Tuesday, March 24, 2015

Beberapa Budaya dan Tradisi Unik di Pulau Dewata Bali yang Wajib Anda Ketahui dan Abadikan

nyamenusanet.blogspot.com - Setiap daerah, suku ataupun provinsi yang ada di bumi nusantara ini pasti memiliki tradisi yang unik. Tradisi seperti ini ada karena cenderung merupakan warisan budaya dari leluhur. Bali, khususnya berkaitan dengan kepercayaan masyarakatnya, hal-hal unik tersebut masih terjaga lestari sampai sekarang, berkeyakinan akan mendatangkan sesuatu yang baik pada kehidupan kedepan atau yang akan datang, dan akan terjadi musibah jika prosesi tersebut tidak dijalankan, keyakinan-keyakinan tersebut sehingga menimbulkan sebuah kebiasaan atau tradisi dibeberapa tempat di propinsi Bali. Sebuah tradisi tetap ada pada masing-masing kabupaten, bahkan ditingkat Kecamatan dan Desa, muncul kebiasaan karena penghormatan kepada leluhur dan keyakinan beragama masyarakat Bali. Sebagai destinasi wisata dunia, tradisi unik tersebut menjadi sesuatu yang menarik. Saat-saat tertentu bertepatan dengan rencana tour anda, coba saja untuk melihat keunikannya.

Berikut beberapa tradisi unik di Bali yang masih lestari sampai sekarang;

Omed-omedan ; hanya ada di desa Sesetan, Denpasar Selatan. Digelar sehari setelah hari raya Nyepi, sekitar jam 2 siang. Dimana 2 kelompok muda-mudi (yang belum menikah) berhadap-hadapan dan tarik menarik (bali:med-medan) kemudian saling cium antara pemuda dan pemudi satu dengan yang lainnya dengan guyuran air, disaksikan oleh semua warga. Terlihat begitu vulgar, tapi itulah uniknya sempat tidak dilaksanakan namun pertanda buruk datang. Menjadi atraksi wisata menarik dan pantas anda abadikan.

Mekare-kare ; sebuah tradisi perang pandan berduri di desa Tenganan, kabupaten Karangasem, peserta banyak yang sampai berdarah kena duri pandan, tradisi ini dirayakan pada sasih ke-5 kalender Hindu atau sekitar bulan September, dengan tujuan sebagai sebuah penghormatan kepada dewa Indera yang memimpin pasukan perang untuk mengalahkan Raja lalim yang pernah merajai Bali, yaitu Raja Mayadenawa.

Mekotek ; Desa Mungu, Mengwi, Kab. Badung tempat dirayakan Mekotek, pas saat Hari Raya Kuningan. Tradisi ini muncul awalnya dari penyambutan pasukan kerajaan Mengwi atas kemenangan mengalahkan pasukan kerajaan Blambangan, penyambutan oleh rakyat ini yang dulunya menggunakan tombak, sekarang diubah menggunakan tongkat kayu, sehingga kalau diadu terdengar sura "tek" yang berulang-ulang. Pernah ditiadakan karena dilarang pada jaman kolonial Belanda, tapi terjadi musibah. Desa Munggu sendiri berdekatan dengan objek wisata Tanah Lot, Kuta dan Taman Ayun.

Gebug Ende ; Desa Seraya, Kabupaten Karangasem menggelar adu ketangkasan oleh para kaum pria, mereka saling memukul antara satu dengan yang lainnya, dengan menggunakan sebatang tongkat dari rotan, kalau kurang cekatan berbahaya juga. Diiringi dengan gamelan Bali yang memacu semangat, tradisi ini merupakan perpaduan unsur seni penarinya dan juga yang terpenting adalah ketangkasannya. Digelar dengan tujuan memohon turunnya hujan pada saat musim kemarau. Saat-saat tertentu digelar untuk tontonan wisata. Desa Seraya berdekatan dengan Taman Ujung sebuah tempat tujuan tour favorit Bali Timur.

Ngerebong ; Pura Pangrebongan, Desa Kesiman, Denpasar tempat tradisi ini digelar disebut juga Ngurek, karena saat para peserta trance (kesurupan) mereka menancapkan keris (ngurek) ke bagian tubuhnya sendiri tanpa terluka. Tiap 6 bulan sekali, tepatnya 8 hari setelah hari raya Kuningan. Ngerebong artinya berkumpul, karena pada saat tersebutlah para dewa berkumpul. Dengan kerasukan roh-roh dari Dewa ada yang menari, berteriak, menangis dan menusukkan keris ke tubuhnya dan tanpa terluka.

Pemakaman di Trunyan ; pemakaman yang tidak lazim seperti pemakaman lainnya di Bali, tubuh orang meninggal dibiarkan dibawah pohon menyan dengan dikelilingi dengan ancak saji (pagar pelindung) tanpa dikubur, uniknya tubuh orang meninggal tersebut tidak menimbulkan bau busuk. Hal ini juga menjadikannya tempat tujuan wisata dan menjadi tujuan tour unik. Desa Trunyan bagian wilayah Kecamatan Kintamani, seberang danau Batur.

Ngaben ; sebuah prosesi supacara pemakaman mayat masyarakat Hindu Bali, kemudian dilanjutkan dengan proses kremasi atau pembakaran jenazah, bisa dilakukan setelah orang tersebut meninggal ataupun dikubur lebih dulu sambil mencari waktu baik. Rangkaian upacara dalam tradisi ini bertujuan untuk menyucikan roh orang yang sudah meninggal untuk menuju ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Mesabatan endut : Dalam arti katanya Mesabatan artinya melempar dan Endut berarti lumpur. Lumpur tersebut dicampur dari kotoran kerbau, didapat dari hewan kerbau yang dilepaskan, desa Tenganan, Karangasem, Bali tempat prosesi ini berlangsung. Saat prosesi berlangsung lumpur akan dilemparkan oleh 8 pemuda pengawin kepada 6 gadis. Tradisi ini berlangsung dengan tujuan, mendidik para gadis desa untuk bisa menjadi penyabar, tidak jijik atau gengsi yang akan perkerjaan yang dilakoni dikemudian hari.

Makepung ; balapan/ pacuan kerbau di Jembrana, rutin diselenggarakan sekali setiap tahunnya saat panen raya tiba. Pacuan kerbau, sepasang hewan ini dipacu dan ditunggangi oleh seorang sais atau joki, melecut hewan pacuannya untuk bisa meraih kemenangan. Dalam pertarungan ini memang dibutuhkan nyali besar, karena resikonya tinggi bagaimana kepiawaian seorang joki melecut hewan pacuannya serta menjaga keseimbangan agar tidak terhempas. Sebuah hiburan wisata saat perjalan tour ke Bali Barat.

Sapi Gerumbungan ; di selenggarakandi lapangan desa Kaliasem, Lovina, Kab. Buleleng sebuah pertunjukan seni pada awalnya dilakukan oleh para petani setelah membajak garapan mereka untuk mengisi waktu, karena banyak petani yang tertarik, pemerintah setempat menetapkan menjadi event tahunan tetap sampai sekarang menjadi sebuah tradisi unik yang diwariskan. Dalam pacuan ini sepasang leher sapi dihubungkan dengan kayu yang dinamakan "uga", ditengah-tengah uga tersebut terbentang kayu tempat si joki berdir.

Mbed-mbedan ; tradisi ini hanya bisa kita temukan di desa adat Semate, Kelurahan Abianbase, Kec. Mengwi, Kab, Badung - Bali. Pertama kali diselenggarakan padai tahun saka 1396 atau pada 1474 masehi dan terhenti dalam jangka waktu lama. Diselenggarakan lagi pada tahun 2011. Prosesi ini diikuti oleh semua warga, seperti sebuah permainan lomba tarik tambang,tidak menggunakan media tali tapi bun kalot sebuah jenis batang tumbuhan menjalar, tumbuh pada kawasan setra Desa Semate. Desa ini berdekatan dengan kawasan objek wisata Kuta dan bandara, sehingga mudah dijangkau.

Megibung ; sekarang ini masih lumrah bisa ditemukan di Kabupaten Karangasem. Makan bersama dalam satu tempayan besar, peserta duduk melingkar antara 5-7 orang, kemudian disantap bersama-sama menggunakan tangan, diharapkan menumbuhkan kebersamaan hubungan yang lebih erat dengan keluarga, kerabat ataupun warga sekitar.

Janger Maborbor ; sebuah ritual sakral yang sarat dengan suasana magis, tarian memadukan unsur gerak dan nyanyian, ditarikan oleh 5-10 pasang penari yang belum dewasa. Ritual ini dipimpin oleh seorang pemangku, pada saatnya tiba dan berada dipuncak prosesi, penari janger ini menginjak-injak tumpukan bara api, jangankan luka bakar, sehelai benangpun dari pakaian mereka tidak terbakar. Tarian tolak bala ini bisa kita temukan di desa Yangapi, Tembuku, Bangli - Bali.

Terteran ; tradisi perang api di Jasri ini berlangsung dua kali dalam setahun, bertepatanag dengan hari raya pengrupukan sehari sebelum Nyepi. Prosesi ini dalam rentetan upacara yadnya, 2 kelompok pemuda saling serang dengan melempar seikat obor dari daun kelapa, tujuan ritual ini untuk melebur kejahatan dan malapetaka.

Lukat Geni ; populer juga dengan perang api, dirayakan oleh warga Puri Satria Kawan, Paksebali, Kec. Dawan, Kab. Klungkung, disaat malam pengrupukan sekali dalam setahun. ritual ini bertujuan untuk melepaskan ataupun mengurangi kekotoran dengan sarana api, sehingga bisa menetralisir kekuatan negatif dari alam dan menghilangkan sifat buruk

Pawai Ogoh-ogoh ; Pawai ini dilaksanakan dimalam pengrupukan, sehari sebelum Nyepi, ogoh-ogoh merupakan simbol dari Bhuta Kala yang memiliki kekuatan negatif, diarak ke sekeliling desa dengan tujuan mengusir kekuatan-kekuatan negatif, kemudian dibakar. Sehingga sat pelaksanaan catur brata penyepian tidak ada gangguan kekuatan jahat. Kalau pada saat itu anda melakukan perjalanan wisata tour keliling Bali, usahakan sebelum sore hari sudah tiba di hotel, karena banyak ruas jalan yang tutup.

Perang Ketupat : Sebuah tradisi unik dilaksanakan dalam rangka upacara Aci Rah Pengangon digelar desa Kapal. Warga dibagi menjadi 2 kelompok saling berhadapan saling lempar menggunakan ketupat dari beras. Walaupun hanya berlangsung sekali dalam setahun, bisa saja secara tidak sengaja anda bisa menyaksikan dalam perjalanan tour karena pada jalur wisata Kuta - Bedugul

Ngerebeg : tradisi ini hanya digelar saat piodalan Pura Dalem Kahyangan Kedaton yang letaknya di objek wisata Alas Kedaton, menjelang akhir piodalan saat sore hari sebelum senja tiba, suara kentongan bertalu-talu dan sorak membahana oleh warga desa kukuh yang berkumpul pada halaman pura, mereka membawa lelontek, tomabak dan juga ranting pohon, setelah diperciki air suci, mereka melesat mengelilingi pura.


Pada saat-saat tertentu, travel agent agak jarang mengagendakan perjalanan wisata melihat tradisi unik tersebut, karena berdasarkan kalender Hindu, anda bisa menjelajah sendiri tanpa ada rasa ragu, dijamin aman, pulau bali surganya dunia kalo anda ramah masyarakat bali bisa lebih ramah lagi, ingat gunakan jasa kami sewa sepeda motor Metic di Bali dengan biaya yang murah, pelayanan Ok. Lihat Syarat dan ketentuannya disini.

Sunday, March 8, 2015

Makna Perayaan Hari Raya Nyepi "Tahun Baru Caka" bagi Umat Hindu di Bali

nyamenusanet.blogspot.com - Hari Raya Nyepi merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun baru saka, yang pada tahun ini jatuh pada tanggal 21 Maret. Merupakan hari penyucian untuk alam semesta beserta isinya.

Nyepi mengandung arti sepi atau sunyi, dan dirayakan setiap 1 tahun saka. Dan tahun ini merupakan tahun saka 1937. Pada saat Nyepi tidak boleh melakukan aktifitas seperti pada umumnya,seperti keluar rumah (kecuali sakit dan perlu berobat), menyalakan lampu, bekerja dsbnya. Dan tujuannya adalah agar tercipta suasana sepi, sepi dari hiruk pikuknya kehidupan dan sepi dari semua nafsu atau keserakahan sifat manusia untuk menyucikan Bhuwana Agung(alam semesta) dan Bhuwana Alit(manusia).

Hari Raya Nyepi, khususnya di Bali memiliki beberapa tahapan. Dimulai dari Upacara Melasti, Mecaru, dan Pengerupukan. Kemudian diikuti oleh puncak Hari Raya Nyepi itu sendiri. Dan terakhir disebut dengan Ngembak Geni.

1. Melasti, Mecaru, dan Pengerupukan.
Upacara Melasti atau bisa disebut Melis diadakan beberapa hari sebelum Nyepi. Pada saat ini segala sesuatu atau sarana persembahyangan di Pura-pura di bawa kelaut untuk disucikan.

Melasti Serangkaian Upacara Nyepi
Mecaru atau bisa disebut Tawur, dilaksanakan pada hari Tilem Sasih Kesange (Bulan mati ke 9)yaitu sehari sebelum Nyepi. Merupakan upacara yang dilaksanakan di setiap rumah atau keluarga, desa, kecamatan dan sebagainya. Dengan membuat sesajen yang ditujukan kepada para Bhuta Kala atau bisa disebut hal-hal negatif agar pada nantinya tidak mengganggu kehidupan manusia.

Pengerupukan dilaksanakan sesaat setelah Mecaru, yaitu dengan membuat api atau obor untuk mengobori lingkungan rumah, membunyikan kentongan untuk menghasilkan kegaduhan. Sehingga diharapkan para Bhuta Kala segera pergi dari lingkungan kita. Pada tingkat desa diadakan arakan Ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan dari Bhuta Kala yang memiliki sifat negatif. Diarak keliling desa kemudian di bakar, tujuannya agar hal-hal yang berbau negatif itu lenyap dan tidak mengganggu kehidupan manusia.

2. Nyepi.
Pada saat Nyepi khususnya di Bali, semua dalam keadaan sepi. Tidak ada aktifitas seperti biasanya, karena pada saat itu diadakan Catur Brata Penyepian yang terdiri dari:
  1. Amati Geni, yaitu tidak boleh menggunakan atau menyalakan api.
  2. Amati Karya, yaitu tidak boleh bekerja.
  3. Amati Lelungan, yaitu tidak berpergian.
  4. Amati Lelanguan, yaitu tidak melakukan suatu hiburan.
    Hari Raya Nyepi di jaga oleh Pecalang
Sehingga Hari Raya Nyepi dapat dikatakan mengandung makna hari penyucian diri (manusia) dan alam semesta. Membuang segala kotoran atau segala hal negatif yang telah lampau untuk menyongsong tahun baru (saka). Dan memulai tahun baru dengan sesuatu yang baru, sesuatu yang positif tentunya. Semangat yang baru untuk mengarungi kehidupan selanjutnya.

3. Ngembak Geni.
Ngembak Geni yang jatuh sehari setelah Nyepi dilaksanakan dengan mengadakan kunjungan antar keluarga maupun para tetangga dan kenalan. Saling memaafkan satu sama lain dengan memegang prinsip TattwamAsi yaitu “aku adalah kamu dan kamu adalah aku”. Posisi kita sama dihadapan Tuhan, walaupun kita berbeda agama atau keyakinan hendaknya kita hidup rukun dan damai selalu.

Demikianlah sedikit gambaran mengenai makna Hari Raya Nyepi khususnya di Bali. Mudah-mudahan perayaanya tahun ini berjalan dengan lancar, walaupun kunjungan wisata baik itu wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara masih ramai datang ke Bali. Karena ada beberapa wisatawan yang khusus datang untuk menikmati atau mengetahui situasi perayaan Hari Raya Nyepi di Bali.

Pengin tau bagaimana serunya merayakan nyepi? dunia sepi bebas dari suara motor, suara musik dan suara lainnya yang ada cuma suara binatang Ayam Kukuruyuk, Anjing Menggonggong, Burung berkicau ini terjadi di Kota Besar Lho.... coba aja datang ke bali pas Hari raya nyepi kalo ga percaya. Tapi ingat kalo jalan-jalan di bali jangan lupa gunakan jasa kami, Penyewaan Sepeda Motor termurah di Bali dengan pelyanan yang ok, ramah, tepat waktu dan akurat tentunya. Silahkan direncanakan perjalanan anda yang efektif dan efisien dan booking disini syarat dan ketentuang.

Sumber : http://www.mediahindu.com/ajaran/makna-hari-raya-nyepi-bagi-umat-hindu-di-bali.html

Thursday, March 5, 2015

Keunikan Pura Goa Giri Putri Nusa Penida Klungkung - Bali

Mulut Goa (Pintu masuk) Giri Putri
nyamenusanet.blogspot.com - Di Bali, banyak terdapat goa yang berfungsi sebagai tempat pemujaan. Dalam salah satu goa di Nusa Penida, ada Pura Goa Giri Putri. Keunikan apa saja yang bisa disimak dari keberadaan pura Kahyangan Jagat yang terletak di Dusun Karangsari, Desa Pakraman Suana, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung ini?
-----------------

Konon, di zaman Neolithikum dulu manusia hidup tanpa norma, tanpa kaidah, hingga berlaku suatu pola normatif homo-homini lupus -- manusia satu menjadi "serigala" bagi manusia yang lain, lantas berlaku hukum rimba, siapa kuat dia menang. Tiap orang berusaha mempertahankan hidup dari keganasan alam, seperti amukan binatang buas, hujan lebat, terjangan angin, dan sengatan sinar mentari. Lalu mereka perlu tempat perlindungan dan reproduksi keturunan demi keberlangsungan hidup. Selain penggunaan goa seperti itu, goa juga konon dijadikan tempat bertapa untuk memohon anugerah langsung dari para dewata.

Dalam goa umumnya terdapat aliran sungai, kelelawar, ular, dan stalagnit (endapan menyerupai batu tumbuh dari bawah goa mengarah ke langit-langit goa) maupun stalagtit (endapan yang menyerupai bebatuan, muncul dari dinding/langit-langit goa mengarah ke lantai goa). Dalam perkembangannya, manusia memikirkan pola kehidupan baru dengan pola permukiman tetap serta dukungan teknologi yang kian canggih agar mampu mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Meski kehidupan kian modern, namun kenyataan menunjukkan bahwa tradisi prasejarah atau kebudayaan di dalam goa tetap eksis dengan fungsi yang terus berkembang atau berubah.

Kata "giri" itu sendiri artinya gunung, pegunungan atau bukit, sementara "putri" berarti wanita. Dalam konsep ajaran Hindu, "putri" yang dimaksud adalah nama simbolis bagi kekuatan Tuhan, memiliki sifat keibuan atau kewanitaan. Jadi Goa Giri Putri adalah sebuah ruang atau rongga dengan ukuran tertentu sebagai tempat bersemayam kekuatan Tuhan dalam manifestasinya berupa wanita (disebut Hyang Giri Putri), tiada lain adalah salah satu sakti dari kekuatan Tuhan dalam wujud-Nya sebagai Siwa. Di sini, Giri Putri adalah nama yang diberikan pada salah satu goa terbesar yang berada di Pulau Nusa Penida.

Tiga Pura
Suasana Pemedeg Melukat di dalam Goa Giri Putri
Pada Purnama Kalima Wraspati Kliwon Klawu, 25 Oktober 2007, merupakan puncak Karya Agung Mamungkah Ngenteg Linggih, Mapeselang Prayungan, lan Pedanan-danan. Piodalan di pura yang di-empon oleh 210 KK Krama Desa Pakraman Karangsari ini dilakukan tiap tahun, yakni pada Purnama Kadasa. Jika masyarakat Bali ingin bertirtayatra ke sana, maka tiga pura utama yang menjadi tujuan adalah Pura Giri Putri, Pucak Mundi, dan Dalem Ped. Biasanya mereka bermalam di Dalem Ped lantaran tempatnya lebih luas, fasilitas mandi dan buang hajat memadai. Pedagang pun banyak, dan suhu udara relatif tak terlalu dingin.

Goa Giri Putri berada pada ketinggian 150 meter di atas permukaan laut, dengan panjang total lebih kurang 262 meter. Ia memiliki empat bagian besar tempat persembahyangan yakni sebuah di luar goa atau pintu masuk dan tiga di dalam goa (depan, tengah, dan belakang). Sebelum 1990, Goa Giri Putri hanyalah sebuah goa yang dijadikan objek wisata lokal, terutama pada hari Raya Galungan dan Kuningan. Air yang berada di dalam goa dijadikan tirta oleh masyarakat Karangsari dalam rangka upacara Panca Yadnya.

Hingga saat ini belum ditemukan prasasti maupun sumber resmi yang memuat tentang Goa Giri Putri, sehingga belum diketahui kapan dan oleh siapa Goa Giri Putri dibangun. Yang jelas goa ini adalah peninggalan Zaman Prasejarah (Hindu), terus hidup dan dipelihara sampai sekarang. Pada 1990, Gubernur Bali saat itu (Prof. Dr. Ida Bagus Mantra) pernah mengadakan kunjungan ke Nusa Penida dan singgah di Goa Giri Putri, memberikan motivasi kepada masyarakat di situ untuk menjaga keberadaan Goa Giri Putri, baik sebagai objek wisata spiritual maupun sebagai tempat persembahyangan. Sejak itulah didirikan sejumlah palinggih tempat pemujaan. Goa itu kemudian diberi nama Goa Giri Putri.

Kondisi fisik Goa Giri Putri pada 1990-an dibanding kondisi sekarang, tampak beda. Dulu goa sangat "mengerikan", gelap, lantai dasar licin, tirta melimpah, dan belum banyak pengunjung. Kini, sebaliknya, terang benderang, lantai dasar tak begitu licin lantaran beberapa bagian sudah dipelester, pun telah tersedia beberapa tangki air. Pintu masuk goa tetap relatif sempit -- hanya dapat dimasuki satu orang saja.

Petunjuk "Niskala"


Pelinggih di Dalam Goa Giri Putri
Sebagaimana ditulis dalam buku "Selayang Pandang Pura Giri Putri" dan diceriterakan oleh I Nyoman Dunia selaku Bendesa Adat serta mangku gede Pura Giri Putri, secara keseluruhan ada 13 buah palinggih di situ dengan berbagai wujud arsitektur dan bahan bangunan. Jika hendak bersembahyang ke Pura Giri Putri, begitu turun di pelataran parkir lantas menyeberang jalan, orang sudah berhadapan dengan jalan berundak-undak. Setelah tiba di atas atau di halaman luar goa, orang akan menjumpai palinggih pertama berbentuk Padmasari, tepat berada di samping kanan depan mulut goa.

Berdasarkan petunjuk niskala yang diterima oleh Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa dari Padukuhan Samiaga, Penatih, Denpasar menyebutkan, di palinggih pertama yang dipuja adalah kekuatan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujudnya sebagai Hyang Tri Purusa menurut ajaran Siwa Sidhanta. Terdiri atas Paramasiwa (Nirguna-Brahman), Sadasiwa (Saguna-Brahman), dan Siwatma (Jiwatman). Lalu di sebelah kiri pintu masuk goa ada Hyang Ganapati berwujud Lingga Cala dari bahan batu karang sebagai penjaga pintu masuk goa. Di halaman depan goa juga dilengkapi dengan bangunan penunjang sebagai tempat pesandekan atau menerima tamu.

Bila usai bersembahyangan di palinggih Tri Purusa, orang segera dapat memasuki Goa Giri Putri. Biasanya orang yang baru datang pertama kali ke tempat ini akan merasa takut atau waswas mengingat mulut goa sangat kecil, hanya bisa dilalui satu orang saja. Namun itu hanya berjarak sekitar tiga meter, setelah melewati itu, orang-orang akan tercengang dan takjub, karena tidak menyangka sebelumnya bahwa rongga goa sangat lebar dan tinggi serta bisa menampung sekitar 5.000 orang. Tatkala terowongan kecil dilewati, orang akan dapat melihat dua palinggih di dalam bagian depan goa.

Palinggih ketiga, Hyang Sapta Patala, berupa Padmasari dengan perwujudan Naga Basuki di bagian ulon. Hyang Naga Basuki adalah salah satu manifestasi Hyang Widhi Wasa dengan sifat penolong, penyelamat dan pemberkah kemakmuran, diwujudkan dalam bentuk naga bersisik emas berkilauan, penuh pernik mutiara, serta senantiasa berupaya tetap menjaga keseimbangan alam bawah (pertiwi) demi kesejahteraan umat manusia beserta makhluk lainnya. Di samping kanan Hyang Naga Basuki ada palinggih keempat, Pengayengan Ratu Gede berwujud Lingga Cala. Dengan demikian goa ini berfungsi sebagai tempat memohon keselamatan dan ketenteraman umat manusia.

Selanjutnya di bagian tengah-tengah goa dijumpai lima palinggih -- tiga di bawah dan dua di atas. Palinggih di bagian bawah sebelah utara berwujud Padmasari, stana Hyang Giri Pati/Siwa. Di sebelah kiri Padmasari ada panyineban Ida Bhatara berwujud Gedongsari. Lalu di bagian bawah selatan ada tempat palukatan dari Hyang Dewi Gangga, dan palinggih Hyang Tangkeb Langit di sebelah barat tangga yang berwujud gedong masif. Sebelum melakukan persembahyangan, di tempat ini wajib melakukan palukatan dasa mala dengan memohon kepada Hyang Giri Putri, Dewi Gangga, dan Hyang Giri Pati agar secara lahir dan batin terlepas dari hal-hal negatif.

Di bagian tengah atas agak ke pinggir ada palinggih Hyang Giri Putri berwujud Padmasari dengan palinggih Pengaruman di samping kiri sebagai tempat men-sthana-kan simbol Dewa-dewi berupa arca dan rambut sedana, serta di sisi kanan ada sumber air suci. Yang unik, keberadaan palinggih ini di tengah-tengah atas dinding goa, agar bisa tangkil orang mesti menaiki tangga baja yang terbuat dari bahan plat mobil. Di bagian dalam dengan jarak sekitar tujuh meter, ada Payogan (peraduan) Hyang Giri Putri - Hyang Giri Pati yang berwujud Padmasari.

Di tempat ini masyarakat biasanya melakukan tapa, yoga dan semadi. Bagian inti goa ini dikelilingi ornamen-ornamen alam yang unik seperti ada taman tirta, warna-warni dinding goa (stalagnit dan stalagtit) diselingi dentingan percikan air dari langit-langit goa dan suara kelelawar. Tempat ini merupakan sthana Hyang Giri Putri sebagai pengendali kekuatan-kekuatan yang ada di dalam goa. Di sinilah orang dapat memohon penyembuhan penyakit melalui percikan tirta suci oleh pemangku atau pangelingsir.

Kahyangan di Dalam Goa Giri Putri
Kemudian pada bagian ujung barat goa ada empat palinggih. Satu berwujud Padmasari sebagai sthana Hyang Siwa Amerta/Mahadewa, sebuah Gedongsari sthana Hyang Sri Sedana/Ratu Syahbandar, sebuah patung Dewi Kwam Im, serta altar Dewa Langit. Semua itu merupakan Dewa Pemurah, Pengasih dan Penyayang serta Dewa-dewi Kemakmuran. Di bagian ini para pamedek dapat melihat dengan jelas pancaran sinar matahari dan indahnya alam sekitar khususnya Gunung Kila (Pura Semuhu) di kejauhan.

Sekarang di bagian ini sudah ada bangunan pendukung (toilet), dilengkapi tangga sebagai sarana keluar goa. Bagian ini jelas memperlihatkan terjadi perpaduan konsep Siwa-Buda di Pura Goa Giri Putri sebagaimana halnya yang biasa terjadi di pura-pura besar lainnya di Bali. Sebenarnya, di dalam Goa Giri Putri ini masih banyak terdapat onggokan (Lingga Cala) batu karang besar dan kecil serta goa-goa kecil di kiri-kanan dinding goa, sehingga kemungkinan besar jumlah palinggih juga akan terus bertambah.

Sumber : http://www.babadbali.com/pura/plan/gua-giri-putri.htm

Monday, March 2, 2015

Goa Gala-gala "Underground House" Destinasi Pariwisata Pilihan Nusa Penida Lembongan

Pintu Masuk Goa Gala-gala di Lembongan Nusa Penida
nyamenusanet.blogspot.com - Nusa Lembongan memiliki banyak objek wisata terutama kawasan pantai dan keindahan bawah lautnya, merupakan bagian wilayah Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, bukan saja memiliki daya tarik karena kecantikan alamnya seperti pesona pantai pasir putih, gelombang ombak yang menggoda serta keindahan bawah lautnya, tapi juga memiliki tempat unik yaitu rumah bawah tanah dinamakan Goa Gala-gala, sehingga menjadikannya sebagai salah satu destinasi top dari sekian banyaknya objek wisata di Bali.

Rumah tersebut dibangun pada tahun 1961 dalam kurun waktu sampai 15 tahun oleh seorang jero Mangku Dalang bernama Mangku Byasa, beliau juga berprofesi sebagai petani juga seorang pertapa, proses pengerjaannya pada masa tersebut masih menggunakan alat-alat konvensional seperti linggis, menggunakan banyak kotoran sapi yang dibakar sehingga batu kapur lebih mudah digali, goa tersebut kemudian dijadikan tempat tinggalnya, sebuah maha karya yang sangat pantas untuk dihargai dan dijadikan situs warisan budaya.

Jika anda masih berada di pulau Bali terutama Kuta, Legian ataupun Nusa Dua, bersiaplah menyeberang dari pantai Matahari terbit Sanur, di sini banyak provider fast boat atau kapal cepat yang siap mengantar anda menuju Nusa Lembongan. Butuh sekitar 30 menit perjalanan laut, setelah anda berlabuh di dermaga Jungut Batu atau Mushroom Bay anda bisa sewa motor ataupun mobil bak terbuka dengan supir menuju ke Goa Gala-Gala, sekaligus melanjutkan tour mengunjungi objek wisata di Nusa Lembongan lainnya.

Areal tempat dibangunnya Goa Gala-gala ini, di bawah lahan sekitar 4 are, di areal ini terdapat pelinggih (bangunan suci), 2 buah bangunan rumah adat tempat memajang kain tenun endek dan cepuk hasil kerajinan penduduk di Pulau Nusa Penida dan sumur serta tidak ketinggalan photo-photo almarhum Mangku Byasa, kemudian ada 3 buah pintu masuk menuju ke rumah bawah tanah tersebut, untuk masuk ke dalamnya anda harus menuruni anak tangga sekitar 2 meter, rumah yang dalam bahasa Inggrisnya dinamakan juga Underground House ini, lorongnya sampai pada kedalaman 7 meter dibawah permukaan tanah, didalamnya anda menyusuri lorong-lorong dan juga terdapat sejumlah ruangan dengan fungsi berbeda seperti ada tempat meditasi, ruang tidur, ruang tamu, dapur dan juga sumur, dibeberapa sudut ruangan dilengkapi lampu penerang. Ruang-ruang di bawah tanah ini tidak terlalu tinggi antara 1-2 meteran, sehingga pengunjung kadang-kadang harus membungkuk, dalam ruangan cukup sejuk.

Goa Gala-gala ini menjadi tujuan wisata top di Nusa Lembongan, apalagi tamu-tamu yang ikut Bali Hai Cruise berlayar dari daratan utama Bali, memprogramkan vilage tour mereka ke rumah bawah tanah ini, sehingga sehari-harinya selalu saja ada wisatawan yang berkunjung. sarana transportasi untuk berkunjung ke pulau yang masih menjadi bagian wilayah Bali ini, bisa menggunakan wahana fast boat/ kapal cepat dari pesisir pantai Sanur. Karena memang pulau Nusa Lembongan menjadi destinasi populer sekarang ini, beberapa aset wisatanya seperti kawasan pantai pasir putih, terumbu karang serta biota lautnya menjadi tempat idaman untuk snorkeling maupun diving dan juga wisata hutan mangrove, menjadi primadona di hati wisatawan.

Tiang Penyangga atau ruangan di dalam Goa Gala-gala
Mangku Byasa yang juga akrab dipanggil Pan Kerti terinspirasi untuk membangun Goa Gala-Gala dari epos/ cerita Mahabarata, apalagi profesinya sebagai dalang memahami betul cerita yang terkandung di dalamnya. Dalam cerita pewayangan di episode Wana Parwa dikisahkan kehidupan keluarga pandawa di tengah hutan, terusir dari keluarga besarnya karena kalah taruhan dalam permainan judi dengan pihak keluarga Kurawa, dalam pengasingannya ini mereka harus menyamar selama 12 tahun, banyak tantangan serta pelajaran hidup yang mereka dapatkan di dalam hutan. Untuk menjaga keamanan serta kawatir pihak Kurawa akan membunuh keluarga mereka, maka Pandawa membangun sebuah yang dinamakan Gala-gala. Mangku Byasa menyelami kehidupan Pandawa saat pengasingan, ditambah lagi kegemarannya sebagai seorang pertapa, sehingga terinpirasi untuk membangun goa ini.

Jalan-jalan ke bali jangan lupa gunakan jasa kami, Penyewaan Sepeda Motor di Bali, kami siap melayani dengan ramah, efektif dan efisien. Armada yang kami sediakan terbaru dan terawat. untuk pemesanan bisa lihat di sini, untuk syarat dan ketentuan klik disini.

Sumber : http://www.balitoursclub.com/berita_253_Goa_Gala-gala.html

Sunday, March 1, 2015

Ogoh-ogoh Symbol Butha Kala pada Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka

Ogoh Ogoh Symbol Butha Kala
nyamenusanet.blogspot.com - Ogoh-ogoh merupakan budaya di bali, kehadirannya menjadi salah satu pelengkap ritual di bali. Sehari sebelum nyepi, masyarakat hindu khususnya di Bali, melaksanakan tradisi pengerupukan. Tradisi semacam prosesi mengembalikan Bhuta Kala ke asalnya menurut kepercayaan, mereka di bangunkan dengan alat-alat , umumnya, Obor, Api, Saprakpak, Sembur meswi, Bunyi-bunyian kentongan yang di bawa mengelilingi seisi rumah berwujud "ogoh-ogoh" Sang Bhuta Kala lalu di arak menuju cetus peta, perempatan.

Pawai Ogoh-ogoh selalu di adakan tiap kali menyambut hari raya nyepi. Rupa mereka direka sedemikian rupa dengan variasi bentuk menyeramkan, ada yang berwujud raksasa, penjelmaan dewa-dewi dalam murti-nya, mengambil cerita tokoh dari pewayangan atau memakai figure-figur yang sedang popular, mereka di rakit memadukan estetika seni yang memikat secara visual.

Fungsi utama “ogoh-ogoh” adalah sebagai representasi Bhuta Kala yang dibuat menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, dimana “ogoh-ogoh” tersebut akan diarak beramai-ramai keliling banjar atau desa pada senja hari sehari sebelum Hari Raya Nyepi (Pangrupukan). Menurut para cendekiawan dan praktisi Hindu Dharma, prosesi ini melambangkan keinsyafan diri manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang maha dashyat. Kekuatan tersebut meliputi kekuatan “Bhuana Agung” (alam raya) dan “Bhuana Alit” (diri manusia). Dalam pandangan filsafat (tattwa), kekuatan tersebut dapat mengantarkan makhluk hidup di alam raya, khususnya manusia dapat menuju kebahagiaan atau kehancuran. Semua itu tergantung pada niat luhur manusia, sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia dalam menjaga dirinya sendiri serta seisi dunia.

Hamper setiap tahun keberadaan ogoh-ogoh bek penggenap wajib dalam tradisi menyambut nyepi, pawai semarak selalu menjadi atraksi yang di nantikan,kebanyakan orang pasti bertanya perihal cikal bakal ogoh-ogoh dalam tradisi menyambut nyepi, penamaan ogoh-ogoh pun diambil dari sebutan ogah-ogah dari bahasa bali, artinya sesuatau yang di goyang-goyangkan, ogoh-ogoh di abadikan bahkan dalam sebuah lagu bali yang cukup popular. Kata-kata itu di cantumkan sebagai lirik berbunyi”ogah-ogah, ogoh-ogoh, kala-kali lumamapah/ogah-ogah, ogoh-ogoh, ngiterin dese.

Tahun 1983 bisa menjadi bagian penting dalam sejarah ogoh-ogoh di bali. pada tahun itu mulai di buat wujud-wujud bhuta kala dengan ritual nyepi di bali. ketika itu ada keputusan presiden yang menyatakan nyepi sebagai hari libur nasional, semenjak itu masyarakat mulai membuat perwujudan onggokan yang kemudian disebut ogoh-ogoh, di beberapa tempat di bali. Tradisi mengembalikan bhuta kala ke asalnya di hari pengerupukan,  disimbulkan dengan ogoh-ogoh, mirip tradisi lama masyarakat hindu di bali seperti tradisi Barong Landung, tradisi Ndong Nding, dan ngben ngwangun yang menggunakan ogoh-ogoh sang kalika, bisa juga di rujuk untuk menelusuri cikal bakal wujud ogoh-ogoh.


Bentuk Dan Makna Ogoh-Ogoh Di Bali
Sebelum hal ini dapat memberikan sedikit gambaran mengenai kepercayaan yang di yakini oleh orang bali, yaitu hal-hal yang terjadi di dunia ini sebelum berpasangan, sebagai contoh sebagai orang baik dan ada orang jahat, ada kematian dan ada juga bayi yang baru lahir, atau pemahaman lebih sederhana yaitu ada warna hitam dan ada warna putih, jadi apapun yang terjadi dalam kehidupan manusia selalu berjalan dengan seimbang, jadi ritual meminum arak bagi orang yang mengarak ogoh-ogoh di anggap sebagai perwakilan dari sifat buruk yang ada di dalam diri manusia. Masyarakat bali memiliki persepsi bahwa ogoh-ogoh mempersentasikan sifat jelek atau buruk yang ada di dalam diri manusia, oleh karena itu masyarakat bali membuat ogoh-ogoh sebelum hari raya nyepi, dimana mereka melaksanakan tapebrata selama hari raya nyepi, setelah ogoh-ogoh selesai di buat dan di lanjutkan dengan diarak atau di bawa berkeliling desa, 

waktu untuk mengarak ogoh-ogoh pada sore hari di sebut pengerupukan, setelah itu ogoh-ogoh wajib di bakar sebagai symbol telah hilangnya sifat jelek atau buruk yang ada di dalam diri manusia, sehingga mereka siap melakukan tapabrata di hari raya nyepi dikeesokan harinya. Hari raya nyepi di bali merupakan hari raya yang sangat penting, di mana mereka di wajibkan merenungkan segala perbuatan mereka selama satu hari penuh, 

Jadi membuat ogoh-ogoh dengan bentuk meyeramkan pun bukan bermaksud untuk menghina tapi lebih kepada menghormati keberadan dari roh-roh atau pengaruh jahat yang ada di alam ini, sebelum memulai pawai ogoh-ogoh para peserta upacara atau pawai biasanya melakukan minuman minuman keras yang di kenal dengan nama arak,

sebenarnya hal ini dapat memberikan sedikit gambaran mengenai kepercayaan yang diyakini oleh orang bali, yaitu hal-hal yang terjadi di dunia ini selalu berpasangan, jadi apapu yang terjadi dalam kehidupan manusia selalu berjalan dengan seimbang. Dengan keberadaan arak-arakan “Ogoh-Ogoh” yang sudah menjadi tradisi inilah yang menambah daya tarik wisatawan baik mancanegara maupun nusantara. Karena selain memiliki keindahan tempat-tempat wisata, Bali pun memiliki kekayaan budaya yang menjadi andalan kepariwisataan. Serasa belum lengkap bilamana wisatawan berkunjung tidak melihat prosesi “Ogoh-Ogoh” pada penyambutan Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka.

bagi sahabat Nyamenusanet.blogspot.com yang mau datang ke bali dan ingin menyaksikan pawai Ogoh-ogoh datanglah pada saat peryaan hari raya nyepi yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. untuk lebih efektif dan efisien perjalanan sahabat jangan lupa gunakan jasa kami Penyewaan Sepeda Motor di Bali, dengan biaya sewa yang murah, pelayanan ramah, kondisi motor Prima dan terbaru. untuk syarat dan ketentuan bisa dilihat disini.


Thursday, February 26, 2015

Tujuan Wisata Non Pantai di Bali yang Wajib untuk Dikunjungi

Danau Beratan
nyamenusanet.blogspot.com - Sebagai tempat tujuan wisata dunia, Bali menawarkan sejuta pesona kepada siapa saja yang meluangkan waktu untuk mengunjunginya. Di dalam wilayah yang hanya seluas 153 x 112 km persegi ini, Bali bisa dikatakan sebagai salah satu tempat wisata yang memiliki tempat tujuan wisata paling lengkap. Sayangnya, selama ini bila Anda bertanya kepada para wisatawan baik lokal maupun mancanegara apa yang menarik dari pulau Bali, rata-rata dari mereka akan langsung menjawab pantainya. Bali memang memiliki pantai-pantai yang indah, tetapi bila Anda memiliki jiwa petualang dan benar-benar menyukai sesuatu yang baru, maka saat Anda mengunjungi pulau Bali ada baiknya tidak hanya mengunjungi pantai-pantainya saja. Oleh karena itu, berikut ini adalah 7 destinasi wisata non pantai di Bali yang sebaiknya Anda pertimbangkan untuk mengunjunginya:

1. Rafting
Lokasi Rafting di BALI

Bila Anda termasuk orang yang menyukai tantangan, ada baiknya ketika berada di Bali, Anda mencoba wisata yang membutuhkan kekuatan otot-otot tangan dan kaki ini. Rafting termasuk ke dalam jenis olahraga air. Di Bali, rafting bisa dilakukan di beberapa sungai terkenal seperti sungai Telaga Waja atau di sungai Ayung di desa Payangan Ubud. Siapkan fisik Anda dengan sebaik mungkin karena Anda akan menuruni ribuan anak tangga untuk bisa mencapai sungai yang berada jauh di bawah, kemudian Anda akan melakukan rafting ria selama kurang lebih sekitar 2,5 jam. Belum selesai sampai di situ setelahnya Anda harus menaiki kembali ribuan anak tangga untuk bisa kembali ke atas ke tempat peristirahatan untuk menikmati makanan serta minuman yang telah disediakan oleh pihak pengelola wisata raftingtersebut.


2. Air Terjun Sekumpul


Air Terjun Sekumpul
Berkendara sekitar 2 jam dari Denpasar menuju ke arah Singaraja, Anda akan melewati sebuah hutan di kawasan Buleleng. Di balik hutan tersebut tersembunyi sebuah air terjun yang sangat bagus sekali bernama Air Terjun Sekumpul. Di Air Terjun Sekumpul, Anda tidak akan menemukan satu buah air terjun saja, tetapi ada tujuh buah air terjun di kawasan ini. Akses jalan dari tempat parkir kendaraan menuju ke Air Terjun Sekumpul sangat mudah sehingga anak-anak, orang tua hingga kakek dan nenek Anda pasti bisa melakukannya. Namun, karena lokasinya yang masih belum terlalu dikenal sehingga membuat air terjun ini akan terkesan sangat sepi sekali.

3. Desa Adat Penglipuran
Desa Adat Panglipuran

Lokasi desa adat Penglipuran terletak di daerah Kubu kabupaten Bangli. Desa ini berada di ketinggian sekitar 600-700 m di atas permukaan laut sehingga membuat udaranya sangat sejuk. Untuk bisa mengunjungi tempat ini, Anda tidak akan menemukan transportasi umum. Oleh karena itu, Anda harus menggunakan kendaraan pribadi atau menggunakan kendaraan sewa bila tidak ingin tersesat nantinya. Biaya tiket masuk dan parkir kendaraan cukup murah jadi Anda tidak perlu mengkhawatirkannya.

4. Bukit Jambul
Bukit Jambul
Sama seperti di daerah Tegalalang-Ubud, Bukit Jambul juga menawarkan pemandangan terasering persawahan khas Bali yang sangat indah. Lokasi Bukit Jambul berada tempat di bawah kaki gunung Agung, di desa Pesaban dekat dengan perbatasan antara kabupaten Klungkung dan Karangasem.





5. Kebun Raya Bedugul

Kebun Raya Bedugul
Sama seperti kebun raya di kota-kota lain, Kebun Raya Bedugul memiliki ribuan koleksi tanaman baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri, akan tetapi Kebun Raya Bedugul memiliki keunikan tersendiri karena berada di atas ketinggian sehingga udara akan selalu terasa sejuk sepanjang hari. Kemudian, bila Anda terus melanjutkan perjalanan Anda hingga ke atas Anda akan bisa melihat keindahan danau Bratan dari tempat ini.


6. Danau Bratan
Danau Beratan

Setelah Anda puas menikmati koleksi tanaman serta udara sejuk di Kebun Raya Bedugul, kini bila Anda tidak ingin jauh-jauh melanjutkan perjalanan, Anda bisa menuju ke obyek wisata berikutnya ke Danau Brantan. Tidak sampai memakan waktu lebih dari 20 menit, Anda akan bisa melihat danau Bratan dengan segala keindahannya. Uniknya lagi, Anda akan melihat sebuah pura yang dibangun di atas air. Pura tersebut bernama pura Ulun Danu.

7. Taman Tirta Gangga
Taman Tirta Gangga
Diperlukan waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Denpasar untuk bisa sampai di tempat ini. Lokasi Taman Tirta Gangga berada di desa Abang, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem. Dulunya Taman Tirta Gangga merupakan tempat peristirahatan bagi anggota keluarga raja Karangasem terakhir, Anak Agung Gede Jelantik. Di Taman Tirta Gangga, Anda akan bisa menikmati warisan budaya yang masih terjaga hingga saat ini. Arsitektur bangunannya merupakan perpaduan antara gaya Eropa, Cina, dan tradisional Bali.

Keunikan dari pulau dewata Bali tidak akan pernah ada habisnya untuk dieksplorasi. Ketujuh tempat di atas hanya mewakili sedikit dari ribuan tempat wisata menakjubkan yang membutuhkan waktu berhari-hari lamanya supaya bisa dijelajahi. Selamat berlibur dan semoga kunjungan Anda ke pulau Dewata Bali kali ini memiliki kesan tersendiri bagi Anda dan keluarga.

Pengin menikmati Wisata non-Pantai di Pualu Dewata Bali di atas sangat cocok menggunakan jasa kami Rental Sepeda Motor di Bali dengan pelayanan yang ramah dan harga bersaing dan yang lebih penting kondisi motor yang kami sediakan terbaru dan dijamin terawat. Untuk syarat dan ketentuan dapat dilihat disini.

Sumber : http://keluarga.com/keluarga/7-destinasi-wisata-non-pantai-di-bali-yang-wajib-untuk-dikunjungi

Thursday, February 19, 2015

Tradisi Mesbes Bangke (Mencabik Mayat) Warga Banjar Buruan, Desa Tampaksiring Bali

Tradisi Mesbes Bangke (mencabik Mayat)
nyamenusanet.blogspot.com - Tradisi yang cukup ekstrem dan seram masih berlaku di salah satu desa Tampaksiring, Gianyar. Bagi masyarakat awam yang tak mengetahui dan baru melihat akan merasakan kepiluan bila melihat tradisi mencambik mayat (Mebes bangke) yang dilakukan oleh warga di desa Tampaksiring.

“Mayat yang tengah digarap (istilah proses pencabikan) itu dicabik‐cabik oleh warga menggunakan gigi, ada juga pakai tangan.  Setelah  tiba  di  sungai  dekat  kuburan,  pencabik  melepaskan  mayat  dari  joli  untuk dipermainkan.  Dibawa  lari  ke  sana‐sini.  Setelah  capek,  barulah  mayat  dikremasi,"  ujar Kelian Dinas dan Adat Banjar Buruan I Ketut Darta, usai tradisi ngarap mayat di banjarnya seperti dikutip tribunnews.com, Minggu (30/11) lalu.

Kelian  Dinas  dan  Adat  Banjar  Buruan,  Desa  Tampaksiring,  Gianyar  ini  mengungkapkan, pelaksanaan  tradisi  tersebut  dilakukan  setiap  ada  warga  yang  menghelat  ritual  ngaben secara personal.

"Di sini ada sistem ngaben kolektif dan ngaben pribadi. Bisa saja orang yang meninggal itu dikubur.  Tapi  kan  itu  juga  harus  sesuai  dengan  hari  baik.  Kalau  tidak  ada  hari  baik  untuk mengubur  mayat,  maka  harus  ngaben  langsung  atau  ngaben  pribadi.  Saat  ngaben  pribadi inilah, tradisi ngarap dijalankan," jelasnya.

Ketut  Darta  menjelaskan,  tidak  ada  sastra  tertulis  yang  menyebutkan  tentang  keberadaan tradisi ini. Menurut penuturan para tetua di Banjar Buruan, tradisi ini muncul karena pada zaman  dahulu  sebelum  ada  formalin,  setiap  mayat  baunya  sangat  menyengat  sehingga warga  tidak  bisa  membawa  ke  kuburan.    Dengan  kodisi  tersebut,  muncul  ide  untuk melupakan bau busuk, krama mengarak sambil mempermainkan mayat itu. "Agar  tidak  ngadek  (mencium)  bau  busuk  saat  mengarak, makanya ngarap (mempermainkan mayat)," ucap pensiunan guru SDN 4 Tampaksiring itu.

Kelian  yang  menjabat  sejak  tahun  2009  ini  menuturkan,  saat  ngarap  warga  tidak memandang  stratifikasi  sosial.  Apabila  mereka  menggunakan  sistem  ngaben  personal untuk upacara Pitra Yadnya, tetap akan diperlakukan sama.

"Tapi  kalau  pemangku  atau  sulinggih,  kami  pergunakan  suatu  taktik  supaya  warga  tidak ngarap.  Taktinya  adalah  menggelar  ritual  mekingsan  ring  gni.  Kalau  tidak  begitu  bisa runyam masalahnya," katanya.

Dartha menyebut, yang boleh ikut dalam tradisi ngarak ini hanya warga setempat. Bila ada warga  luar  yang  ikut,  akibatnya  fatal,    secara  tidak  sadar    massa  akan  mengeroyok  orang itu.

Sebelumnya,  tahun  1980‐an,  tradisi  ngarak  ini,  mayat  sampai  dikeluarkan  dari  kaputnya. Namun,  kini  tradisi  ngarak  sudah  sedikit  tidak  terlau  ekstrem.  Untuk  mengantisipasi  hal itu lagi, pihak keluarga dan prajuru banjar melapisi mayat dengan banyak pembungkus. Di antaranya, tikar, kain, diikat rantai lebar 5 cm, dan dikaput lagi pakai tikar, kain dan diikat lagi menggunakan rantai 3 cm.

"Pengaputan  ini  juga  untuk  menghindarkan  warga  dari  penyakit.  Siapa  tahu  sewaktu
masih hidup, mayat itu punya penyakit menular," kata Dartha.
Pro dan kontra pun bermunculan.

Sumber : http://hindudamai.blogspot.com/2015/01/video-mesbes-bangke-tradisi-mencabik.html

Thursday, February 12, 2015

Tips dan Trik Liburan Asik, Nyama dan Aman di Bali

nyamenusanet.blogspot.com - Ada beberapa tips, untuk panduan anda selama liburan atau wisata dalam perjalanan tour di pulau dewata Bali, sehingga harapan berlibur untuk mendapatkan kepuasan, keceriaan bersama orang-orang tercinta menjadi lebih maksimal. Jika anda butuh informasi mengenai tempat menarik yang perlu anda kunjungi di Bali klik disini.

Berikut tips saat liburan saat anda berkunjung ke Balii :
  • KARTU identitas berupa KTP (kartu tanda penduduk) atau SIM (surat ijin mengemudi) untuk keperluan regristasi saat tiba di hotel.
  • Selama liburan ke Bali dan berencana tour, taruhlah dulu barang-barang penting anda di safe security box tempat menginap, karena hampir setiap hotel di Bali memiliki fasilitas ini, kalau tidak berada dalam kamar biasanya ada pada kantor depan.
  • Bawa uang tunai, karena pada saat kondisi darurat daerah wisata / desa terpencil di Bali, pada saat kartu kredit / debit tidak bisa digunakan.
  • Jika anda mengendarai/ sewa motor, dijalan kehilangan arah, tanyalah dengan orang-orang sekitar yang anda temui dengan sopan, bisa dipastikan mereka akan memberikan informasi yang mereka tahu.
  • HORMATI rombongan yang tengah melakukan prosesi keagamaan yang berjalan pelan. Jangan pernah membunyikan klakson.kalau anda sedang berjalan kaki jangan berjalan didepan orang yang sedang berdoa, jangan gunakan flash ketika ambil gambar dengan kamera, dan jangan pernah duduk lebih tinggi dari pendeta yang memimpin upacara.
  • LAKUKAN tawar-menawar saat berbelanja, kecuali jika pada barang yang dijual sudah tertera harga pas seperti barang-barang pasar oleh-oleh khas Bali Krisna.
  • JANGAN memberi perhatian atau mencoba menawar kepada orang yang menawarkan barang atau jasa (seperti jasa pijat kaki saat berada dikawasan pantai) jika Anda memang tidak tertarik atau tidak punya rencana untuk membeli atau memakai jasa mereka.
  • KETIKA berenang diwilayah pantai, jangan berenang diarea terlarang yang sudah diberi tanda, karena arus laut bisa sangat deras. Berenanglah diantara bendera kuning dan merah.
  • Kalau anda ikut tour dan berkunjung ke objek wisata di Bali seperti tempat suci Pura, perhatikanlah pemberitahuan yang biasanya terpampang dipintu gerbang, seperti KHUSUS untuk perempuan, jangan memasuki pura jika Anda sedang mengalami mensturasi.
  • JANGAN membawa narkoba. 
Demikian beberapa tips liburan di Bali semoga bermanfaat.

SELAMAT MENIKMATI WISATA ANDA SELAMA LIBURAN DI BALI !!!!!!!!!!!!

Sebagai penyedia aktifitas yang dibutuhkan oleh para traveller, sepertinya perlu kami sampaikan kalau kami nyamenusanet menyediakan jasa Penyewaan Sepeda Motor. Anda bisa memanfaatkan jasa kami jika ingin menentukan sendiri rute perjalanan yang mau dipilih sendiri kalau sudah tahu rute/ jalan menuju ke tempat tersebut.

Obyek Wisata Jatiluwih Tabanan-Bali

Jatiluwih Bali
Jatiluwih
nyamenusanet.blogspot.com -  Jatiluwih termasuk salah satu objek wisata dengan panorama indah. Variasi panorama sawah berundak-undak berlatar belakang gunung berhutan lebat. Daerah persawahan ini berbentuk teras, memiliki luas sekitar 636 hektar. Sawah ini menggunakan sistem pengairan subak yaitu sistem pengairan atau irigasi tradisional Bali. Jika dalam liburan anda ingin menikmati pemandangan alam yang indah cobalah tour ke lokasi ini, pengunjung akan dibuat berdecak kagum

Jatiluwih memiliki hawa sejuk karena terletak pada ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Jatiluwih terletak 58 km dari Bandara Ngurah Rai. Lokasinya 28 Km, bagian utara kota Tabanan, Bali. Kalau perjalanan dengan mobil bisa dtempuh sekitar 1.5 jam. Melakukan perjalanan ataupun tour ke sini, anda bisa juga mengunjungi Bedugul dan tempat wisata Tanah Lot, karena satu jurusan perjalanan. Gunakan Sepeda Motor lebih cepat efektif dan efisien.

Jatiluwih
Selain menikmati keindahan, kesejukan panorama alam pegunungan, Jatiluwih juga meyimpan atraksi menarik dalam upacara keagamaan unik, dirayakan setiap 210 hari sekali yaitu pada hari Wali, Petoyan, Patirtan, Rabu kliwon Ugu. Pada upacara puncaknya dipentaskan juga tarian Wali Pendet sakral, tarian ini jarang dipentaskan, kecuali pada hari-hari perayaan sebuah upacara. Perayaan iIni sebagai sujud syukur atas anugrah yang dilimpahkan-Nya, mendoakan agar alam tetap seimbang. Pura Petali terletak berdekatan dengan kawasan ini, merupakan tempat penyatuan rohani ideal, yang haus suasana spiritual, damai dan penuh ketenangan di sinilah tempatnya.

jatiluwih
Oleh badan dunia UNESCO, Jatiluwih dijadikan Cagar budaya dunia yang harus dilestarikan, ini menjadi kabar baik bagi Bali, karena tempat asri ini lebih memungkinkan untuk tetap lestari, apalagi hamparan persawahan eksotik seperti ini tidak akan bisa ditemukan ditempat lainnya, sehingga satu-satunya hamparan sawah berundak dengan latar belakang pegunungan hanya dimiliki oleh Kabupaten Tabanan ini.

Tenggelam kemudian larut dalam suasana alam persawahan, mempesona berlatar belakang gunung Batukaru, terlihat kokoh biru berwarna hijau, adalah hal wajar, karena suasana alamnya sejuk larut karena semilir angin segar khas pegunungan, apalagi disekitarnya terdapat banyak tanaman tropis, terhampar menyejukkan mata, pengunjung akan dibuat terlena dengan keagungan Tuhan ini, sebuah tempat harmonis, nyaris sempurna karena keindahan yang disuguhkannya. Pantas saja Jatiluwih ini menjadi primadona dan dijadikan warisan cagar budaya dunia.

Komitmen kami untuk terus bisa memberikan informasi terlengkap dalam industri pariwisata, untuk itu kami sediakan jasa wisata alternatif Penyewaan Seped Motor, yang bisa membantu perjalanan anda lebih efektif dan efisien.

Sumber : http://www.balitoursclub.com/berita_80_Jatiluwih.html

Monday, February 9, 2015

Makna Perayaan Hari Ulangtahun

Contoh Hadiah Ultah
Zaman sekarang ini, banyak sekali yang sudah multi tafsir makna dari Ulang Tahun itu. Mulai dari perayaan yang dilakukan orang yang merayakan Ulang Tahunnya itu. Seperti contoh, untuk sekarang ini banyak sekali dari anak-anak muda yang merayakan ulang tahunnya dengan sebuah pesta yang meriah dan mewah, mentraktir dan mengundang teman atau kerabat dekat untuk meriahkan di hari yang paling ditunggu-tunggu karena dapat membuat pesta mewah dan sebagainya. Sebenarnya tidak ada salahnya dalam memaknai hari Ulang Tahunnya dengan membuat sebuah pesta atau acara sesuai keinginan masing-masing, hanya saja jangan MELUPAKAN MAKNA SEBENARNYA ULANG TAHUN ITU SENDIRI. Oke saya akan langsung membahas saja tanpa perlu basa-basi lagi !!!

Pertama, mari lah kita sama-sama mendefinisikan kembali arti dari ULANG TAHUN itu. Ulang tahun merupakan hari kelahiran seorang anak baru di dunia ini atas karunia Tuhan Yang Maha Esa melalui seorang tubuh Perempuan/Ibu dengan cara melahirkan. Yang perlu kita renungkan bersama adalah di detik-detik menegangkan seorang Ibu melahirkan seorang Anak, seorang Ibu rela mempertaruhkan HIDUPNYA SENDIRI DEMI SANG ANAKNYA, Nah Kenapa bisa begitu ???

Karena pada saat Ibu kita melahirkan, Ibu kita berada dalam dua pilihan, yaitu ANTARA HIDUP DAN MATI DEMI UNTUK MELAHIRKAN KITA. Nah misalkan sekarang ini, sudah mengetahui kondisi seperti itu, ketika setiap tahun menjelang ulang tahun dengan mengingatnya dengan sebuah perayaan yang meriah dan mewah-mewah bersama kerabat atau teman sudahkah TEPAT SASARAN ATAU BELUM ??? Silakan dijawab sendiri dalam HATI saja. Coba lah direnungkan bersama, Ibu kita bersusah payah melahirkan kita pada waktu itu dengan mempertaruhkan nyawa sendiri, sedangkan kita setelah terlahir di dunia ini seakan-akan lupa mengucapkan RASA SYUKUR DAN TERIMA KASIH kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Ibu, karena tanpa MEREKA kita ini tidak mungkin bisa berada di dunia saat ini. Masih pantas kah kita mengingat ulang tahun kita dengan sebuah pesta yang mewah bersama teman atau kerabat, disamping kita tidak pernah mengucapkan rasa TERIMA KASIH kepada Ibu kita telah melahirkan kita dan seharusnya mengingat Hari Ulang Tahun cukup lah di rayakan dengan PENUH RASA SYUKUR DAN TERIMA KASIH bersama kedua orang tua kita, Terutama IBU kita.

Sekali lagi, bukan berarti merayakan Hari Ulang Tahun dengan PESTA itu SALAH, Bahwa merayakan Ulang Tahun dengan sebuah Pesta tidak lah pernah salah dan berhak dilakukan siapapun yang inginkan melakukannya. Hanya yang perlu di perhatikan adalah BAGAIMANA CARA KITA MEMAKNAI DI HARI ULANG TAHUN ITU. Seperti pepatah mengatakan : " Minum Air Ingat Sumbernya ". Artinya : Ingat lah Kenapa Pada Hari ini Kita Ada, Semua Tidak Lepas dari Seorang Ibu Kita Yang Rela Biarkan Tubuhnya yang Cantik dan Indah Rusak Demi Melahirkan Kita.

Sebagai Penutup, ada sebuah Ungkapan dari saya yang semoga bisa membuat kita sadar sebagai seorang anak apa yang seharusnya kita lakukan dan bagaimana kita memaknai Hari ULANG TAHUN sebenarnya. Ungkapannya Berbunyi :

" Saat kita semakin bertambah usia dan dewasa dari waktu ke waktu, ada hal yang kita lupakan dari semua kebahagiaan itu, bahwa secara tidak sadar dengan bertambahnya usia kita orang tua kita menjadi semakin tua dan tua, maka sudah seharusnya, waktunya dan saatnya kita membahagiakan mereka "

Jalan jalan ke bali jangan lupa menggunakan jasa kami Rental Sepeda Motor murah di Bali dengan kualitas motor terbaru dan pelayanan yang rama. Untuk pemesanan bisa dilihat pada syarat dan ketentuan disini.

Sumber : http://www.erdisusanto.com/2013/06/makna-ulang-tahun-sebenarnya.html