbohidrat seperti singkong dan ketan. Nama tape didasarkan pada jenis bahan baku utama seperti tape singkong dan tape ketan. Tape banyak disukai oleh semua orang karena rasanya yang lembut, lezat, manis dan juga ada rasa khas yang tidak ditemukan dari makanan lain.

Karakteristik Tape
Tape adalah jenis makanan yang termasuk dalam makanan fermentasi. Tapi memiliki rasa yang sangat manis dan mengenyangkan. Selain itu tape mengandung alkohol karena telah diolah dengan proses fermentasi. Tapi akan dibuat dengan berbagai macam dasar metode yang sama namun pengemasan yang berbeda.

Tape singkong dari Jawa Barat akan dibuat dari bahan singkong dalam bentuk utuhan. Sementara tape singkong dari Bondowoso, Jawa Timur dibuat dalam bentuk potongan dan ditempatkan dalam tempat khusus seperti anyaman bambu.

Cara Pembuatan Tape SingkongTape menimbulkan rasa yang sangat khas karena dibuat dengan cara fermentasi yang melibatkan berbagai macam mikroorganisme. Cara pembuatan tape juga melibatkan ragi tape. Ragi tape memiliki bentuk bulat tipis seperti koin dan biasanya akan dihancurkan dalam proses pembuatan tape. Mikroorganisme yang ditemukan dalam ragi tape antara lain adalah Rhizopus sp, Amylomyces rouxii, Saccharomycopsis fibuligera, Bacillus sp, dan Pediococcus. Ragi tape biasanya akan bekerja lebih efektif apabila dijemur sebelum digunakan. Biasanya prosedur ini selalu dilakukan oleh pembuat tape.

Proses Kimia Produksi TapeSemua bahan tape baik berupa singkong maupun ketan harus dimasak terlebih dahulu. Setelah itu bahan yang akan digunakan sebaiknya didinginkan dan ditaburi dengan ragi tape. Semua bahan ini akan disimpan selama kurang lebih 2 hingga 3 hari dalam tempat yang hangat. Para pembuat tape biasanya akan membungkusnya dengan daun pisang yang bisa memberikan efek hangat. Jika dibiarkan selama 2 hingga 3 hari maka bahan tape akan menjadi tape yang lembut dan manis. Namun, apakah Anda tahu proses kimiawi dalam produksi tapi.

Ragi yang ditaburkan pada bahan tape sudah berisi berbagai jenis mikroorganimsme. Mikroorganisme ini akan memecah gula menjadi kelompok gula yang lebih kecil. Cara kerja ragi ini akan menghasilkan enzim amilolitik sehingga mampu membuat lapisan gula dalam bentuk yang lebih sederhana. Gula-gula yang dihasilkan oleh mikroorganisme ini akan dirubah menjadi bentuk alkohol yang membuat aroma tape harum dan rasa khas yang menyengat. Kadar alkohol yang dihasilkan oleh tape akan bergantung dari lama penyimpanan tape. Semakin lama disimpan maka akan semakin besar kadar alkohol yang dihasilkan.

Selama ini tape hanya dikenal sebagai makanan yang sangat khas. Tape banyak dijadikan sajian saat hari raya atau acara pertemuan keluarga. Tape menjadi hidangan pencuci mulut yang biasanya dimakan dengan makanan keripik atau emping. Banyak orang yang menghindari tape karena tidak senang dengan alkohol atau efek sesudah makan tape. Tapi, tahukah Anda, bahwa ternyata semua jenis tape memiliki banyak manfaat. Berikut ini manfaat tape singkong yang perlu Anda kenal.

1. Tape Menghangatkan BadanTape juga bisa meningkatkan kesehatan badan karena mengandung alkohol dalam kadar yang ringan. Orang yang merasa lemah dan badan yang kurang nyaman bisa mengkonsumsi tape untuk meningkatkan kondisi kesehatan badan. Tape akan membuat badan menjadi lebih hangat. Jenis tape yang sangat bermanfaat adalah seperti tape singkong. Tape ketan juga bisa memberikan manfaat ini namun khasiatnya kurang besar dibandingkan tape singkong.

2. Tape Membantu Tubuh Lebih BerenergiTape adalah makanan yang terbuat dari singkong atau ketan. Bahan ini adalah sumber karbohidrat yang sangat tinggi. Konsumsi tape akan memberikan efek yang sama seperti pada saat makan nasi atau jenis karbohidrat lain. Karbohidrat akan menjadi sumber energi yang sangat potensial untuk tubuh dan membantu pemecahan protein sehingga tubuh menjadi lebih bugar.

3. Tape Bisa Meningkatkan Manfaat SeksualDi beberapa daerah di Indonesia tape dimanfaatkan untuk meningkatkan nafus seksual. Bagi pasangan suami istri yang memiliki masalah gangguan fungsi seksual bisa menggunakan tape sebagai makanan terapi yang sangat baik. Tape mengandung sumber energi yang bisa meningkatkan gairah seksual secara bertahap.

4. Tape untuk Obat JerawatTape juga bisa menjadi salah satu obat yang sangat ampuh untuk jerawat. Tape bisa membantu tubuh dalam menetralisir racun yang menumpuk pada permukaan pori-pori kulit. Pori-pori yang banyak mengandung kotoran dan racun akan meningkatkan potensi jerawat. Untuk mendapatkan manfaat yang lebih baik maka Anda bisa menggantikan beberapa camilan yang digoreng dengan tape.

5. Tape untuk DietTape adalah makanan yang mengandung lemak yang rendah. Tapi tape mengandung karbohidrat yang cukup baik. Selain itu tape juga mengandung serat larut dalam air yang bisa membuat organ pencernaan menjadi lebih baik. Kondisi inilah yang membuat tape bisa menjadi obat untuk menurunkan berat badan secara alami.

6. Tape sebagai Sumber ProbiotikManfaat tape singkong selanjutnya yang tidak kalah penting adalah sebagai probiotik. Proses fermentasi yang melibatkan berbagai jenis mikroorganisme ternyata sangat baik untuk menghasilkan cairan probiotik. Kandungan air yang biasanya terdapat pada tape singkong maupun tape ketan bisa menjadi zat yang sangat ampuh untuk melawan bakteri yang jahat dalam saluran pencernaan. Selain itu tape akan berkhasiat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan mencegah racun.

7. Tape Meningkatkan Sistem Syaraf dan OtotSaat proses fermentasi tape maka berbagai proses kimiawi akan terjadi dengan cepat. Tanpa kita sadari ternyata proses fermentasi juga meningkatkan produksi tiamin yang berfungsi untuk meningkatkan sistem syaraf dan otot. Kondisi ini akan cepat kita rasakan karena setelah makan tape maka tubuh akan terasa lebih bertenaga dan peka.

8. Tape Meningkatkan Fungsi PencernaanTape bisa menjadi salah satu makanan yang sangat baik untuk sistem pencernaan. Proses fermentasi tape dapat meningkatkan produksi asam laktat dan probiotik. Kedua macam zat ini bermanfaat untuk meningkatkan sistem kerja pencernaan dengan membunuh semua bakteri jahat dan membantu tugas bakteri baik. Bahkan konsumsi tape secara teratur akan efektif membuang racun dalam tubuh lewat sekresi dan mengurangi wasir.

9. Tape Mencegah AnemiaTape juga sangat bermanfaat untuk mencegah penyakit anemia. Penyakit ini disebabkan karena turunnya produksi sel darah merah sehingga menyebabkan tubuh menjadi lebih lemah dan tidak bertenaga. Saat proses fermentasi tape maka ada berbagai jenis mikroorganisme yang meningkatkan produksi vitamin B12. Vitamin ini sangat penting untuk mendukung produksi sel darah merah sehingga bisa mencegah anemia.

10. Tape Mengatasi Penyakit Darah TinggiPenyakit darah tinggi adalah jenis penyakit yang sangat menakutkan bagi semua orang. Darah tinggi bisa meningkatkan berbagai jenis penyakit lain yang lebih berbahaya. Bagi orang yang memiliki penyakit darah tinggi bisa mengkonsumsi tape secara teratur. Tape menjadi sumber kalium yang berfungsi untuk mengatur tekanan darah, menjaga detak jantung dan memelihara kesehatan pembuluh darah.

Resiko Makan Tape

Semua jenis tape akan memberikan manfaat yang sangat banyak bila dikonsumsi dengan cara dan jumlah yang tidak berlebihan. Namun sebaliknya bila dikonsumsi secara berlebihan maka tape akan menimbulkan berbagai jenis gangguan penyakit. Berikut ini beberapa efek buruk dari makan tape yang terlalu banyak.
  1. Konsumsi tape yang berlebihan akan membuat perut sakit karena saluran pencernaan yang tidak kuat dengan efek alkohol.
  2. Konsumsi tape secara berlebihan juga akan meningkatkan resiko gangguan pada darah seperti keracunan darah atau penyakit lain.
  3. Konsumsi tape yang tidak bersih bisa meningkatkan beberapa jenis potensi penyakit yang disebabkan karena bakteri dan virus.
  4. Tape tidak layak bagi anak-anak, balita dan orang dewasa yang menderita penyakit gangguan kekebalan tubuh sehingga konsumsi tape harus dibatasi atau dicegah.
  5. Konsumsi air dari tape yang berlebihan juga bisa menyebabkan keracunan dan mabuk.
Sumber : http://manfaat.co.id/manfaat-tape-singkong

Monday, May 2, 2016

City Tour Semarapura Tindak Lanjut dari Festival Semarapura 2016



Pemerintah Kabupaten Klungkung melaunching paket wisata City Tour Jumat, 29/4/2016 bersamaan dengan rangkaian acara Festival Semarapura 2016, HUT Puputan Klungkung 108, HUT Kota Semarapura 24, Pameran dagang dan Job Fair.
Paket tour Wisata dalam kota semarapura ini meliputi Monumen Puputan Klungkung, Puri Agung Klungkung, Museum Semarajaya, Kerta Gosa dan Pasar Seni Klungkung. Sejumlah pembangunan telah dilakukan untuk mendukung City Tour Semarapura.
Diantaranya penataan taman dan air mancur Monumen Puputan Klungkung dan membuat jalan tembus dari Pasar Seni Klungkung menuju Pasar Senggol yang akan digunakan parkir bus.
Terkait rencana lanjutan untuk memantapkan paket City Tour Semarapura, Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta sudah membuat sejumlah perencanaan.
“Di Depan Puri Agung Semarapura akan dibangun patung I Dewa Agung Jambe. Untuk lapangan Puputan Klungkung akan dibuat taman rare untuk anak-anak, taman lingsir untuk para lansia, taman untuk anak muda yang ada wifi gratis”.
“Di Balai Budaya Klungkung akan ditempatkan 2 perangkat gong yang akan dipergunakan untuk latihan menari dari para siswa yang akan dijadwalkan secara rutin. Di depan Pemedal Agung sedang dibangun tempat meditasi".
"Sementara itu Pasar Seni Klungkung yang kini masih kumuh akan dirancang menjadi pasar seni yang modern”, jelas Bupati Klungkung di depan tamu undangan City Tour dari ASITA dan Himpunan Pramuwisata Indonesia 29/4/2016.
Bupati juga menambahkan di belakang Monumen Puputan Klungkung atau di depan Pura Jagat Natha sedang dibangun tempat Kuliner, demikian pula I Nyoman Suwirta bocorkan rencananya sedang membuat khas oleh-oleh Klungkung. “Selain itu kita sedang membuat bangunan untuk wisata kuliner dan oleh khas Klungkung. Sehingga dampak wisata City Tour mampu meningkatkan ekonomi masyarakat”, jelasnya.
Sedangkan untuk mempromosikan paket City Tour Semarapura ini panitia Festival Semarapura 2016 mengundang ASITA Bali, HPI Bali, para penulis online, Videografer dan cameramen pada 29 April dan 30 April 2016. Rosaliana salah satu peserta City Tour dari observasi pariwisata yang lama tinggal di Amerika menyarankan Pemerintah Kabupaten Klungkung agar menggunakan teknologi informasi melalui internet sebagai cara berpromosi secara efektif.
“Kini para travelers banyak menggunakan media online untuk mencari informasi untuk berlibur. Pesan ticket dan paket wisata pun langsung dari internet. Banyak travelers Independen sekarang. Ke depannya jumlah ini akan terus meningkat. Untuk itu pemerintah Klungkung saya harapkan bisa mempergunakan media online secara efektif'.
'Saya siap memfasilitasi dengan New York Times Travels untuk berpromosi, karena mereka adalah majalah wisata terbesar di dunia yang menjadi referensi para pelancong”, Saran Rosaliana peserta City Tour dari media online 30/4/2016.
Menanggapi hal itu Kadisbudpar I Wayan Sujana akan mengupayakan usulan dari Rosaliana tersebut. “Tentu kami ke depan akan bekerjasama kepada semua pihak termasuk para media online untuk mempromosikan pariwisata Klungkung. Promosi pariwisata Nusa Penida , City Tour Semarapura dan desa-desa Wisata. Selama ini pun kami sudah melakukannya, kedepan akan lebih ditingkatkan”, Jawab I Wayan Sujana 30/4/2016.


Monday, April 4, 2016

Konsep Tri Kona dan Tradisi Beragama

nyamenusanet.blogspot.com - Dalam susastra Hindu, Tri Kona merupakan sifat kemahakuasaan Tuhan, tak ada yang luput dari pengaruhnya. Di mana pun dan dalam bidang apa pun Tri Kona selalu membayangi kehidupan, cepat atau pun lambat. Tri Kona itu adalah utpati (ciptaan atau awal dari kehidupan), sthiti (memelihara atau meneruskan kehidupan) dan pralina (melebur atau mendaur-ulang kehidupan). Kalau kehidupan ini dicarikan contoh mudah, upati itu bisa disebut kelahiran, sthiti adalah kehidupan itu sendiri dan pralina adalah kematian. Tak ada makhluk apa pun yang terbebas dari tiga sifat ini.

Inti dari Tri Kona adalah perubahan. Dan perubahan itu sendiri tidak dapat dihindari. Karenanya di setiap aspek kehidupan apakah itu berupa kahyangan atau tempat suci, palemahan atau lingkungan di sekitar kita, mau pun pawongan atau hubungan antar manusia, selalu mengalami perubahan. Jadi yang abadi dalam Tri Hita Karana itu hanyalah perubahan.

Bali di masa lalu adalah lingkungan yang asri dan indah dikagumi dunia. Gadis-gadis mandi di pancuran bertelanjang dada dan mencuci pakaian di sungai yang jernih. Sawah dibuat dengan terasering yang berliuk-liuk di tebing. Itu bisa diumpamakan sebagai utpati, awal dari kehidupan yang mempersona. Kehidupan ini terus dipelihara sebisa-bisa kita memelihara, sthiti berlangsung sesuai dengan kodratnya dan tergantung dengan perjalanan peradaban. Kemajuan membuat air dari pancoran digiring ke desa dan dibagikan ke rumah-rumah, teknologi membuat orang mencuci memakai mesin, tak lagi di sungai. Lama-lama penduduk pun bertambah, membutuhkan lahan untuk perumahan. Dan sawah yang indah itu pelan-pelan berubah fungsi menjadi perumahan. Sawah di-pralina menjadi tegalan dan tegalan di-pralina menjadi rumah. Kini rumah pun di-pralina menjadi ruko.

Inilah kekuasaan Tri Kona yang tak bisa dibendung. Bukan saja pada alam, juga hubungan antar manusia. Awalnya semua penduduk bertani atau nelayan jika di pesisir, rumah diterangi lampu templok memakai minyak tanah. Dan penduduk pun biasa berkumpul di balai banjar, latihan menari atau mekidung. Pergelaran tari maupun pertunjukan menjadi meriah. Joged, topeng, wayang, janger semuanya hidup. Lama-lama listrik masuk, ada radio dan televisi yang membuat orang lebih senang berada di rumah, ada pula sepeda motor. Maka kumpul-kumpul di balai banjar jadi jarang, menonton arja jadi malas karena lebih senang menonton film di televisi. Kebiasaan di masa lalu termasuk kesenian yang diwariskan leluhur itu pun bagaikan di-pralina. Tidak ada lagi janger atau arja.

Begitu pula dengan upacara yajna. Selalu mengalami perubahan seiring dengan perubahan yang ada di alam. Juga perubahan karena manusia itu sendiri berubah menjadi lebih moderen. Namun dalam ritual ini yang berubah itu adalah bentuk phisik yang bisa dilihat. Bunga lebih segar karena ada banyak pilihan bunga yang baru. Begitu pula buah. Juga janur bisa berubah menjadi ibung yang didatangkan dari Sulawesi. Diciptakan (utpati) tradisi baru dalam membuat sarana upacara yadnya.

Dalam hal sthiti yang dipelihara adalah aspek ritual itu sendiri yang berdasarkan ajaran yang tertuang dalam susastra Hindu. Piodalan di pura, tata cara melakukan persembahyangan, kidung yang menyertai, siapa yang berhak memimpin ritual dan apa tingkatan yadnya itu, terus dipelihara sesuai dengan perkembangan yang ada.

Lalu adakah yang di-pralina? Yang di-pralina adalah aspek-aspek ritual yang bertentangan dengan susastra Hindu atau yang lazim disebut tatwa Hindu. Tradisi keagamaan Hindu yang sudah ketinggalan zaman dan secara nyata bertentangan dengan tatwa agama Hindu harus di-pralina. Tradisi tidak boleh menodai kesucian agama. Sudah banyak tradisi yang di-pralina dan itu berlangsung sambung-menyambung. Misalnya tradisi upacara yajna yang berlatar belakang wangsa, seperti perkawinan antar wangsa yang disebut nyerod, sehingga mempelai wanita dikenakan upacara Patiwangi. Tradisi yang lahir dari apa yang disebut kasta, karena yang seharusnya terjadi adalah berdasarkan warna, Catur Kasta tidak ada karena yang ada Catur Warna.

Dengan demikian antara tradisi yang lahir dari adat istiadat dengan agama yang dasarnya ada dalam tatwa yang tersurat dalam kitab suci, sesungguhnya dua hal yang bisa dipisahkan. Jadi tidaklah benar anggapan umum selama ini bahwa adat dan agama tak bisa dipisahkan di kalangan umat Hindu. Ritual agama dalam bentuk sarana bisa berubah sesuai konsep Tri Kona, tradisi beragama pun bisa berubah sesuai konsep Tri Kona itu, tetapi tatwa tetap tak berubah karena rujukannya adalah wahyu dari Tuhan, Hyang Widhi Wasa. (*)

Kenapa Kematian Tidak Boleh Di Tangisi?

nyamenusanet.blogspot.com - Diakui atau tidak, banyak orang takut akan datangnya kematian. Lalu banyak orang yang bersedih karena kematian keluarga atau kenalan dekatnya. Yang takut menghadapi kematian karena merasa begitu banyak persoalan yang harus dia selesaikan jika belum mati. Sebaliknya yang ditinggal mati merasa kehilangan orang yang selama ini sangat dekat dan tentu semuanya hanya tinggal kenangan. Kenyataan yang sangat menyedihkan.

Di zaman Kali Yuga ini, menurut kitab Manawa Dharmasastra, kenyataan seperti itulah yang dijumpai, orang-orang yang bersedih dan mungkin pula menangis jika ada keluarganya yang meninggal dunia. Semuanya karena adanya keterikatan dalam kehidupan ini, padahal kita tahu bahwa hidup di dunia ini tak abadi. Semua mengalami ketidak-abadian.
Apakah salah jika kita bersedih karena kehilangan? Kitab Bhagavadgita II.14 menyatakan “Setiap hubungan kita dengan berbagai obyek (duniawi), menimbulkan dingin dan panas, kesenangan dan penderitaan. Semua ini datang dan pergi, dan tidak abadi. Hadapilah semua ini sebagai sesuatu fakta”.

Ngaben
Atman sendiri sebenarnya tidak terpengaruh oleh semua obyek duniawi ini, yang terpengaruh dan merasakannya adalah raga yang ditumpangi Atman. Raga inilah yang merasakan dingin dan panas, kesenangan dan penderitaan. Semua ini harus kita maklumi dan kita jalani sebagai sesuatu yang datang dan pergi. Kita harus bersikap tidak terikat kepada semua ilusi ini tetapi juga tidak menutup mata, bahkan harus kita hadapi dan rasakan semua itu sebagai dedikasi kita kepadaNya. Badan kita ini sebenarnya hanyalah sebuah alat yang dipakai sebagai sarana untuk mencari kebahagiaan yang sejati itu. Jika sudah waktunya untuk mengganti badan yang sudah usang, maka akan diganti dengan yang baru, sama seperti orang yang memakai baju baru mengganti baju lamanya yang sudah usang dan kotor dengan baju yang lebih bersih dan wangi.

Dalam kitab Sarasamuscaya juga dijelaskan tentang hakikat badan kasar atau stula sarira ini. “Tidak ada yang namanya pertemuan langgeng. Suatu saat bertemu, suatu saat tidak bertemu. Betapa tidak langgengnya itu. Pertemuan Anda dengan badan wadag anda inipun tidak langgeng pada hakikatnya. Tak usah pula menyebutkan yang lain-lainnya sebagai contoh, sedangkan dengan tangan, kaki dan anggota badan kita sendiri pun pada akhirnya akan berpisah pula.”

Maka tidak sepatutnya kita bersedih, karena kematian hanyalah sebuah siklus kehidupan yang wajib dilewati oleh setip manusia. Yang paling penting, bagaimana cara kita sebagai manusia agar tidak lagi memakai baju baru berulang-ulang. Namun cukup dengan badan yang halus itu, kita bisa mencapai yang namanya ketenangan abadi menyatu dengan Tuhan atau istilah yang populer saat ini Amor Ring Acintya.

Bagaimana melepaskan kesedihan dan keterikatan itu? Kitab Sarasamuscaya ada menyebutkan, semua kesedihan karena lekatnya keterikatan itu tidak usah dijadikan pikiran. Semakin itu dijadikan pikiran maka kesedihan tak akan pernah hilang. Kita tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan, karena semua itu hanya akan menimbulkan penderitaan. Dalam Bhagavadgita II.11 disebutkan, “Dikau bersedih hati untuk mereka yang seharusnya tidak perlu dikau risaukan, tetapi dikau bertutur seakan dikau amat bijaksana. Seseorang yang bijaksana tak pernah bersedih baik untuk yang hidup maupun untuk yang telah tiada.”
Wejangan Sri Kresna ini intinya adalah kesedihan itu berdasarkan kebodohan, karena hidup dan mati adalah permainan Hyang Maha Kuasa, padahal Atman kita tak akan pernah mati. Seseorang yang bijaksana akan terus berjalan dalam hidup ini dengan penuh dedikasi akan tugas-tugasnyanya tanpa peduli akan ilusi yang beraneka-ragam bentuknya yang selalu mencoba mencengkeram kita dengan berbagai cara yang baik maupun yang buruk, baik dengan jalan kekerasan maupun kasih-sayang. Di dunia ini tidak ada jalan mundur, yang ada hanyalah berjalan terus, apakah kita mau atau tidak.

Pada Bhagavatgita sloka II.15 dijelaskan: “Seseorang yang tenang dalam kesenangan dan penderitaan --tidak terusik oleh kedua-duanya -- ia hidup dalam suatu kehidupan yang tak pernah mati, hidup kekal abadi.” Jadi intinya adalah selama manusia masih bernafas di dunia ini, maka kematian itu akan selalu membututinya. Karena kematian merupakan salah satu hukum yang tidak bisa dihindari, apa lagi untuk dibeli, maka keterikatan itu harusnya dikurangi. (*)


Pencerahan Tentang Makanan Sehat dan Sukla

nyamenusanet.blogspot.com - BELAKANGAN ini ramai diperbincangkan makanan sukla untuk pengertian makanan yang paling layak dikonsumsi oleh warga Bali, khususnya yang beragama Hindu. Pengertian yang dimunculkan dalam istilah sukla ini adalah makanan yang bersih dan sehat. Bersih dari cara membuatnya, tidak di tempat yang kotor, tidak dengan alat yang kotor, dan bahan pun bukan bahan yang kotor.

Apakah istilah itu tepat? Sukla ternyata tak cukup dirinci dengan cara seperti itu. Sukla adalah istilah budaya dalam masyarakat Bali dengan pengertian makanan atau persembahan yang suci. Kalau merujuk pada ajaran agama, makanan atau apa pun yang disebut sukla adalah hal-hal yang akan dipersembahkan kepada Tuhan, baik melalui dewa dewi (Istadewata) maupun persembahan kepada leluhur. Setelah dihaturkan jadilah makanan itu prasadam yang di dalam bahasa Bali dipakai kata lungsuran atau paridan. Inilah yang akan kita makan, bukan memakan yang masih sukla.

Jika istilah sukla dipakai untuk menunjukkan bahwa itulah makanan yang “layak makan” secara agama sangat bertentangan. Apalagi kalau istilah sukla versi ini mau disosialisasikan ke masyarakat termasuk ke luar komunitas Hindu, maka kita akan dianggap melanggar ajaran Hindu itu sendiri. Karena ajaran Hindu menyebutkan bahwa makanan yang “layak makan” adalah makanan yang sudah dipersembahkan terlebih dahulu. Prasadam atau lungsuran, itulah makanan yang utama.

Coba baca Bhagawad Gita IV-31 yang berbunyi: Yajna sistamrta bhujo – yanti brahma sanatanam – nayam loko sty ayajnasya – kuto nyah kuru-sattama. Terjemahan bebasnya: “Mereka yang makan makanan suci yang setelah melalui suatu persembahan (atau pengorbanan) akan mencapai Brahman Yang Abadi (Tuhan). Dunia ini bukan untuk orang yang tak mau mempersembahkan suatu pengorbanan (yadnya).” Bahkan dalam sloka lainnya disebutkan, mereka yang makan makanan yang belum dipersembahkan tak ubahnya seorang pencuri.

Mesaiban (Ngejot-Yadnya Sesa)
Apakah persembahan itu selalu dalam skala yang besar? Tentu setelah selesai memasak di dapur kita tak perlu memboyong semua makanan ke pura, misalnya. Para leluhur kita sudah memberikan contoh yang praktis dengan cara selesai memasak ambil sejumput nasi dan lauk yang kita makan, lalu persembahkan dengan istilah yang biasa disebut mesaiban atau ngejot atau mungkin kata lain sesuai budaya setempat. Itulah persembahan yang sederhana. Kalau kita makan di restoran, yang tentu kita tak yakin benar apakah makanan itu “sudah dipersembahkan” kita ambil sejumput nasi dan lauk, taruh di pinggir piring dan kita berdoa pendek: Om anugraha amertha di sanjiwani ya namah swaha. Artinya, mari kita persembahkan makanan yang sukla itu dan mari kita makan “sisa makanan” (prasadam) sebagai makanan yang suci.

Adapun masalah makanan sebagai penunjang kesehatan sudah banyak diatur dalam ajaran Hindu dalam berbagai kitab. Dalam kitab Bhagawad Gita, makanan ditinjau dari sisi kesehatan dan pengaruhnya terbagi dalam tiga jenis: satwika (sattvik), rajasika (rajasik) dan tamasika (tamasik). Bagawad Gita Bab XVII-8 menyebutkan ciri makanan yang bersifat satwika yakni makanan yang memperpanjang hidup dan menunjang kesucian, tenaga, kesehatan, kebahagiaan, dan kegembiraan, yang manis, lembut, penuh dengan gizi. Di sloka 9, disebutkan yang bersifat rajasika yakni makanan yang pahit, asam, bergaram, terlalu pedas, berbau, kering dan membakar, yang menimbulkan penderitaan, kesusahan dan penyakit. Di bab sama sloka selanjutnya (sloka 10) disebutkan yang bersifat tamasika yakni makanan yang tak segar, tak berasa, basi, tidak bersih.

Makanan sattvik, disebutkan bisa menambah kewibawaan, intelektualitas, kekuatan, kesegaran, kesehatan, kenikmatan lahir dan batin, kegembiraan, dan kebahagiaan hidup. Misalnya beras, gandum, mentega, buah-buahan segar. Makanan rajasik untuk mereka yang masih diliputi dengan nafsu dan keinginan duniawi. Misalnya daging dan makanan yang penuh rasa. Sedang makanan tamasik adalah jenis makanan yang disukai oleh mereka yang hidup dalam kegelapan. Misalnya yang membuat mabuk dan malas.

Lalu mana yang “layak makan”? Tentu harus sesuai dengan kebutuhan dan juga tingkat spiritual seseorang, antara sattvik dan rajasik. Tamasik harus dihindari. Kalau seseorang yang sudah berstatus suci, para yogi, sanyasin, pendeta atau usia sudah lanjut, tentu berada dalam kawasan makanan sattvik dan menghindari makanan yang penuh dengan nafsu. Kalau masih muda masih bolehlah makan babi guling, kambing dan sejenisnya yang kolestrol tinggi.

Dimunculkannya istilah sukla sebagai makanan yang “layak makan” seolah-olah untuk meniru istilah makanan halal yang digunakan umat Muslim. Kesannya mau “memada-madai”, halal disandingkan dengan sukla dan haram disandingkan dengan non-sukla. Ini tidak tepat dan bahkan keliru, karena pengertian sukla itu justru makanan yang harus dipersembahkan kepada Tuhan dengan segala manifestasinya dan kita “tak layak” makan itu. Kalau pun istilah sukla diganti dengan satwika (sattvik) sebagai padanan dari istilah halal di agama lain (ada usul seperti itu), juga bikin repot dan tak masuk akal. Berarti dagang nasi guling, sate ikan, lawar dan sebagainya harus ditutup karena makanan itu tidak “layak makan” karena bukan sattwik tapi rajasik.

Tak semua istilah atau idiom agama lain harus kita cari padanannya di agama Hindu. Agama Islam memang dalam ajarannya jelas menyebut halal dan haram, sementara agama Hindu menyebut ciri-ciri dan sifat makanan yang baik digunakan. Pengertian makanan yang baik itu pun masih luas, selain kebersihan dan sifat makanan yang tergolong satwika, rajasika dan tamasika, juga bagaimana makanan itu diolah. Misalnya ada disebut, makanan yang diolah dalam pikiran yang ruwet, penuh amarah, apalagi sambil bertengkar bukanlah makanan yang baik dan sukla untuk dipersembahkan. Lebih baik kita memberikan wawasan tentang itu dibanding membuat spanduk tentang makanan sukla.

Soal di mana umat berbelanja itu masalah lain, dalam dunia moderen persaingan tak bisa dihindari. Akan lebih tepat kalau kita membina pedagang makanan khas Bali dan meningkatkan daya saing kuliner Bali dengan menyuguhkan makanan yang sehat, tempat yang sehat dan bersaing dengan sehat pula. Pedagang “krama Bali” ini yang harus dibina, bukan melabeli dengan istilah sukla yang ternyata salah. Pedagang “nasi babi guling” di Sembung, Mengwi, Gianyar dan di tempat lain tetap ramai karena penataan warungnya yang “sehat” bahkan orang luar Bali banyak berbelanja di sana. Tapi kalau sesekali orang Bali ingin makan sate Madura, apakah itu harus dilarang? Tentu tidak. (*)


Wednesday, March 30, 2016

Cara Mudah Membedakan Madu Asli dengan Madu Palsu

Apabila bicara mengenai madu tidak bisa kita uraikan satu per satu manfaatnya untuk badan manusia. Ada begitu banyak manfaat dari madu, hampir semua penyakit bisa dihindari/diobati dengan madu. Madu mudah sekali kita peroleh/beli di pasar – pasar tradisional maupun di minimarket karena memang tingkat keinginan madu ini yang cukup tinggi.

Namun tahukan anda bila tidak semua madu yang di jual dan meng3dar di market yaitu madu asli, sebagian madu itu yaitu buatan dan belum tentu ada nilai kemanfaatannya bahkan mungkin saja saja memiliki resiko untuk tubuh apabila di konsumsi. Madu asli dan palsu untuk saat ini mungkin saja saja tidak tampak ketidaksamaannya dengan cara kasat mata. Nah berikut ini langkah yang bisa anda coba untuk membedakan madu asli dan palsu.

Langkah Membedakan Madu Asli dan Palsu 
1. Dengan Membakarnya  

Silahkan anda tuang ke­2 madu itu dalam dua sendok lantas bakar di atas api lilin. Ketidaksamaan madu asli dan palsu yaitu madu asli akan sulit berbuih dan sulit tumpah, tengah madu palsu akan mudah berbuih/mendidih dan mudah lumer/tumpah.

2. Meneteskannya Diatas Koran 

Langkah ke­2 yang dapat anda cobalah untuk membedakan madu asli dan palsu yaitu dengan menaruhnya di atas koran/kertas. Jadi madu asli akan sulit merembes dalam koran dan tetaplah kent4l, tengah madu palsu akan mudah merembes.

3. Menuangkan Madu Ke Dalam Air  

Anda bisa cobalah menuangkan madu dalam gelas yang di isi air, madu asli akan tidak mudah enc3r bercampur dengan air dan tetaplah menggumpal tengah madu palsu mudah bercampur dengan air atau membaur dengan air.

4. Masukan Madu Dalam Kulkas.
Masukan madu dalam freezer atau kulkas, madu asli akan tidak membeku, tengah madu palsu akan membeku.

5. Uji Dengan Korek Api 
Silahkan celupkan ujung/kepala korek api dalam madu, apabila madu itu asli jadi korek api tetaplah bisa terbakar tengah apabila madu itu palsu jadi korek api akan basah dan tidak bisa terbakar. Lantaran telah barang tentu untuk peroleh manfaat dari madu kita harus mengkonsumsi madu yang asli. 5 langkah di atas yaitu langkah yang mudah untuk membedakan madu asli dan palsu, namun anda harus tetaplah jeli ya? karena terkadang madu palsu jaman sekarang ini juga sudah mulai mutakhir. Mengkonsumsi madu palsu dengan cara teratur jadi akan berikan dampak yang kurang baik untuk badan, karena senyawa ki*mia yang ada pada madu palsu itu bisa mengakibatkan timbulnya bermacam type penyakit. Alih – alih sehat yang kita bisa jadi sakit yang kita derita. Oleh karenanya apabila sangat mungkin belilah madu dari pencari madu asli, yang biasanya mencari madu di rimba. Walaupun madu tampak kotor dan tidak bersih namun jadi hal sejenis ini menanggung keasliannya. Demikian Langkah Membedakan Madu Asli dan Palsu, semoga bermanfaat.

Sumber : http://kunci-sehat-alami.blogspot.co.id/2016/03/ibu-ibu-jangan-mau-di-tipu-begini-cara.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook

Friday, March 25, 2016

Sejarah Adanya Kasta Brahmana-Ksatrya-Wesya-Sudra di Bali


nyamenusanet.blogspot.com - Kata kasta berasal dari bahasa spanyol atau portugis (casta) yang artinya pembagian masyarakat. Kasta yang sebenarnya merupakan perkumpulan tukang-tukang atau orang-orang ahli dalam bidang tertentu. Pembagian manusia dalam masyarakat agama Hindu (Bangsa-bangsa Kerajaan Nusantara).

Dalam agama Hindu sebenarnya tidak ada atau tidak mengenal istilah kasta. Istilah yang termuat dalam kitab suci Veda adalah Warna. Apabila kita mengacu pada Kitab Bhagavadgita, maka yang dimaksud dengan Warna adalah Catur Warna, empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang, serta kwalitas kerja yang dimiliki sebagai akibat pendidikan, pengembangan bakat yang tumbuh dari dalam dirinya dan ditopang oleh ketangguhan mentalnya dalam menghadapi suatu pekerjaan. Sementara itu, yang muncul dalam kehidupan masyarakat Bali adalah Wangsa, yaitu sistem kekeluargaan yang diatur menurut garis keturunan.

Pembagian Catur Warna

Catur Warna dibagi atau dikelompokkan menjadi 4, yaitu:
  1. Brahmana, Disimbulkan dengan warna putih, adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdian dalam swadharmanya di bidang kerohanian keagamaan. Jika dalam kasta diberi gelar Ida Bagus (laki-laki) dan Ida Ayu (perempuan).
  2. Ksatrya, Disimbulkan dengan warna merah adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdian dalam swadharmanya di bidang kepemimpinan, keperwiraan dan pertahanan keamanan negara. Jika di dalam kasta di beri gelar Anak Agung.
  3. Wesya, Disimbulkan dengan warna kuning adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdiannya di bidang kesejahteraan masyarakat (perekonomian, perindustrian, dan lain- lain). Jika dalam kasta diberi gelar Gusti Bagus (laki-laki) dan Gusti Ayu (perempuan).
  4. Sudra, Disimbulkan dengan warna hitam adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdiannya di bidang ketenagakerjaan. Jika dalam kasta tidak terdapat gelar. Biasanya Diberi nama depan Wayan,Made,Nyoman,Ketut.
Di Indonesia Kasta tidak pernah ditemukan sampai akhir kerajaan Hindu Majapahit abad 14 akhir. Kasta baru ada di Indonesia setelah kerajaan Hindu Majapahit runtuh. Bukti dari tidak adanya kasta pada masa kerjaan Majapahit bisa dilihat pada beberapa contoh seperti
  1. Mpu Sendok, seorang Brahmana, anak-anaknya menjadi Ksatrya di Medang Kemulan.
  2. Patih Gajah Mada, Perdana menteri Majapahit, lahir dari keluarga yang tidak diketahui ( bukan darikeluarga atau keturunan Ksatrya maupun Brahmana), Kemudian menjadi Ksatrya terkemuka Indonesia sepanjang sejarah Indonesia
  3. Damar Wulan, Seorang pengangon kuda ( tukang arit rumput ), kemudian bisa menjadi Raja (Ksatrya) di Majapahit dan berganti nama menjadi Brawijaya.
Itu merupakan beberapa contoh saja dan masih banyak lagi pembuktiannya. Dari itu bisa disimpulkan bahwa pada masa kerajaan Majapahit siapapun dan latar belakang apapun mereka dapat menjadi seorang dengan kasta Ksatrya, bukan berdasarkan keturunan tapi melalui sebuah proses serta ketrampilan yang dimilikinya.

Kasta dibali dimulai ketika Bali dipenuhi dengan kerajaan-kerajaan kecil dan Belanda pun datang mempraktekkan politik pemecah belah, kasta dibuat dengan nama yang diambilkan dari ajaran Hindu, Catur Warna. Lama-lama orang Bali pun bingung, yang mana kasta dan yang mana ajaran Catur Warna. Kesalah-pahaman itu terus berkembang karena memang sengaja dibuat rancu oleh mereka yang terlanjur “berkasta tinggi” pada masa itu. Sehingga terjadilahi polemik (pro dan kontra) masyarakat Hindu di Bali, dalam pemahaman dan pemaknaan warna, kasta, dan wangsa yang berkepanjangan.

Sejarah Pro dan Kontra Kasta di BaliPenolakan sistem Kasta yang dikait-kaitkan dengan Agama Hindu bukannya tidak pernah ada, bahkan saat gagasan pengadopsian Catur Warna menjadi empat kasta dimunculkan, para Cendikiawan Hindu maupun yang perduli akan perkembangan Agama Hindu sudah bereaksi memprotesnya, misalnya dengan terbitnyaSurya Kanta, koran berbahasa Melayu di Bali tahun 1920-an. Tetapi gempuran para Indolog pendukung kastaisme ditambah dukungan penguasa pribumi boneka kolonialis dan “Brahmana palsu”, lebih dahsyat dari pada yang menentang kastaisme. Terlebih lagi kondisi umat Hindu saat itu tidak berdaya oleh kolonialisme, sehingga konsep kaku kasta maupun aturan-aturannya tetap dijalankan, meski terus mendapat penentangan.

Pada tanggal 20 Juni tahun 1916 warga Desa Lodjeh, Karangasem, memprotes keputusan Raad Van Kerta, disusul pada bulan Mei 1917 warga Desa Sukawati Gianyar. Dengan todongan bedil kolonialis Belanda, protes-protes tersebut dapat dipadamkan dengan dibayar nyawa warga Umat Hindu yang tidak berdaya. Pada kasus Sukawati sebanyak 5 orang umat Hindu mati dibunuh, 11 orang luka-luka dan 26 orang ditangkap dan di jual sebagai budak.

Perkembangan Kasta Di Jaman ModernPada dewasa ini seiring dengan perkembangan jaman, masyarakat Bali sendiri sebagian besar sudah mulai memudarkan paham kasta dan hanya sebagai formalitas pada nama saja. Tidak lagi membeda-bedakan, siapa saja bisa menjadi pemimpin asal mempunyai ketrampilan dan sikap teladan. Meskipun demikian masih ada yang memegang prinsip kasta itu. Seperti contohnya dalam perkawinan, tidak dibolehkan menikah dengan kasta yang berada dibawahnya. Tentu hal ini merupakan sebuah hak setiap orang karena sejatinya setiap orang mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda.

Kesimpulannya menurut kami adalah kasta itu sendiri tidak perlu dihilangkan karena itu sudah melekat dengan Bali akan tetapi yang perlu dihilangkan adalah sikap membeda-bedakan seseorang seperti memandang rendah atau memandang tinggi seseorang melalui kastanya. Jika terdapat penjelasan dan sejarah yang kurang tepat pada artikel ini. Mohon maaf dan mari kita koreksi bersama. Suksma…

Sumber : http://inputbali.com/sejarah-bali/sejarah-adanya-kasta-di-bali

BALI - Etika Berbusana dan Tata Cara Memasuki Pura

nyamenusanet.blogspot.com - Dalam hal berbusana biasanya seiring berkembangnya jaman seiring modern pun dalam tren berbusana. Seperti halnya dalam berpakaian untuk sembahyang saat ke pura. Bagi umat Hindu wanita sering kita jumpai mengenakan kebaya dengan bahan tranparan dengan kain bawahan(kamen) bagian depan hanya beberapa centi dibawah lutut melakukan persembahyangan.

Pikiran setiap manusia tentu tidak sama, ada yang berpikir positif bahwa itulah trend mode masa kini. Tapi yang berpikiran negatif tentu tidak sedikit, inilah permasalahanya pikiran negatif, paling tidak busana terbuka akan mempengaruhi kesucian pikiran umat lain yang melihatnya sehingga mempengaruhi konsentrasi persembahyangan.

Dalam Sarasamuscaya, sloka 82 dijelaskan :

SARVAM PASYATI CAKSUSMAN MANOYUKTENA CAKSUSA, MANASI VYAKULE JATE PASYANNAPI NA PASYATI

Artinya : Mata dikatakan dapat melihat berbagai benda, tiada lain sebenarnya pikiranlah yang menyertai mata, sehingga jika pikiran bingung maka nafsulah yang menguasai; maka pikiranlah yang memegang peranan utama.

Pikiran yang akan mengantarkan sembah bhakti kita kepada Hyang Widhi, Jika dalam persembahyangan pikiran terfokus pada Hyang Widhi, maka sembah bhakti kita akan sampai pada-Nya, namun jika pikiran terpusat pada yang tidak patut, maka kesanalah angan kita dibawa.
Etika Berbusana Kepura

Berpakaian ke Pura, dibahas dalam Paruman Sulinggih yang diadakan tahun 1976 ditetapkan bahwa busana untuk ke Pura:

Bagi Pria:
1. Baju
2. Kampuh
3. Kain panjang
4. Sabuk
5. Alas kaki (fakultatif/boleh iya,boleh tidak)

Bagi wanita:
1. Baju/kebaya
2. Kain panjang
3. Sesenteng
4. Sabuk
5. Alas kaki (fakultatif/ boleh iya,boleh tidak)

Kesopanan dalam berpakaian ke Pura diatur pula dalam Tata-Tertib masuk ke Pura seperti yang telah diputuskan dalam seminar di Amlapura tahun 1975, di mana dinyatakan bahwa pakaian ke Pura adalah yang sopan, rapi, bersih, dan tidak menonjolkan bagian-bagian tubuh yang dapat merangsang, serta dandanan yang sederhana dalam artian tidak menggunakan hiasan berlebihan.

Tata Cara Memasuki Pura
Berikut tata cara atau larangan memasuki pura , agar kesucian Pura tetap terjaga.
  1. Tidak dalam keadaan cuntaka (baru melahirkan, kematian, wanita datang bulan, bayi belum tiga upacara tiga bulanan dll)
  2. Bersih lahir bathin; lahir : sudah mandi, pakaian bersih dengan tata cara pakaian yang wajar untuk bersembahyang; bathin : pikiran yang hening, tenang, tentram dan siap memusatkan pikiran untuk berbakti kepada Yang Maha Kuasa.
  3. Wanita yang rambutnya diurai tidak boleh masuk karena rambut yang diurai menyiratkan : ke-asmaraan (birahi), marah, sedih, dan mempelajari ilmu hitam.
  4. Dilarang Berpakaian tidak sopan atau menonjolkan bentuk tubuh/ aurat.
  5. Tidak boleh Bercumbu, berkelahi, bertengkar, berkata kasar/ memaki, bergosip, menyusui bayi, meludah, buang air, mencorat-coret pelinggih-pelinggih, dan lain-lain
  6. Dilarang dalam keadaan sakit dan mabuk karena akan dapat membuat pura leteh.

Semoga kita dapat memahami betul tata cara memasuki pura agar kita dapat menjaga kesucian pura itu sendiri. Dan dalam etika berbusana semestinya mengikuti norma-norma susila, etika, dan pertimbangan yang bijaksana. Jangan hanya memikirkan kesenangan dan kepuasan diri pribadi, tetapi juga pertimbangkan pikiran orang lain.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat. Jika terdapat penjelasan yang kurang tepat atau kurang lengkap mohon dikoreksi bersama. Suksma…

Sumber : http://inputbali.com/budaya-bali/etika-berbusana-dan-tata-cara-memasuki-pura

Di BALI Buang Sampah Sembarangan Denda Rp 2 Juta

nyamenusanet.blogspot.com - Pemerintah Kota Denpasar – Bali semakin menunjukan keseriusannya dalam menjaga kebersihan kota dan mendidik warganya untuk tidak membuang sampah sembarangan. Warga yang kedapatan membuang sampah sembarangan akan didenda mulai Rp1 juta hingga Rp2 juta.

Hal itu dibuktikan ketika diadakannya Sanksi berupa denda yang dijatuhkan langsung kepada warga yang membuang sampah sembarangan, dalam sidang yustisi tindak pidana ringan (Tipiring) yang digelar di Balai Banjar Kedaton, Jalan Hayam Wuruk, Desa Sumerta Kelod Denpasar Timur.

Sekretaris DKP Kota Denpasar, I Dewa Gede Anom Sayoga menuturkan, dalam sidang yustisi Tipiring yang dipimpin Hakim Achmad Peten Sili dan Jaksa Nyoman Bela Putra Atmaja, menyidangkan 30 orang warga yang membuang sampah sembarangan dan buang sampah tidak pada waktu yang telah ditentukan yakni mulai pukul 17.00 WITA hingga pukul 19.00 WITA.

Sebanyak 30 orang pelanggar itu memilih membayar denda ketimbang menjalani hukuman kurungan maksimal tiga bulan. Langkah yang di lakukan DKP Kota Denpasar ini sebenarnya merupakan kegiatan rutin diadakan setiap hari Rabu dan Jumat tiap minggunya di Kantor Pengadilan Negeri Denpasar.

Sanksi yang diberikan tidak hanya dikenakan denda, pelanggar yang tertangkap tangan juga diberi hukuman langsung di tempat dengan disuruh menyapu, membersihkan sampah dan menyiram di ruas jalan dan taman yang ada di Kota Denpasar.

Menurut Sayoga, pelaksanaan sidang ini bukan semata-mata untuk menghukum masyarakat, akan tetapi kami mengajak masyarakat untuk ikut memelihara kebersihan lingkungan khususnya di Kota Denpasar.

Sumber : http://inputbali.com/berita-bali/di-bali-buang-sampah-sembarangan-denda-rp-2-juta

Thursday, March 17, 2016

YADNYA SESA - MESAIBAN atau NGEJOT DAN DOA atau MANTRANYA

Ngejot (Yadnya Sesa Setelah selesai masak di dapur)
Tujuannya mesaiban yaitu sebagai wujud syukur atas apa yang di berikan Hyang Widhi kepada kita.
Di Dapur
Di Tempat Beras

Doa : Om Sri Dewya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai penguasa Amertha, hamba bersujud pada-Mu.
Di Kompor / Tungku
Doa : Om Sang Hyang Tri Agni Ya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Agni, sebagai penguasa penerang dalam kegelapan, sebagai sumber energi bagi kehidupan, hamba bersujud pada-Mu.
Di Tempat Air
Doa : Om Gangga Dewya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Dewi Gangga, hamba bersujud pada-Mu.
Di Pelangkiran
Doa : Om Om Dewa Datta Ya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Purusa Predana, sebagai sumber dari kehidupan, hamba bersujud pada-Mu.
Di Sumur
Doa : Om Ung Wisnu Ya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Wisnu, penguasa Air kehidupan, hamba bersujud pada-Mu.
Di Merajan
- Kemulan
Doa : Om Ang, Ung, Mang Paduka Guru Ya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Wijaksara Ang-Ung-Mang atau Tri Guru, hamba bersujud pada-Mu.
-Taksu
Doa : Om Ang, Ung, Mang Paduka Guru Ya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Wijaksara Ang-Ung-Mang atau Tri Guru, hamba bersujud pada-Mu.
-Sri Sedana
Doa : Om Kuwera Dewa Ya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Sang Hyang Kuwera, sebagai penguasa kekayaan, hamba bersujud pada-Mu
-Tugu Capah
Doa : Om Sang Hyang Durga Maya Ya Namah
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Durgamaya sebagai saktinya Siwa, penguasa atau dari Butha Kala, hamba bersujud kepada-Mu.
-Penglurah
Doa : Om Anglurah Agung Bhagawan Penyarikan Ya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Anglurah sebagai perantara bagi Sang Anembah dengan Sang Kasembah, hamba bersujud kepada-Mu.
-Tugu Penunggun Karang
Doa : Om Ang, Ung, Mang Paduka Guru Ya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Wijaksara Ang-Ung-Mang atau Tri Guru, hamba bersujud pada-Mu.
-Pengijeng
Doa : Om Sang Hyang Indra Blaka Ya Namah Swaha
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud sebagai penguasa alam, hamba bersujud pada-Mu.
-Pengadang-adang
Doa : Om Sang Maha Kala, Nandikala Boktya Namah
Arti : Ya Tuhan, Nandi Kala sebagai penjaga pintu masuk, hamba menghaturkan persembahan semoga berkenan.
-Pintu Masuk
Doa : Om Sang Hana Dora Kala Ya Namah
Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Dorakala, hamba bersujud kepada-Mu.
-Tempat Ari-Ari
Doa : Ih, Anta, Preta, Bhuta, Kala Dengen, Ya Namah
Arti : Ya Anta, Preta. Butha, Kala Dengen hamba bersujud pada-Mu.
Suksme ..kiranglangkung ampure..domogi bermanfaat...rahayu.