Wednesday, August 12, 2015

Tips Penanganan Motor Vario Mogok dari Pengalaman Pribadi.

nyamenusanet.blogspot.com - Bagi pengguna kendaraan bermotor terutama Vario, bila anda parkir dan saat kembali ke kendaraan lalu tiba tiba motor tidak bisa dihidupkan mesinnya padahal aki tidak bermasalah,saat di starter dengan starter kaki juga tidak mau hidup mesinnya artinya ada yang ngerjain motor anda dengan mencabut kabel penghubung perapian ke busi tapi bukan kabel yang ada di busi karena letaknya didalam body motor tapi yang di cabut kabel yang ada di sisi kanan kendaraan dekat diatas pijakan kaki, memang tidak kelihatan tapi klo diraba akan bisa kita sentuh dan ternyata ini sudah sering terjadi di seputaran parkir jalan pantai 66 legian.

Menurut bengkel motor yg sering menerima datangnya orang mendorong motornya karena tidak tahu mengapa motor mati seketika termasuk yang dialami tamu yang nyewa motor kita...

Motif pelaku utk mendapatkan uang dari korban dan sasarannya bule.
- Pelaku pura-pura membantu stlh motor bisa di hidupkan minta uang jasa
- bila tamunya tinggal jauh pelaku menyuruh korban meninggalkan kendaraan dan menawarkan jasa antar ke hotelnya dgn imbalan tinggi stlh korbannya tiba di hotel.

Semoga info ini bermanfaat untuk kita semua terutama sesama scooter rental yg motornya sering disewa torist atau tamu lokal. yang mempunyai motor metic ini juga bermanfaat sekiranya jika mengalami kendala yang sama. Rahayu....

Saya sertakan poto posisi kabel mana yg sering dicabut sama pelaku















Sunday, August 2, 2015

Tips Memilih Paket Liburan Hemat dan tepat di Denpasar Bali


Apakah Anda berencana ingin melakukan liburan dan ingin mengetahui tips memilih paket liburan hemat?  Cekidot !!!

nyamenusanet.blogspot.com - Liburan adalah salah satu cara untuk mewarnai waktu bersama keluarga dan orang-orang yang disayangi. Liburan ini biasanya dilakukan ketika musim libur tiba ataupun bisa dalam cuti bersama.

Anda bisa mengajak semua anggota keluarga untuk menikmati liburan bersama-sama.

Liburan bisa menghilangkan rasa penat, stress karena aktivitas yang padat sehari-harinya dan sebagainya. Jika Anda ingin melakukan liburan, Anda sebelumnya harus memilih paket liburan hemat terlebih dahulu.

Jika tidak direncanakan sejak awal, Anda akan kebingungan menentukan tempat ataupun fasilitas yang ditawarkan akan semakin mahal jika mendekati waktu liburan.

Berikut ada beberapa tips memilih paket liburan hemat yang bisa Anda ketahui :

1. Mencari melalui media online

Salah satu tips memilih paket liburan hemat adalah mencari melalui media online. saat ini sangat mudah untuk mencari paket liburan hemat yang sedang Anda butuhkan. Di media online, banyak sekali penawaran paket liburan sesuai dengan yang Anda inginkan. Namun, Anda tetap harus teliti dalam memilih paket liburan tersebut. Pilihlah paket liburan yang berstatus legal dan memiliki banyak pengalaman dalam menjalankan paket liburan. Jangan sampai Anda salah memilih paket liburan yang akan Anda gunakan nantinya. sebagai referensi liburan di Bali cek disini.

2. Menentukan harga paket liburan

Tips selanjutnya dalam memilih paket liburan hemat adalah menentukan harga paket liburan. Banyak variasi harga yang ditawarkan setiap paket liburan. Anda bisa membandingkan dan mempertimbangkan harga paket liburan beserta tempat tujuan yang ditawarkan oleh setiap paket tour perjalanan. Anda harus teliti memilih paket yang Anda inginkan. Jangan sampai Anda salah memilih paket liburan yang tujuan wisatanya tidak sesuai dengan yang Anda inginkan. salah satu paket hemat klik disini.

3. Menentukan hotel

Tips lainnya yang bisa Anda lakukan ketika memilih paket liburan hemat adalah menentukan hotel atau tempat penginapan. Hotel atau penginapan ini biasanya sudah dalam satu paket liburan yang sudah Anda pilih sebelumnya. Pilihlah hotel atau penginapan yang aman, nyaman, dan bersih untuk tempat Anda beristirahat setelah seharian melakukan wisata. Tidak perlu Anda memilih hotel atau penginapan yang serba mahal dan mewah. Jika hotel atau penginapan tersebut nyaman, Anda sudah dapat beristirahat dengan tenang dan nyaman untuk mengistirahatkan badan.

4. Menentukan tanggal berlibur

Jika Anda sudah menentukan paket liburan hemat, Anda bisa menentukan tanggal berlibur. Tanggal berlibur ini dapat Anda sampaikan pada pihak pemilik paket liburan Anda. Pihak pengelola tour akan mengatur jadwal liburan Anda sebaik mungkin agar perjalanan wisata berjalan dengan lancar. Jika Anda ingin mengubah tanggal berlibur, segera hubungi pihak pengelola wisata agar jadwal bisa diatur kembali dengan baik. Jangan memberitahukan perubahan jadwal liburan secara mendadak agar pihak tour tidak kebingungan mencarikan solusi untuk perubahan jadwal yang Anda buat.

sumber  : http://www.kompasiana.com/bang-ngangan/tips-memilih-paket-liburan-hemat_5535a3976ea8344e11da4305

Wednesday, July 22, 2015

Tagline Festival Nusa Penida 2015 "Enjoy The Blue Paradise". Apa Maknanya?


nyamenusanet.blogspot.com - Pemerintah Kabupaten Klungkung pada 2 s/d 4 Oktober 2015 mendatang sedianya kembali mengadakan promosi pariwisata dengan melakukan kegiatan Festival Nusa Penida 2015, bertempat di pulau Lembongan. Kegiatan yang untuk kedua kalinya ini bertemakan bahari dengan tagline "Enjoy The Blue Paradise". Akan diadakan berbagai kegiatan yang menampilkan budaya, alam, spiritual Nusa Penida yang bernuansakan Bahari.

"Enjoy The Blue Paradise" Artinya sebagai Pulau yang memiliki samudera yang biru dengan sejuta keanekaragaman hayatinya, Nusa Penida memikat wisatawan untuk berkunjung. Karena Nusa Penida sebagai suatu pulau yang digadang-gadang sebagi surga baru banyak memiliki potensi wisata. Salah satu potensi wisata terbesar di Nusa Penida adalah Potensi bahari. Ini bukan tanpa alasan, tapi faktanya telah melalui serangkaian penelitian dan kajian mendalam potensi bahari Nusa Penida beraneka ragam dan luas.

Bukti Nusa Penida memiliki potensi keanekaragaman hayati yang besar, ditandai dengan pada Senin, 9 Juni 2014 oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sharif C. Sutarjo menetapkan Nusa Penida sebagai Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Nusa Penida.
KKP Nusa Penida memiliki 296 Jenis Karang dengan luas 1600 hektar, 13 jenis mangrove dengan luas 230 hektar, 567 jenis ikan dengan 5 diantaranya jenis ikan baru, ada satwa endemik seperti parimanta, Mola-mola, penyu hijau, penyu sisik dan kawasan pertanian rumput laut. Kawasan Nusa Penida telah di zonasi menjadi zona inti (pemijahan), zona perikanan, zona pertania rumput laut, zona suci.

Dengan ditetapkan Nusa Penida menjadi KKP berarti perairan Nusa Penida telah diakui oleh pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten untuk bersama-sama berkomitmen menata dan mengelola KKP ini, baik dari segi anggaran, regulasi maupun pengawasannya. Dengan ditata dan dikelola kawasan perairan Nusa Penida, diharapkan bisa menjadikan kesejahteraan bagi masyarakat secara berkelanjutan.

Pengelolaan dan penataan yang secara berkelanjutan untuk kesejahteraan rakyat dalam bidang bahari biasa disebut "blue ekonomi". Sehingga Blue Ekonomi sejalan dengan tagline "Enjoy The Blue Paradise" sebagai suatu sorga biru berdampak blue ekonomi.

sumber :  https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1109805965716082&set=a.781830698513612.1073741835.100000600662220&type=1&theater

Jasa Penyewaan Sepeda Motor Metic di Denpasar Bali.

Sunday, July 12, 2015

Hindu Penyembah Patung?????

Diskusi penuh makna Filosopi :

Salim : Bro…ngapain kemarin aku lihat kamu sembahyang di depan patung ?

Sindu : Ya sembahyang pada Tuhan bro?

Salim : Bener Tuhan mu kaya patung itu ?

Sindu : ha ha ha…itu symbol Tuhan Bro. Setiap symbol pasti mengandung makna. Dan pasti ada unusr seni disana. Unsur seni menimbulkan kedamaian.

Salim : Kenapa Tuhan kamu bisa berwujud ini dan itu ? kalau di keyakinanku itu namanya Berhala. Artinya menyembah selain Tuhan yang aku sembah disebut dengan Berhala dan itu Musyrik. Hukumnya haram, nanti kamu bisa masuk neraka.

Sindu : ha ha ha… Manusia itu menggemari symbol bro…Bendera merah putih yang ada di depan rumahmu , apa hanya sekedar selembar kain berwarna ? emang kamu berani menginjak-injak kain tersebut ?

Salim : Ya enggak lah. masak aku nginjek symbol Negara yang aku cintai. Emang Tuhan bisa disimbolkan ?

Sindu : ne ada kertas putih kosong. Sekarang aku buat aksara atau tulisan nama Tuhan kamu. Nah sekarang beranikah kamu menginjaknya ?

Salim : wekkk,,,ya enggak lah. Nanti aku kena azab…

Sindu : Gini Bro,,,Hindu menyadari kecerdasan orang tidak sama. Jika mengajari anak TK berhitung, diperlukan lidi, batu,jari tangan dan alat bantu lainnya. Beda dengan mengajari Mahasiswa yang mungkin sudah tidak memerlukan alat bantu. Begitu juga dalam agamaku. Simbol dalam wujud patung diperlukan bagi para pemula dan tidak diperlukan lagi bagi yang sudah level lebih tinggi.

Salim : Kalau dalam keyakinanku itu larangan keras …tidak diperkenankan.

Sindu : Bahan untuk membuat patung seperti kayu, pasir, dan batu adalah ciptaan Tuhan. Masak sekarang Tuhan cemburu ama ciptaanNya sendiri. Emang ada Tuhan cemburu kaya gitu ?

Slim : Apa bisa Tuhan masuk dalam patung ? Sindu : Karena Tuhan maha kuasa dan maha berkehendak, apa sulitnya Tuhan masuk ke dalam benda ciptaan manusia ? Kalau Tuhan tidak bisa masuk ke dalam benda ciptaan manusia, berarti Tuhan kalah dong ama manusia ?

Salim : he he he ,,,,,Kenapa ada bentuk patung ini dan itu bro ?

Sindu : sampai saat ini belum ada wujud patung dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, atau patung dari Brahman karena beliau sifatnya Acintya (tak terpikikan dan tak terwujud). Yang ada adalah patung dari sinar suci Tuhan/fungsi Tuhan yang disebut dengan Dewa.
Salim : kenapa harus menyembah Dewa ? kenapa tidak langsung Ida Sang Hyang Widhi aja mas bro ?

Sindu : mencapai yang tak terpikirkan sangat sulit bagi kita yang terbatas ini. Sehingga kita membutuhkan symbol dan makna dari fungsi Tuhan itu sendiri.

Salim : Apakah Dewa itu Tuhan/ Ida Sang Hyang Widhi juga ?
Sindu : Ya. aku bisa analogikan hal tersebut dengan Energi. Energi yang murni dan kosong tidak bisa diukur dengan rumus apapun. Kemudian Energi itu berubah menjadi energy listrik kemudian berubah lagi menjadi energy gerak atau berubah menjadi energy panas. Dengan perubahan tersebut, kemudian energy itu dapat kita ukur, lihat dan kita rasakan. Apakah perubahan2 itu bukan lagi disebut energy?
Salim : Ya aku mulai bisa pahami alurnya.

Sindu : ketika Tuhan mulai berfungsi sebagai pencipta ia disebut Brahma dan ketika mulai memelihara Ia disebut dengan Wisnu dan ketika mulai melebur Ia disebut dengan Siwa. MAnusia aja bisa punya banyak nama sesuai profesinya . Masak Tuhan yang tak terbatas kalah dengan manusia dan hanya punya satu nama ???

Salim : apakah ada bener wujud-wujud spt yang digambarkan dalam patung ?

Sindu : Patung Dewa –Dewi di India dan di Bali sangat berbeda bentuknya. Itu menandakan bahwa fungsi Tuhan yang disebut dengan Dewa berasal dari kata Div yang artinya sinar. Sinar inilah yang digambarkan sesuai dengan fungsi Beliau.

Salim : oke aku sudah mulai paham, ternyata pemahamanku akan symbol masih terlalu dangkal. Sampai jumpa. Nanti aku akan bertanya lagi.

Semoga bermanfaat........Bersambung.

Tulisan ini dikutif dari status FB # Robert Kusuma

Wednesday, July 8, 2015

Ini Informasi Lengkap Tentang Rencana Festival Nusa Penida 2015


nyamenusanet.blogspot.com - "Saya minta Festival Nusa Penida 2015 mempunyai target yang jelas. Sehingga mampu memberikan output dan outcome yang jelas pula bagi masyarakat, pinta Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta. Lebih lanjut I Nyoman Suwirta juga mengatakan bahwa Festival Nusa Penida 2014 telah mampu meningkatkan kunjungan pariwisata ke Nusa Penida. "Kunjungan wisatawan ke Nusa Penida tidak mungkin sebanyak sekarang khususnya di Nusa Gede, bila tidak ada festival 2014, imbuhnya. 


Rapat Persiapan
Pernyataan Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta tersebut ia sampaikan ketika rapat koordinasi terbatas (rakortas) diruang rapat Kantor Bupati Rabu, 8 Juli 2015. Nampak hadir Plt. Sekda IB. Sudarsana, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata I Wayan Sujana, Kepala Bappeda I Putu Winastra, Kadis DPPKA IGN Putra, Kabag Humas I Wayan Parna dan sejumlah team yang merencanakan kegiatan Festival Nusa Penida 2015.

Pada sesi pemaparan rencana Festival Nusa Penida 2015, I Nyoman Widana menjelaskan Festival 2015 diadakan tanggal 2 Oktober s/d 4 Oktober 2015 di Lembongan, Nusa Penida. Dipilihnya waktu tersebut karena masih momentum high season. "2 Oktober s/d 4 Oktober 2015 tamu masih ramai-ramainya di Lembongan, sehingga itu waktu dan tempat yang tepat untuk berpromosi, jelas Nyoman Widana.

Lebih lanjut Nyoman Widana menjelaskan tema Festival Nusa Penida 2015 adalah bahari, mengingat potensi pariwisata Nusa Penida terbesar adalah bahari terlebih telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi perairan Nusa Penida. Tagline Festival Nusa Penida 2015 adalah "enjoy the blue paradise". Maksudnya adalah Festival Nusa Penida 2015 mempersilakan para wisatawan untuk menikmati samudera biru Nusa Penida yang memikat sebagai sorga baru.

Dalam Festival Nusa Penida 2015 akan diadakan berbagai kegiatan, diantaranya pawai ogoh-ogoh satwa laut, pementasan massal tari khas Nusa Penida, live music, pameran UMKM, touring snorkeling dan mangrove, kegiatan bersih pantai, transpalantasi terumbu karang, pendidikan alam bahari, lomba perahu nelayan, tari rejang dewa massal dilaut, lomba busana bali touris, lomba surfing, lomba "ngeles tali dan mengikat rumput laut, lomba megolok sampan, lomba photography dan serangkaian acara pembukaan dan penutupan yang sedianya dihadiri menteri Pariwisata.

Pada kesempatan itu Kadis Budpar sebagai leading sektor Festival Nusa Penida 2015 mengatakan bahwa dinas kebudayaan dan pariwisata akan segera mengadakan rapat tindak lanjut. "Kami akan segera menindaklanjuti hasil rakortas ini dengan berbagai unsur yang terlibat, sehingga Festival Nusa Penida 2015 bisa berjalan dengan baik, ungkap I Wayan Sujana Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Klungkung.
 
Sumber : http://sukadanawayan.blogspot.com/2015/07/ini-informasi-lengkap-tentang-rencana.html

Tuesday, July 7, 2015

Info Tarif Rental atau Penyewaan Sepeda motor di Denpasar Bali

www.nyamenusanet.blogspot.com - Kami nyamenusanet.blogspot.com menyewakan sepeda motor khusus metic di Denpasar Bali, Pelayanan kami Ramah Siap antar jemput 24 jam selama masih ada di area Denpasar seperti Hotel, Bandara, Terminal, Tempat kos atau Tempat-tempat rekreasi di sekitar Denpasar kota.

Tarif Penyewaan dan Sepeda Motor yang Ready di nyamenusanet :

Beat FI CW :
Tarif : @60rb minimal 2hr, @50rb untuk mingguan.

Pasilitas : 2 Helm SNI, Jas Hujan, Free Antar Jemput 24 jam.


Vario CW Putih:
Tarif : @60rb minimal 2hr, @50rb untuk mingguan. Khusus Bulanan 800rb.

Pasilitas : 2 Helm SNI, Jas Hujan, Free Antar Jemput 24 jam.


Vario CW Merah:
Tarif : @60rb minimal 2hr, @50rb untuk mingguan. Khusus Bulanan 800rb.

Pasilitas : 2 Helm SNI, Jas Hujan, Free Antar Jemput 24 jam.


Vario FI CW :
Tarif : @60rb minimal 2hr, @50rb untuk mingguan.

Pasilitas : 2 Helm SNI, Jas Hujan, Free Antar Jemput 24 jam.

NB : Tidak bisa Sewa Bulanan


Yamaha Mio Sporty :
Tarif : @60rb minimal 2hr, @50rb untuk mingguan. Khusus Bulanan 750rb.

Pasilitas : 2 Helm SNI, Jas Hujan, Free Antar Jemput 24 jam.

NB : harga Spesial Khusus Sewa bulanan

Hubungi Telp/SMS/Watshap/Line 081339339810 atau Pin BB 5E141E84, ga ada format khusus untuk pemesanan cukup sms atau Telp menggunakan bahasa sehari-hari kami akan membalas dan memberikan pelayaan yang terbaik. Sampaikan Kedatangan atau Sepeda Motor mau diantar hari dan jam berapa, berapa butuh Helm dan yang paling penting alamat dimana motor mau diantar.


Penyewa Cukup Memiliki SIM C dan KTP yang masih berlaku (WNI), selama penyewaan Sepeda motor KTP kami pinjem dan akan di kembalikan pada saat pengembalian Sepeda Motor, Kami akan memberikan Nota atau Kuitansi Penyewaan dan STNK Fotocopy sebagai Pengganti STNK asli. Untuk Biaya Sewa di bayar di Muka pada saat Pemakaian Awal Sepeda Motor.

Monday, July 6, 2015

Jejak-Jejak Penjajahan Di Nusa Penida



nyamenusanet.blogspot.com - Sebagai negara yang lama dijajah Belanda dan Jepang, Indonesia menyimpan berbagai peninggalan. Demikian juga di Nusa Penida, sisa-sisa peninggalan Penjajahan Belanda dan Jepang masih jelas bisa ditemui. Sebut saja Gumbleng sebagai penyimpan air hujan banyak ditemui dibeberapa Desa. Goa Jepang, sisa kapal yang karam, pabrik pembuatan kapur dan video yang diunggah di youtube ketika Palang merah ke Nusa penida tahun 1945. Sedemikian banyak peninggalan penjajah di Nusa penida, menunjukkan Nusa penida memiliki tempat strategis dalam pertempuran dan ekonomi. Berikut ulasan singkat tentang jejak-jejak peninggalan penjajahan di Nusa Penida :

1. Gumbleng
Gumbleng adalah sebutan sebuah tempat penampungan air hujan yang berbentuk setengah bola. Lebih tepatnya gumbleng bisa disebut juga waduk buatan yang dibuat pada zaman Belanda sebagai penampungan air hujan untuk kebutuhan masyarakat. Gumbleng biasanya di buat wilayah-wilayah perbukitan di Nusa Penida. Gumbleng bisa dijumpai di Desa Tangglad, Ponjok dan beberapa wilayah lainnya. Melihat sedemikian besar perhatian pemerintah Belanda terhadap ketersediaan air di Nusa Penida, patut dipertanyakan komitmen pemerintah Indonesia dalam menyediakan air di Nusa Penida karena sampai saat ini hanya 18% yang teraliri air PDAM. Selebihnya penduduk Nusa Penida membuat tempat penampungan air hujan dirumahnya masing-masing yang mereka sebut cubang.

2. Goa dan Pos Pengintai Jepang(tampak di foto)
Pos pengintai yang dibuat oleh Jepang ini terletak di semenajung Dusun Angkal. Karena secara letak tanjung ini sangat strategis bisa memantau pergerakan kapal-kapal musuh yang melintas Bali-Lombok. Disini masih bisa dijumpai lorong berisi moncong meriam yang sebagian orang menyebutnya tembus sampai ke Dusun Celagilandan. Didusun Celagi Landan ada goa-goa persembunyian yang kini sudah tertutup pepohonan. Di Teluk celagi Landan ini adalah teluk yang dipilih penjajah Jepang untuk berlabuh. Ini juga sebagai pelajaran bahwa Jepang saja telah memilih Celagi Landan sebagai Dermaga labuh, Pemerintah Indonesia 2 kali gagal membangun Dermaga di kutapang dan Toya Pakeh. Sayang kondisi goa dan meriam ini kurang terawat padahal kalau dipelihara bisa menjadi media pendidikan khususnya pendidikan sejarah bagi anak-anak siswa. Kini dilokasi ini dibangun pos pemantau angkatan Laut TNI.

3. Sisa Kapal Karam
Kapal karam yang kini berupa onggokan besi ini sekarang berada diperairan dusun semaya suana. Kapal ini menurut pelaku sejarah yang ditanya Pekak Rening mengatakan itu kapal Jepang yang ia sebut Pong ( mungkin dia maksud Nipon ) kalah melawan pasukan Sekutu. Banyak bangkai Pong yang tergeletak disini dulu. Sebelum kalah, Jepang sering mengambil hasil ternak penduduk. Misalnya merampas telur ayam, ayam bahkan babi dan sapi dia rampas. "waktu kapal tenggelam diawali dengan tembakan dan letusan senjata dari laut dan udara itu kira-kira saya berumur 5 tahun, dan diajak sembunyi ke Goa Men Jajar oleh Bapak saya, ujar Pekak Rening dengan bahasa Nusa Penida.

4. Pabrik Pembuat Pamor untuk semen pembangunan di Nusa Penida (tampak di foto )
Pabrik pembuatan pamor ini terletak di Desa Batu Nunggul. Bentuknya seperti rocket NASA yang mau meluncur ke ruang angkasa. Oleh para tokoh tua yang waktu itu sebagai saksi sejarah mengatakan tempat itu adalah tempat pembuatan kapur/pamor. Pamor ini dipergunakan sebagai perekat dalam pembangunan di Nusa Penida oleh penjajahan Belanda. Sejenis pengganti semen untuk membuat Gumbleng, pembuat Goa dll. Ini semakin menunjukkan perhatian yang besar terhadap pembangunan di Nusa Penida.

5. Video Youtube Palang Merah ke Nusa Penida 1945
Video yang diunggah ke Youtube ini memperlihatkan kunjungan Palang Merah untuk melakukan pengobatan ke penduduk Nusa Penida. Mereka berangkat dari Kusamba dan Turun di Mentigi. Penduduk antusias berobat dan sebagai imbalan penduduk memberikan anggota palang merah dengan kelapa muda, ayam dan hasil bumi lainnya. ini videonyahttps://www.youtube.com/watch?v=LJlbl3-nlv0
Dari jejak-jejak Sejarah di Nusa Penida bisa disimpulkan Nusa penida sebagai kawasan strategis yang juga diperebutkan. Berikutnya bukti-bukti sejarah ini sebagai sedemikian besar perhatian Belanda terhadap pembangunan Nusa Penida walaupun ada perampasan. Ketiga tempat itu terbelengkai bahkan banyak penduduk Nusa Penida belum mengetahuinya sehingga perlu dipublikasikan dan dilestarikan

Sumber : http://sukadanawayan.blogspot.com/2015/07/jejak-jejak-penjajahan-di-nusa-penida.html

Thursday, June 11, 2015

Tradisi Unik yang Hanya ada di Pulau Dewata Bali

Nyamenusanet.blogspot.com - Bali memiliki banyak berbagai warisan budaya leluhur yang masih tertanam dan melekat erat di masyarakat Bali itu sendiri, juga berbagai tradisi unik yang masih dipegang teguh di kalangan masyarakat. Budaya dan tradisiyang ada memiliki ciri khas tersendiri di masing daerah, desa maupun banjar yang ada di Bali. Memiliki kekayaan budaya yang beragam tentunya merupakan suatu tugas masyarakat untuk melestarikannya, tidak tergilas atau bergeser karena pengaruh dunia modern saat ini.

Unsur-unsur Budaya yang di miliki Bali adalah; musik seperti berbentuk gamelan, rindik, jegog dan genggong,seni tari seperti tari barong, tari kecak, pendet, gambuh, joged dan banyak lagi yang lainnya, bali juga memiliki bahasa dan pakaian adat daerah sendiri dan dari segi religi mayoritas penduduknya beragama hindu.

Budaya dan tradisi yang unik ini , membuat salah satu penyebab bali menjadi daerah tujuan wisata, berikut beberapa budaya dan tradisi unik yang masih dijaga kelestariannya:

Ngaben

Ngaben

Ngaben adalah upacara Pitra Yadnya, rangkain upacara Ngaben salah satunya prosesi pembakaran mayat yang bertujuan untuk menyucikan roh leluhur orang sudah meninggal. Tradisi ini masih dilakukan secara turun-temurun oleh hampir semua masyarakat Hindhu di Bali. Menurut Agama Hindhu terutama di Bali, tubuh manusia terdiri dari badan halus dan badan kasar juga karma. Badan kasar terdiri dari 5 unsur yaitu zat padat, cair, panas, angin dan ruang hampa, lima elemen ini disebut Panca Maha Bhuta, pada saat meninggal lima elemen ini akan menyatu kembali ke asalnya, dan badan halus yang berupa roh yang meninggalkan badan kasar akan disucikan pada saat upacara Ngaben. Dan karma/ hasil perbuatan yang dilakukan selama hidup, akan selalu melekat dan akan berpengaruh kepada kehidupan selanjutnya dan saat reinkarnasi. Kata Ngaben berasal dari kata beya yang artinya bekal dan ngabu yang berarti abu, untuk membuat sesuatu menjadi abu diperlukan api, dan dalam ajaran agama Hindhu yang mempunyai kekuatan sebagai dewa Api adalah Brahma. Jadi upacara Ngaben sendiri adalah proses penyucian roh dengan cara dibakar menggunakan api agar bisa dapat kembali ke sang pencipta, api penjelmaan dari Dewa Brahma bisa membakar semua kekotoran yang melekat pada jasad dan roh orang yang telah meningggal. upacara ngaben dianggap sebagai simbolis pengantar atma/ jiwa ke alam pitra atau baka. Proses pengantaran atma ke alam pitra merupakan prinsip utama yang slalu dituangkan melalui symbol berupa upacara yang disebut Ngaben, proses ini merupakan prinsip pertama dalam ontologi upacara ngaben. Upacara ngaben dilaksanakan beberapa hari setelah orang tersebut meninggal, upacara ini bisa dilakukan secara perorangan, sesama satu keluarga besar, satu banjar ataupun satu desa ini sesuai dengan tingkat kemampuan ekonomi seseorang, adat dan tradisi desa setempat di mana orang tersebut meninggal, sehingga tubuh orang yang meninggal harus dikubur terkebih dahulu menunggu beberapa tahun berikutnya dan menentukan hari baik yang telah ditentukan oleh Pendeta yang akan memimpin upacara,.Upacara ini biasanya dilakukan dengan semarak, tidak ada isak tangis, karena di Bali ada suatu keyakinan bahwa kita tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal karena itu dapat menghambat perjalanan sang arwah menuju tempatnya.

Megibung

Megibung

Megibung, adalah merupakan salah satu tradisi warisan leluhur, dimana merupakan tradisi makan bersama dalam satu wadah. Selain makan bisa sampai puas tanpa rasa sungkan, megibung penuh nilai kebersamaan, bisa sambil bertukar pikiran, bersenda gurau, bahkan bisa saling mengenal atau lebih mempererat persahabatan sesama warga. Makan bersama atau megibung ini, dalam setiap satu wadah terdiri dari 5-8 orang, memang merupakan wujud kebersamaan tidak ada perbedaan antara laki dan perempuan juga perbedaan kasta ataupun warn, semua duduk berbaur dan makan bersama, tapi pada perkembangan berikutnya antara laki dan perempuan dipisahkan, tapi kalu masih dalam satu keluarga ataupun tetangga, mereka memilih bergabung.Tradisi ini masih tertanam kuat di daerah Karangasem Bali. Tradisi megibung ini dikenalkan oleh Raja Karangasem yaitu I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem sekitar tahun 1614 Caka atau 1692 Masehi. Ketika pada saat itu, Karangasem dalam ekspedisinya menaklukkan Raja-raja yang ada di tanah Lombok. Ketika istirahat dari peperangan, raja menganjurkan semua prajuritnya untuk makan bersama dalam posisi melingkar yang belakangan dikenal dengan nama Megibung. Bahkan, raja sendiri konon ikut makan bersama dengan prajuritnya.
Megibung dimulai dari masak masakan khas traditional Bali secara bersama-sama, baik itu nasi maupun lauknya. Setelah selesai memasak, warga kemudian menyiapkan makanan itu untuk disantap. Nasi putih diletakkan dalam satu wadah yang disebut gibungan, sedangkan lauk dan sayur yang akan disantap disebut karangan. Tradisi megibung ini dilangsungkan saat ada Upacara Adat dan Keagamaan di suatu tempat, terutama di daerah Karangasem, misalnya dalam Upacara yadnya seperti pernikahan, odalan di pura, ngaben, upacara tiga bulanan, dan hajatan lainnya. Pada kegiatan ini biasanya yang punya acara memberikan undangan kepada kerabat serta sanak saudaranya guna menyaksikan prosesi kegiatan upacara keagamaan tersebut. Sehingga prosesi upacara dapat berlangsung seperti yang diharapkan.
Ada beberapa etika yang perlu diperhatikan saat acara megibung, sebelum makan kita harus cuci tangan terlebuh dahulu, tidak menjatuhkan remah/ sisa makanan dari suapan , tidak mengambil makanan disebelah kita, jika salah satu sudah merasa puas dan kenyang dilarang meninggalkan temannya, walaupun aturan ini tidak tertulis tapi masih diikuti peserta makan megibung.
Gebug Ende

Gebug Ende

Gebug berarti memukul dengan sekuat tenaga dengan tongkat rotan (penyalin) sepanjang 1,5 – 2 meter dan Ende berarti tameng yang digunakan untuk menangkis pukulan. Gebug Ende ini ada unsur seni, seperti seni tari yang dipadukan dengan ketangkasan para penarinya memainkan tongkat dan tameng, dimana saat atraksi ini dilakukan, diiringi dengan iringan musik gamelan, yang memacu semangat para penari untuk saling memukul, menhindar dan menangkis. Desa Seraya terletak sekitar 15 km dari objek wisata Candidasa, atau sekitar 2,5 jam perjalanan dengan kendaraan dari bandara Ngurah Rai.
Saat Gebug Ende berlangsung bukan hanya untuk memperlihatkan ketangkasan saja, tapi ada nilai-nilai sakralnya yang dikeramatkan penduduk setempat, tarian Gebug merupakan kesenian klasik yang digelar setiap musim kemarau dengan tujuan untuk mengundang turunnya hujan, ritual ini yang diyakini dapat menurunkan hujan, dimainkan oleh dua orang lelaki baik dewasa maupun anak-anak yang sama-sama membawa ende dan penyalin. Sebelum Gebug Ende berlangsung terlebih dahulu diadakan ritual dengan banten atau sesaji, agar permohoanan terkabul. Setelah siap dua pemain yang dilakukan oleh anak-anak maupun lelaki dewasa, dengan pakaian adat Bali tanpa memakai baju, akan saling serang yang dipimpin oleh wasit (saye), antara dua penari di tengah-tengah di batasi oleh tongkat rotan. Sebelumnya wasit memberi petunjuk dan ketentuan daerah mana saja yang bisa diserang.
Tradisi Gebug Ende merupakan warisan budaya leluhur yang memang diyakini dapat menurunkan hujan. Menurut kepercayaan setempat, hujan akan turun apabila pertandingan mampu memercikan darah. Semakin banyak maka akan semakin cepat hujan akan turun. Tidak ada waktu tertentu dalam permainan tersebut. Yang jelas permainan akan berakhir bila salah satu permainan telah terdesak. Tidak ada kata dendam setelah itu. Tradis ini memang sudah cukup terkenal, kalau anda mau wisata di Bali dan ingin menyaksikannya anda coba berkunjung ke daerah karangasem, belahan Timur pulau Bali.

Mekare

Mekare – kare atau Perang Pandan

Salah satu desa Bali Aga yang masih mempertahankan pola hidup secara tradisional ada di kabupaten paling Timur pulau Bali, yaitu Karangasem, memiliki tradisi dan prosesi unik perang pandan yang juga dikenal dengan nama mekare-kare atau mageret pandan. Tradisi ini dirayakan di Desa Tenganan Dauh Tukad, lokasinya sekitar 10 km dari objek wisata Candidasa, 78 km dari Kota Denpasar, bisa ditempuh sekitar 90 menit dengankendaraan bermotor ke arah timur laut dari Ibu Kota Bali.Sebelum prosesi perang pandan dimulai, warga Tenganan melakukan ritual berkeliling desa.
Selain tradisi unik perang pandan yang merupakan warisan budaya leluhur, Desa Tenganan mempunyai hasil karya seni yang sangat cantik dan indah yaitu kain tenun gringsing yang proses pembuatanya sangat rumit, dibuat dengan memakan waktu yang cukup lama dan warna alami dari tumbuhan. Memang Tenganan sampai sekarang masih mempertahankan tradisi-tradisi yang diwariskan, seperti tata cara kimpoi harus sesama warga setempat, besar, bentuk dan letak bangunan serta pekarangan, juga letak pura dibuat dengan mengikuti aturan adat yang secara turun-temurun dipertahankan, sehingga Tenganan akan mejadi objek untuk pengembangandesa wisata.
Prosesi perang pandan atau mekare-kare di Tenganan merupakan upacara persembahan untuk menghormati para leluhur dan juga Dewa Indra yang merupakan Dewa Perang, yang bertempur melawan Maya Denawa seorang raja keturunan raksasa yang sakti dan sewenag-wenang, yang melarang rakyatnya menyembah Tuhan. Keyakinan beragama di Tenganan berbeda dengan Agama Hindhu lainnya di bali, tidak mengenal kasta dan meyakini Dewa Indra sebagai dewa Perang dan dewa dari segala Dewa. Untuk menhormati Dewa Indra mereka melakukan upacara perang Pandan.
Upacara perang pandan ini, memakai senjata pandan berduri yang perlambang sebuah gada yang dipakai berperang, perang berhadapan satu lawan satu dan diikuti oleh para lelaki baik itu anak-anak, dewasa maupun orang tua. Upacara perang pandan dirayakan pada bulan ke 5 kalender bali, selama 2 hari, setiap pertarungan berjalan singkat sekitar 1 menit dilakukan bergilir selama 3 jam, walaupun akhirnya mereka sampai mengeluarkan darah karena tertancap duri pandan, setelah perang usai mereka bersama-sama membantu satu dan lainnya mencabuti duri pandan dan meberi obat berupa daun sirih dan kunyit, sama sekali tidak meninggalkan kesan permusuhan.
Omed-omedan

Omed – Omedan atau ciuman masal

Tradisi omed-omedan ataupun med-medan yang berarti tarik-menarik dalam bahasa Indonesia, ini diikuti oleh pemuda dan pemudi yang belum menikah, berumur antara 17-30 tahun, med-medan atau tarik-menarik diikuti adegan berciuman antara satu pemuda dan pemudi.Tradisi ini memang tergolong sangat unik dan membuat kita penasaran, prosesi ini hanya dirayakan sehari setelah upacara Nyepi atau pada hari Ngembak Geni, tanggal 1 pada tahun Baru Caka kalender Bali. Tradisi unik ini dirayakan di desa Sesetan, Denpasar Selatan, Denpasar. Prosesi omed-omedan ini di mulai dari acara persembahyangan bersama, kemudian dibagi menjadi 2 kelompok pemuda dan pemudi yang saling berhadapan, saling tarik-menarik, berpelukan dan berciuman ditonton oleh ribuan warga, bagi yang tidak berhasil mencium pasangannya dihadiahi siraman air sehingga menambah keriuhan suasana. Jika anda sedang wisata ataupun liburan ke Bali, coba saja saksikan tradisi unik ini, hanya sekitar 15 menit dengan kendaraan dari bandara.
Sesuatu yang unik tentunya ada kisah yang melatarbelakanginya. Konon pada saat itu, ada sebuah kerajaan kecil di wilayah Denpasar Selatan, namanya Puri Oka, digelar permainan med-medan atau terik menarik antara pemuda dan pemudi, karena saking gembira dan serunya permainan, acara tarik menarik berubah menjadi rangkul merangkul, sehingga situasi menjadi gaduh. Raja yang kala itu sakit mendengar kebisingan ini menjadi marah, dengan kondisi yang lemah raja keluar melihat warganya,namun melihat adegan seperti ini, amarah raja hilang dan sakitnya hilang dan pulih seperti sedia kala, maka dari itu raja mengeluarkan titah, agar upacara ini dilaksanakan setiap tahunnya yaitu pada hari ngembak geni.
Di tengah kehidupan Kota Denpasar yang sudah modern, tradisi unik warisan leluhur ini yang diwariskan sekitar tahun 1900-an masih juga dirayakan sampai sekarang ini. Sesuai dengan adat Timur yang masih memegang etika, tentunya tidak semua masyarakat Bali bahkan warga Sesetan yang setuju dengan tradisi ini, tradisi ini pernah dihentikan, namun Namun, tak lama kemudian, terjadi perkelahian 2 ekor babi di pelataran Pura, yang amat seru dan anehnya keduanya menghilang begitu saja di tengah perkelahian.Oleh warga setempat, peristiwa itu dianggap sebagai pertanda buruk. Maka, omed-medan pun kembali dilangsungkan.

Mekotek

Mekotek

Gerebek Mekotek atau lebih dikenal dengan Mekotek merupakan salah satu tradisi di Bali yang hanya ada di desa Munggu, kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Lokasinya tidak begitu jauh dari objek wisata Tanah Lot.Perayaannya tepat pada Hari Raya Kuningan atau 10 hari setelah Hari Raya Galunagn. Pelaksanaan upacaraMekotek pada walnya diselenggarakan untuk menyambut armada perang kerajaan Mengwi yang melintas di daerah Munggu yang akan berangkat ke medan laga, juga dirayakan untuk menyambut pasukan saat mendapat kemenangan perang dengan kerajaan Blambangan di Pulau Jawa. Dulu pada jaman kolonial Belanda tradisi ini pernah ditiadakan, tapi kemudian terjadi bencana, tiba-tiba 11 orang meninggal di kalangan warga Munggu, kemudian melalui perundingan yang alot dengan pihak kolonial, perayaan ini bisa kembali dirayakan sampai sekarang ini.
Perayaan mekotek ini dulunya menggunakan tombak dari besi, yang memberikan semangat pasukan ke atau dari medan perang, namun seiring perubahan waktu dan untuk menghindari peserta terluka, maka tombak diganti dengan tongkat dari pulet yang sudah dikuliti yang panjangnya sekitar 2 – 3.5 meter. Perayaan di Hari raya Kuningan, peserta berpakaian pakaian adat madya, berkumpul di Pura Dalem Munggu, hampir seluruh warga yang terdiri 15 banjar dari umur 12 – 60 tahun ikut merayakannya. Kemudian tongkat kayu diadu sehingga menimbulkan bunyi “tek tek” di kimpulkan sehingga membentuk sebuah kerucut/ piramid, bagi yang punya nyali ataupun yang mungkin punya kaul naik kepuncuk kumpulan tongkat kayu dan berdiri diatasnya seperti komando yang memberikan semangat bagi pasukannya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh kelompok yang lain, membentuk tongkat seperti kerucut dan nantinya akan dipertemukan antara satu dengan yang lainnya. Komando yang berdiri diatas kumpulan tongkat akan memebri komando layaknya panglima perang dan menabrakkanya dengan kelompok lain, dengan diiring sebuah gamelan sehingga memacu semangat peserta upacara. Walupun sedikit membahayakan tepi memang cukup menyenangkan, tidak jarang yang terjatuh tidak bisa sampai puncak, tapi semua gembira, senang, tidak ada amarah, inti lain yang dapat dipetik dari tradisi Grebek Mekotek atau perang kayu, perang tak selalu menyebabkan permusuhan dan korban jiwa.

Trunyan

Pemakaman di Trunyan

Keunikan tradisi pemakaman mayat di Desa Trunyan sampai sekarang ini masih mejadi tradisi yang dilakukan secara turun temurun oleh warga setempat. Prosesi orang meninggal di Bali, biasanya dikubur ataupun dibakar. Tapi kalau di desa Trunyan tidak seperti itu, tubuh orang yang sudah meninggal melalui sebuah prosesi dan akhirnya dibungkus dengan kain kapan, dan selanjutnya ditaruh di atas tanah di bawah taru menyan, dikelilingi anyaman dari pohon bambu atau yang disebut ancak saji. Unik bukan…yang cukup aneh juga mayat tidak mengeluarkan bau sedikitpun. jadi kalu kebetulan anda wisata ke Bali dan mengunjungi tempat ini tidak perlu takut dengan bau yang menyengat, karena mungkin bau tersebut sudah diserap oleh Taru/ pohon Menyan yang tumbuh besar di areal pemakaman. Desa Trunyan memang merupakan desa Tua di Bali, yang masih memegang teguh warisan dan tradisi leluhur.
Jika anda melakukan perjalan tour ataupun wisata keliling Bali, kalau dari Denpasar berjarak sekitar 65 km atau sekitar 2 jam perjalanan dengan kendaraan. Sebelum sampai di Desa Trunyan, anda akan ketemu beberapa tempat-tempat menarik yang mungkin bisa anda kunjungi, seperti Ubud, Goa gajah, tampaksiring dan penelokan kintamani tempat menyaksikan keindahan panorama Danau Batur. Dari penelokan anda turun menuju tepi danau batur tepatnya di Desa Kedisan, di sini dibangun dermaga yang diperuntukkan untuk penyebrangan menuju Desa Trunyan. Anda bisa menyewa boat, satu buah boat muat sekitar 7 penumpang, berwisata mengelilingi danau Batur yang indah, kemudian melanjutkan penyebrangan mengunjungi Desa Trunyan.
Trunyan sendiri diambil dari kata Taru dan Menyan, taru artinya pohon dan menyan artinya harum, sehingga pohon yang berbau harum diyakini dapat menyerap bau, sehingga mayat tidak mengeluarkan bau. Konon karena perintah raja, khawatir dengan pohon menyan yang baunya harum dan menyengat hidung, membuat banyak orang yang akan mencarinya, nah untuk menghindari hal ini, maka di bawah pohon ditaruh jenazah-jenazah yang diharapkan mengeluarkan bau busuk, jenazah yang diharapkan akan mengeluarkan bau busuk ternyata tidak mengeluarkan bau sama sekali dan taru menyanpun tidak mengeluarkan bau harum lagi. Dan tradisi ini masih berlangsung sampai sekarang.
Tapi tidak semua jenazah di biarkan di alam terbuka di bawah taru menyan, tempat ini hanya diperuntukkan bagi yang meninggal sudah dewasa, meninggal secara normal dan tidak cacat, untuk jenazah bayi di kubur seperti biasanya di Sema Muda dan jenazah yang cacat, meninggal karena tidak normal karena bunuh diri, dibunuh, kecelakaan dikuburkan di Sema bantas.

Source : http://www.kaskus.co.id/thread/528af101c2cb17c303000003/tradisi-unik-yang-hanya-ada-di-bali/1

Monday, June 8, 2015

"Om Swastyastu" Sudah Pahamkah Anda Apa Maknanya?

cuntaka

nyamenusanet.blogspot.com - Dalam Agama Hindu mengajarkan ketika bertemu dengan sesama menyapa dengan mengucapkan “Om Swastiastu” diharapkan agar dapat membina hubungan yang harmonis dan mempererat rasa persaudaraan dalam pergaulan di masyarakat. Salam ”Om Swastyastu” itu tidak memilih waktu. Ia dapat diucapkan pagi, siang, sore dan malam.
Makna Om Swastiastu

“OM” artinya Tuhan, “SU” artinya baik, “ASTI” artinya ada dan “ASTU” artinya semoga, jadi keseluruhannya berarti SEMOGA SELAMAT ATAS RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Dengan demikian maka pada setiap kegiatan telah dilaksanakan saling doa mendoakan satu sama lain.

Biasanya dalam aksara Latin menggunakan “OM SWASTIASTU” jika dalam Aksara Bali “OM SWASTYASTU” karena jika dalam Aksara Bali jika ‘i’ ketemu ‘a’ maka ada nania yang akan menjadi ‘y’.

Setelah mengucapkan Om dilanjutkan dengan kata ”swasti”. Dalam bahasa Sansekerta kata swasti artinya selamat atau bahagia, sejahtera. Dari kata inilah muncul istilah swastika, simbol agama Hindu yang universal. Kata swastika itu bermakna sebagai keadaan yang bahagia atau keselamatan yang langgeng sebagai tujuan beragama Hindu. Lambang swastika itu sebagai visualisasi dari dinamika kehidupan alam semesta yang memberikan kebahagiaan yang langgeng.

Adapun bentuk asli dari lambang Swastika ialah dua garis vertikal dan horisontal bersilang sama sisi, tegak lurus di tengah- tengah (+), seperti berikut:



Sebagai kreasi seni budaya yang selalu berkembang, Swastika juga mengalami perkembangan sehingga kemudian menjadi berbentuk seperti berikut:



Jadi bisa disimpulkan makna “OM SWASTIASTU” selain merupakan salam juga merupakan sebuah doa. Jika kita saling mengucapkan salam maka sama artinya kita saling mendoakan. Tapi dewasa ini semakin banyaknya kata-kata yang disingkat-singkat, termasuk Om Swastiastu pun disingkat menjadi OSA. Biasanya banyak dilihat ketika broadcast message ucapan hari raya, dan di sosial media pun banyak bisa ditemui.

Jika pendapat kami, singkatan pada salam Om Swastiastu akan dapat mengurangi maknanya sendiri, karena ketika kita mengucapkan OSA, belum tentu mereka yang membacanya akan memahami bahwa OSA adalah Om Swastiastu. Tidak bermaksud untuk menjadi terlihat fanatik tapi jika sudah memahi akan makna dari salam Om Swastiastu yang merupakan sebuah doa, tentu dalam doa diperlukan keikhlasan dan ketulusan. Ketika doa itu disingkat tentu akan tercermin kurangnya keikhlasan dan ketulusan dalam menyampaikan doa.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk semeton. Jika ada penjelasan yang kurang lengkap ataupun kurang tepat. Mohon dikoreksi bersama. Suksma…

Source : http://inputbali.com/budaya-bali/memahi-lebih-dalam-akan-makna-om-swastiastu

Arti dan Makna Pelaksanaan Upacara Ngaben Bagi Umat Hindu

upcara ngaben
Prosesi Ngaben Hindu di Bali
nyamenusanet.blogspot.com - Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, selalu mempunyai tradisi-tradisi yang menarik diketahui. Salah satunya adalah Upacara Ngaben, yang merupakan bagian dari rangkaian upacara Pitra Yadnya.

Ngaben secara umum didefinisikan sebagai upacara pembakaran mayat, tapi dari asal-usul etimologi itu bisa dikatakan kurang tepat, sebab ada tradisi ngaben yang tidak melalui pembakaran mayat. Ngaben sesungguhnya berasal dari kata beya artinya biaya atau bekal, kata beya ini dalam kalimat aktif (melakukan pekerjaan) menjadi meyanin. Kata meyanin sudah menjadi bahasa baku untuk menyebutkan upacara sawa wadhana. Boleh juga disebut Ngabeyain. Kata ini kemudian diucapkan dengan pendek, menjadi ngaben.
Makna dan Tujuan Upacara Ngaben

Secara garis besarnya Ngaben adalah untuk memproses kembalinya Panca Mahabhuta di alam besar ini dan mengantarkan Atma (Roh) ke alam Pitra dengan memutuskan keterikatannya dengan badan duniawi itu. Dengan memutuskan kecintaan Atma (Roh) dengan dunianya, Ia akan dapat kembali pada alamnya, yakni alam Pitra. Kemudian yang menjadi tujuan upacara ngaben adalah agar ragha sarira (badan / Tubuh) cepat dapat kembali kepada asalnya, yaitu Panca Maha Bhuta di alam ini dan Atma dapat selamat dapat pergi ke alam pitra.

Ada sebuah buku yang berjudul ”108 Mutiara Veda” Terbitan tahun 2001, tepatnya di halaman 107, ada tersurat yang dikutip dari: Yajurveda: 40-15. Dalam bukit itu disebutkan bahwa;

"Wahai manusia, badanmu yang dibuat oleh panca mahabhuta akhirnya menjadi abu dan atmanya akan mendapat moksa.

Oleh karena itu, ingatlah nama Tuhan, yaitu AUM, ingatlah nama Tuhan AUM, dan ingatlah perbuatanmu."

Jadi dalam kitab suci veda samhita, dalam hal ini kitab yajurveda ada tersurat bahwa setiap orang (Hindu) yang meninggal mayatnya harus dibuat menjadi abu agar atmanya mencapai moksa. Tapi apakah dengan upacara ngaben langsung bisa mencapai surga atau moksa? Jika menurut kami sepertinya itu belum tentu. Bisa dilihat pada Kutipan dari Yajurveda diatas pada kalimat terakhir. “Ingatlah perbuatanmu” tentunya ketika kita sudah meninggal kita akan mempertanggung jawabkan perbuatan kita semasa hidup. Apakah pantas atau tidaknya untuk mencapai surga ataupun moksa.

Pelaksanaan Upacara Ngaben

Ngaben merupakan upacara yang besar dan tentunya itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Bagaimanakah bagi mereka yang kurang mampu? Agama Hindu fleksibel dan tentunya ada kebijakan-kebijakan mengenai kondisi demikian. Biasanya diadakannya ngaben massal yang tentu dari segi biaya akan lebih mengurangi. Dan dari beberapa penelusuran terhadap berbagai lontar di Bali, ngaben ternyata tidak selalu besar. Ada beberapa jenis ngaben yang justru sangat sederhana. Ngaben-ngaben jenis ini antara lain Mitrayadnya, Pranawa dan Swasta. Namun demikian, terdapat juga berbagai jenis upacara yang tergolong besar, seperti sawa prateka dan sawa wedhana. Berikut Jenis – jenis Ngaben Sederhana :

Mendhem Sawa 

Mendhem sawa berarti penguburan mayat. Di muka dijelaskan bahwa ngaben di Bali masih diberikan kesempatan untuk ditunda sementara, dengan alasan berbagai hal seperti yang telah diuraikan. Namun diluar itu masih ada alasan yang bersifat filosofis lagi, yang didalam naskah lontar belum diketemukan. Mungkin saja alasan ini dikarang yang dikaitkan dengan landasan atau latar belakang filosofis adanya kehidupan ini. Alasannya adalah agar ragha sarira yang berasal dari unsur prthiwi sementara dapat merunduk pada prthiwi dulu. Yang secara ethis dilukiskan agar mereka dapat mencium bunda prthiwi. Namun perlu diingatkan bahwa pada prinsipnya setiap orang mati harus segera di aben. Bagi mereka yang masih memerlukan waktu menunggu sementara maka sawa (jenasah) itu harus di pendhem (dikubur) dulu. Dititipkan pada Dewi penghuluning Setra (Dewi Durga).

Ngaben Mitra Yajna
Ngaben Mitra Yajna Berasal dari kata Pitra dan Yajna. Pitra artinya leluhur, yajna berarti korban suci. Istilah ini dipakai untuk menyebutkan jenis ngaben yang diajarkan pada Lontar Yama Purwana Tattwa, karena tidak disebutkan namanya yang pasti. Ngaben itu menurut ucap lontar Yama Purwana Tattwa merupakan Sabda Bhatara Yama. Dalam warah-warah itu tidak disebutkan nama jenis ngaben ini. Untuk membedakan dengan jenis ngaben sedehana lainnya, maka ngaben ini diberi nama Mitra Yajna. Pelaksanaan Atiwa-atiwa / pembakaran mayat ditetapkan menurut ketentuan dalam Yama Purwana Tattwa, terutama mengenai upakara dan dilaksanakan di dalam tujuh hari dengan tidak memilih dewasa (hari baik).

Pranawa Pranawa

Pranawa Pranawa adalah aksara Om Kara. Adalah nama jenis ngaben yang mempergunakan huruf suci sebagai simbol sawa. Dimana pada mayat yang telah dikubur tiga hari sebelum pengabenan diadakan upacara Ngeplugin atau Ngulapin. Pejati dan pengulapan di Jaba Pura Dalem dengan sarana bebanten untuk pejati. Ketika hari pengabenan jemek dan tulangnya dipersatukan pada pemasmian. Tulangnya dibawah jemeknya diatas. Kemudian berlaku ketentuan seperti amranawa sawa yang baru meninggal. Ngasti sampai ngirim juga sama dengan ketentuan ngaben amranawa sawa baru meninggal, seperti yang telah diuraikan.

Pranawa Bhuanakosa
Pranawa Bhuanakosa merupakan ajaran Dewa Brahma kepada Rsi Brghu. Dimana Ngaben Sawa Bhuanakosa bagi orang yang baru meninggal walaupun pernah ditanam, disetra. Kalau mau mengupakarai sebagai jalan dengan Bhuanakosa Prana Wa.

Swasta
Swasta artinya lenyap atau hilang. Adalah nama jenis ngaben yang sawanya (mayatnya) tidak ada (tan kneng hinulatan), tidak dapat dilihat, meninggal didaerah kejauhan, lama di setra, dan lain-lainnya, semuanya dapat dilakukan dengan ngaben jenis swasta. Walaupun orang hina, biasa, dan uttama sebagai badan (sarira) orang yang mati disimbolkan dengan Dyun (tempayan) sebagai kulit, benang 12 iler sebagai otot, air sebagai daging, balung cendana 18 potong. Pranawa sebagai suara, ambengan (jerami) sebagai pikiran, Recafana sebagai urat, ongkara sebagai lingga hidup. Tiga hari sebelum pengabenan diadakan upacara ngulapin, bagi yang meninggal di kejauhan yang tidak diketahui dimana tempatnya, upacara pengulapan, dapat dilakukan diperempatan jalan. Dan bagi yang lama di pendhem yang tidak dapat diketahui bekasnya pengulapan dapat dilakukan di Jaba Pura Dalem.
Secara umum rangkaian pelaksanaan ritual upacara adat ngaben ini sebagai berikut :
1. Ngulapin, Ngulapin bermakna sebagai upacara untuk memanggil Sang Atma. Upacara ini juga dilaksanakan apabila yang bersangkutan meninggal di luar rumah yang bersangkutan (misalnya di Rumah Sakit, dll). Upacara ini dilaksanakan berbeda sesuai dengan tata cara dan tradisi setempat, ada yang melaksanakan di perempatan jalan, pertigaan jalan, dan kuburan setempat.
2. Nyiramin/Ngemandusin, Merupakan upacara memandikan dan membersihkan jenazah, upacara ini biasa dilakukan dihalaman rumah keluarga yangbersangkutan (natah). Pada prosesi ini juga disertai dengan pemberian simbol-simbol seperti bunga melati di rongga hidung, belahan kaca di atas mata, daun intaran di alis, dan perlengkapan lainnya dengan tujuan mengembalikan kembali fungsi-fungsi dari bagian tubuh yang tidak digunakan ke asalnya, serta apabila roh mendiang mengalami reinkarnasi kembali agar dianugrahi badan yang lengkap (tidak cacat).
3. Ngajum Kajang, Kajang adalah selembar kertas putih yang ditulisi dengan aksara-aksara magis oleh pemangku, pendeta atau tetua adat setempat. Setelah selesai ditulis maka para kerabat dan keturunan dari yang bersangkutan akan melaksanakan upacara ngajum kajang dengan cara menekan kajang itu sebanyak 3x, sebagai simbol kemantapan hati para kerabat melepas kepergian mendiang dan menyatukan hati para kerabat sehingga mendiang dapat dengan cepat melakukan perjalanannya ke alam selanjutnya.
4. Ngaskara, Ngaskara bermakna penyucian roh mendiang. Penyucian ini dilakukan dengan tujuan agar roh yang bersangkutan dapat bersatu dengan Tuhan dan bisa menjadi pembimbing kerabatnya yang masih hidup di dunia.
5. Mameras, Mameras berasal dari kata peras yang artinya berhasil, sukses, atau selesai. Upacara ini dilaksanakan apabila mendiang sudah memiliki cucu, karena menurut keyakinan cucu tersebutlah yang akan menuntun jalannya mendiang melalui doa dan karma baik yang mereka lakukan.
6. Papegatan, Papegatan berasal dari kata pegat, yang artinya putus, makna upacara ini adalah untuk memutuskan hubungan duniawi dan cinta dari kerabat mendiang, sebab kedua hal tersebut akan menghalangi perjalan sang roh menuju Tuhan. Dengan upacara ini pihak keluarga berarti telah secara ikhlas melepas kepergian mendiang ke tempat yang lebih baik. Sarana dari upacara ini adalah sesaji (banten) yang disusun pada sebuah lesung batu dan diatasnya diisi dua cabang pohon dadap yang dibentuk seperti gawang dan dibentangkan benang putih pada kedua cabang pohon tersebut. Nantinya benang ini akan diterebos oleh kerabat dan pengusung jenazah sebelum keluar rumah hingga putus.
7. Pakiriman Ngutang, Setelah upacara papegatan maka akan dilanjutkan dengan pakiriminan ke kuburan setempat, jenazah beserta kajangnya kemudian dinaikan ke atas Bade/Wadah, yaitu menara pengusung jenazah (hal ini tidak mutlak harus ada, dapat diganti dengan keranda biasa yang disebut Pepaga). Dari rumah yang bersangkutan anggota masyarakat akan mengusung semua perlengkapan upacara beserta jenazah diiringi oleh suara Baleganjur (gong khas Bali) yang bertalu-talu dan bersemangat, atau suara angklung yang terkesan sedih. Di perjalan menuju kuburan jenazah ini akan diarak berputar 3x berlawanan arah jarum jam yang bermakna sebagai simbol mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke tempatnya masing-masing. Selain itu perputaran ini juga bermakna: Berputar 3x di depan rumah mendiang sebagai simbol perpisahan dengan sanak keluarga. Berputar 3x di perempatan dan pertigaan desa sebagai simbol perpisahan dengan lingkungan masyarakat. Berputar 3x di muka kuburan sebagai simbol perpisahan dengan dunia ini.
8. Ngeseng, Ngeseng adalah upacara pembakaran jenazah tersebut, jenazah dibaringkan di tempat yang telah disediakan , disertai sesaji dan banten dengan makna filosofis sendiri, kemudian diperciki oleh pendeta yang memimpin upacara dengan Tirta Pangentas yang bertindak sebagai api abstrak diiringi dengan Puja Mantra dari pendeta, setelah selesai kemudian barulah jenazah dibakar hingga hangus, tulang-tulang hasil pembakaran kemudian digilas dan dirangkai lagi dalam buah kelapa gading yang telah dikeluarkan airnya.
9. Nganyud, Nganyud bermakna sebagai ritual untuk menghanyutkan segala kekotoran yang masih tertinggal dalam roh mendiang dengan simbolisasi berupa menghanyutkan abu jenazah. Upacara ini biasanya dilaksakan di laut, atau sungai.
10. Makelud, Makelud biasanya dilaksanakan 12 hari setelah upacara pembakaran jenazah. Makna upacara makelud ini adalah membersihkan dan menyucikan kembali lingkungan keluarga akibat kesedihan yang melanda keluarga yang ditinggalkan. Filosofis 12 hari kesedihan ini diambil dari Wiracarita Mahabharata, saat Sang Pandawa mengalami masa hukuman 12 tahun di tengah hutan

Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi semeton. Jika terdapat penjelasan yang kurang tepat ataupun kurang lengkap. Mohon dikoreksi bersama. Suksma…

Source : http://inputbali.com/budaya-bali/makna-tujuan-upacara-ngaben-dalam-agama-hindu